Prasasti Tugu


Prasasti Tugu
     Prasasti Tugu pertama kali ditemukan secara ilmiah pada 1878 di Kampung Tugu, Cilincing, Bekasi (sejak 1970-an Cilincing masuk ke dalam wilayah DKI Jakarta). Tahun 1911 Prasasti Tugu dipindahkan ke Museum Nasional, dan wujudnya bisa disaksikan sampai saat ini.

     Pada awalnya Prasasti Tugu dijadikan tontonan dan bahkan dikeramatkan warga yang percaya takhayul. Namun sejak dibaca dan diterjemahkan oleh peneliti Belanda, Prof. H. Kern, batu monolit besar berbentuk seperti telur tersebut dipastikan sebagai prasasti yang dibuat pada masa Kerajaan Tarumanagara.

     Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Kronologinya didasarkan kepada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus Prasasti Tugu dan Prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikha, citralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama.

Prasasti tugu
Prasasti Tugu di Museum Nasional

       Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnawarman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai (kanal) Gomati dan Candrabhaga.

      Prasasti Tugu memiliki keunikan, yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

    Para ahli arkeologi menyatakan, prasasti Tugu dibuat pada abad ke-5 Masehi oleh seorang raja Tarumanagara, Purnawarman. Poerbatjaraka menguraikan kata Candrabhaga menjadi dua kata, yakni candra dan bhaga. Kata candra dalam bahasa Sansekerta adalah sama dengan kata sasi dalam bahasa Jawa Kuno.

     Akhirnya nama Candrabhaga diidentikkan dengan kata “Sasibhaga,” yang diterjemahkan secara terbalik menjadi “Bhagasasi”, dan lama kelamaan mengalami perubahan penulisan dan sebutan. Beberapa arsip abad ke-19 sampai awal abad ke-20, menerangkan kata Bekasi dengan “Backassie”, “Backasie”, “Bakassie”, “Bekassie”, “Bekassi”, dan terakhir “Bekasi”.

Transkrip Prasasti Tugu

Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.

Terjemahannya:
     Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang di pepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.

Kepustakaan
Dinas Purbakala R.I. 1964. Laporan Tahunan 1954 Dinas Purbakala Republik Indonesia. Djakarta: Dinas Purbakala.
Djafar, Hasan. “Pemukiman-pemukiman Kuna di Daerah Jakarta dan Sekitarnya.” Makalah pada Diskusi Ilmiah Arkeologi Vi, Jakarta 11-12 Februari 1988. IAAI Komda Jawa Barat.
I Made Sutayasa. l970. “Gerabah Prasedjarah dari Djawa Barat Utara (Kompleks Bun). Makalah pada Seminar Sejarah Nasional II.
J.L.Moens. 1940. “Was Purnawarman van Taruma een Sanjaya?” Dalam TBG, 81.
J. Noorduyn and H.Th.Verstappen. 1972. “Purnawarman’s River-works near Tugu”. Dalam BKI 128:298-307.
Kartakusuma, Richadiana. 1991. “Anekaragam Bahasa Prasasti di Jawa Barat pada Abad ke-5 Masehi sampai ke-16 Masehi: Suatu Kajian tentang Munculnya Bahasa Sunda”. Tesis yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Arkeologi. Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

R.M.Ng.Poerbatharaka. l952. Riwayat Indonesia I. Djakarta: Jajasan Pembangunan.

Sumber: http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/191

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s