Mantra, Salah Satu Artefak Budaya Nusantara


Mantra, Salah Satu Artefak Budaya Nusantara
Mendengar kata “mantra”, apa yang kemudian timbul dalam benak kita? Apakah akan tertuju pada hal-hal klenik atau jimat-magik atau mistis? Pengetahuan kita tentang mantra dipastika akan berkisar pada apa pun yang berhubungan dengan dunia yang penuh jampi-jampi. Namun, apakah dunia mantra itu seperti yang kerap kita bayangkan?
Untuk lebih memahami mantra dan semua korpus yang berkaitan dengannya, tentu langkah pertama yang harus diambil adalah memahami makna mantra secara keseluruhan dan memperhatikan perjalanan mantra dalam sejarah budaya. Sama seperti memahami sejarah candi, kita dapat menelusuri sejarah panjang dari mantra ini, sejak dipraktikkan hingga kegunaannya kini.
Kapan Mantra Lahir?
Kehadiran mantra kembali ramai ketika film sekuel “Harry Potter” diperbincangkan dunia. Dari film itulah, salah satunya, citra mantra atau sihir yang menakutkan mulai berganti. Film yang menyajikan petualangan sejumlah anak dalam melawan sihir jahat dengan menggunakan sihir penangkalnya, memberikan kesan bahwa (ilmu) mantra tak lebih “menyenangkan” daripada sains atau ilmu-ilmu sosial.
Sejak kapan mantra muncul, rupanya tak diketahui pasti. Namun kita bisa menduga bahwa mantra terlahir sejak manusia membutuhkan sesuatu yang berada di luar kemampuan dirinya. Mantra hadir berbarengan dengan kepercayaan manusia terhadap hal-hal gaib seperti roh leluhur, dewa, atau Tuhan.
Sebagai patokan sementara, kita bisa melacak keberadaan mantra zaman dulu dari keberadaan peramal atau ahli nujum atau sihir. Kita tahu bahwa kitab-kitab agama Ibrahim (Yahudi, Nasrani, Islam) menyatakan bagaimana sepak terjang para ahli nujum dalam “menyangkal ketauhidan” Tuhan.
Lalu, kita bisa berpegang pula pada istilah “Abracadabra” yang sering diucapkan pesulap hingga kini, yang bisa membimbing kita akan keberadaan dunia pemantraan. Istilah itu berasal dari kata “abraxas” bahasa Yunani Kuno. Sekte Gnostik di abad ke-2 M percaya bahwa Yesus beradal dari Abraxas dan hidup sebagai “hantu” (phantom) di bumi. Gnostisme (dari kata gnosis, yang berarti “pengetahuan”) sendiri merupakan ajaran dualisme, yang percaya bahwa gabungan kekuatan yang sama, antara baik dan jahat, menguasai dunia. Sejumlah penganut Gnosisme percaya bahwa dunia materi diperintah Tuhan yang menciptakannya, yaitu Rex Mundi (Raja Dunia) yang jahat. Kata Abraxas atau Abrasax atau Abracax diukir pada sebuah batu yang digunakan sebagai jimat oleh pengikut Gnostik. Batu tersebut oleh orang Mesir Kuno diangap sebagai dewa sekaligus setan. Kata Abraxas sendiri mengandung tujuh huruf Yunani, yang artinya 365, yaitu jumlah hari pada tiga tahun berturut-turut dari empat tahun. Abraxas dipercaya memerintah 365 dewa yang masing-masing memiliki satu kebajikan, sehingga setiap hari dalam satu tahun diberikan satu kebajikan khusus.
Keberadaan dukun atau ahli nujum hingga kini masih dianggap sebagai kaum yang istimewa oleh sebagian masyarakat, terutama masyarakat “animisme” dan “dinamisme”. Dalam masyarakat Mentawai atau Dayak, misalnya, kedudukan dukun (dalam bahasa Mentawai disebut sikerei) begitu sentral. Ia bisa berperan sebagai tabib, peramal, juga pemimpin suku. Sikerei akan melafalkan “mantra” terhadap orang yang sakit atau ketika mengundang arwah leluhur atau mengusir roh jahat.
Makna Mantra
Sebagai kata Sansekerta, mantra berasal dari dua kata: man atau manas dan tra atau trai. Man berarti “pikiran” atau “berpikir”, tra berarti “alat” atau “melindungi”. Dengan begitu, secara sederhana, mantra adalah “alat dari pikiran” atau “pikiran yang melindungi”. Pengertian mantra atau mantram yang lebih luas adalah: kata-kata, ungkapan atau sukukata yang secara khusuk dilagukan berulang-ulang dengan konsentrasi yang semakin meningkat.
Dalam KBBI, mantra dikategorikan sebagai: (1) perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dsb); (2) susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.
Menurut ajaran Hindu, mantra adalah kata-kata yang diyakini sebagai wahyu yang diterima oleh manusia pilihan, sebagai alat komunikasi khusus dengan Tuhan atau dewa-dewa yang merupakan manifestasi dari kekuatan-Nya. Karena itu, tak mengherankan bila mantra begitu dikeramatkan dan tak boleh diucapkan oleh sembarang orang yang belum pernah mewinten (disucikan secara ritual). Di samping itu, mantra tak boleh diucapkan di tempat-tempat yang tak pantas. Dengan begitu, mantra bukanlah kreasi manusia, melainkan ciptaan Tuhan sebagaimana yang terekam dalam kitab Veda yang konon tak mengalami perubahan. Maka dari itu, mantra dapat didefinisikan pula sebagai kekuatan kata untuk menyatakan suatu konsep, untuk menggambarkan dewa, mapun menguraikan prosedur mental-spiritual untuk “menghadirkan” dewata atau yang dipersamakan dengan itu.
Ada kata lain yang mirip dengan makna mantra, yaitu kata japa. Kata ini berasal dari kata jap yang berarti “diulang dengan suara lirih, berkomat-kamit, berbunyi berisik, doa diam-diam” (Mac Donell dalam Setyawati). Dengan begitu, japa dapat diartikan sebagai mantra yang diulang, berkomat-kamit. Dengan pengulangan yang cukup sering, kekuatan yang melekat pada mantra dipercaya akan muncul (Walker dalam Setyawati). Ada kemungkinan bahwa kata “jampi” atau “jampa-jampi” berasal dari kata japa ini. Ada pun kata lain yang serupa maknanya dengan mantra adalah kata “aji”, yang berarti teks-teks suci atau formula yang suci dan magis (Zoetmulder dalam Setyawati).
Dari pernyataan-pernyataan di atas, kita dapat membuat definisi lain tentang mantra, yaitu suatu idiom atau kata khusus yang memunyai arti tersendiri. Dan yang pasti, mantra telah menjadi kosakata bahasa Indonesia sejak dulu, sejak pengaruh Sansekerta masuk ke wilayah Nusantara.
Juga, selain kata mantra itu sendiri, kata “tuah” (dalam prasasti atau kitab kuno ditulis “twah”) telah menjadi kosakata tersendiri bagi masyarakat Nusantara. Kehadiran kata tuah, yang menyangkut pada segala sesuatu yang berhubungan dengan keajaiaban atau kesaktian, menunjukkan pula bahwa dunia pemantraan sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
 
Pengaruh Hindu
Mantra, sebagai budaya Hindu, masuk ke Nusantara paling tidak pada abad ke-5 M, ditandai dengan berdirinya Kerajaan Bakulapura/Kutai di Kalimantan dan Tarumanagara di Jawa Barat. Dan sejak abad ke-9, yang ditandai dengan penerjemahan epik seperti Mahabharata ke dalam Jawa Kuno, dunia pemantraan pun makin berkembang. Mantra-mantra berbahasa Sansekerta hingga kini masih digunakan oleh kaum Hindu di Bali dan Jawa—selain digunakan pula bahasa Jawa, Bali, dan lainnya. Pengucapan mantra berbahasa Sansekerta dan Jawa (Kuno dan Baru) masih tetap dipraktikkan dalam upacara adat, misalnya ruwatan dan juga pergelaran lakon wayang.
Kata “AUM” dalam tradisi Hindu dipercaya merupakan kata mantra. Kata ini, menurut Hamengku Buwono X, berasal dari kata OM, yang merupakan turunan dari dua kata alpha dan omega dalam bahasa Latin (alpha berarti awal, omega berarti akhir). AUM nerupakan sabda Tuhan yang menciptakan, melestarikan, dan mentransformasikan mantra Hindu: Asato Ma Sat Gamayo yang artinya “Bimbinglah aku dari dunia maya ke dunia nyata”.
AUM terdiri atas tiga huruf, yaitu A, U, dan M. A adalah simbol untuk Dewa Brahma, wujud Tuhan dalam waktu menciptakan alam semesta. Ketika mengucap huruf ini, mulut kita terbuka. Lalu U adalah simbol Dewa Wisnu, manifestasi Tuhan dalam waktu memelihara dan melindungi alam. Saat mengucapkan huruf ini, posisi bibir diperpanjang seperti sikap melindungi bagian-dalam dari mulut itu sendiri. Sementara huruf M adalah simbol Dewa Siwa, manifestasi Tuhan yang mengembalikan segala ke asalnya. Ketika mengucapkan huruf ini, bibir terkatup rapat sebagaimana asalnya sebelum terbuka.
Setiap mantra dalam Hindu memiliki ciri sebagai berikut:
1.         Dewa yang dipuja dalam mantra yang bersangkutan, misalnya Visnu;
2.         Nama resi yang menerima mantra tersebut, misalnya Vyasadeva;
3.         Jumlah sukukata dalam mantra (akan dibahas di bawah);
4.         Viniyoga, yakni kegunaan atau maksud dan tujuan mantra.
Ada mantra yang bertujuan material yang positif, misalnya untuk kesehatan, rezeki, dsb. Ada pula mantra yang bersifat material-negatif, misalnya kutukan (banyak tercatat dalam Ahtarva-Veda). Ada pula yang bertujuan spiritual murni, misalnya kata-kata Om namo siwaya (Sembah kepada Siwa) atau mahamantra Hare Krisna.
Dalam sastra Sansekerta, misalnya Ramayana dan Mahabharata, mantra sering dikaitkan dengan berbagai astra (senjata gaib). Tokoh Sri Rama dalam Ramayana atau Krisna/Kresna dalam Mahabharata, misalnya, memiliki senjata cakra, panah yang bermata cakram dan mampu melesat memburu musuh mengikuti arah musuh yang dikejarnya, hanya dengan membaca sebuah mantra. Senjata itu pu dapat ditarik kembali hanya dengan ucapan mantra. Untuk menguasai mantra, para kesatria dilatih oleh guru mereka bertahun-tahun sejak kecil, agar mampu melafalkan mantra secara tepat dengan konsentrasi penuh. Bila mantra yang diucapkan salah atau keliru, senjata atau “kanuragan” yang dilepaskan bisa meleset sasaran, bahkah bisa berubah menjadi senjata makan tuan.
Mantra dalam Kakawin-kakawin Kuno
Kehadiran mantra di Nusantara dapat ditelusuri dari naskah-naskah kuno. Pelbagai kakawin, terutama dari Jawa, menunjukkan bahwa mantra yang diungkapkan secara puitis sangat diperlukan oleh sang kawi (penulis) guna mencapai bentuk kemanunggalan diri dengan alam kedewataan.
Dalam perkembangannya, penggunaan mantra menjamur dan sering digunakan oleh penganut sekte Tantrayana, “aliran” yang hadir dalam agama Hindu maupun Buddha. Aliran Tantra pun berkembang di Nusantara. Prasasti-prasasti peninggalan Sriwijaya dan Prasasti Sanghyang Tapak di Sukabumi, Jawa Barat, memperlihatkan gejala-gejala Tantrisme, yakni rangkaian kalimat berupa kutukan dan sumpah. Juga diberitakan dalam Pararaton dan Carita Parahyangan bahwa Sri Kertanagara Raja Singhasari dan Nilakendra Raja Sunda (Pajajaran) merupakan penganut mazhab Tantra ini.
Pada paham Tantra, mantra kerap disebut dharani (dharana). Ada mantra khusus yang selalu dipraktikan oleh penganut Tantra, yaitu “sadhana dhyana mantram”. Dalam literatur agama Buddha dan Hindu aliran Tantrayana, istilah sadhana digunakan dalam arti “proses memperoleh siddhi, yaitu kekuatan supernormal”. Istilah ini bisa juga mengacu pada “praktik untuk memperoleh hasil seperti yang diinginkan” atau “prosedur pemujaan untuk menyeru dewa”. Sedangkan khusus bagi penganut Buddha, istilah ini merupakan nama segolongan kitab panduan yang bersifat ritual-ikonografik.
Dalam kitab-kitab petunjuk ikonografi Buddha, seperti Sadhanamala dan Sadhanasamuccaya, rumusan sadhana diberikan dalam format sebagai berikut: si pemuja hendaknya memeditasikan dirinya sebagai dewa X yang duduk di atas R, bewarna S, beperhiasan T, tangan-tangannya memegang UV, dst, dan harus menggumamkan mantra W. Dengan begitu, sadhana dhyana mantram adalah teks suci yang memuat dekripsi tentang  dewata, sebagai petunjuk atau sarana dalam melaksakan dhyana (meditasi dalam arti umum, atau lebih khusus berarti suatu tahap yoga sebelum tahap akhir di mana terjadi penyatuan dengan hakikat kedewataan).
Dalam sejumlah manggala, yakni tulisan “pembuka” atau “penutup” pada kakawin-kakawin Jawa terdapat ungkapan-ungkapan puitis yang mengandung penjelasan mengenai konsep kedewataan atau kebenaran tertinggi, sesuai dengan kepercayaan sang kawi/pujangga. Dewa yang terkait dengan seni, sastra, dan cinta sering disebut dalam manggala dari kakawin-kakawin. Dewi cinta sering disebut sebagai Kama atau Smara, dewi sastra disebut Saraswati.
Kakawin Nagarakretagama, misalnya, dalam manggala-nya disebutkan nama Siwa-Buddha. Juga disebutkan ungkapan-ungkapan deskriptif lain dalam kitab itu, di antaranya: bhatara nisyasa (dewa yang abadi), sang suksmeng teleng ing samadhi (yang halus di pusat samadi), sakala niskalatmaka (mahaabstrak), Sri Parwatanatha (Sang Raja Gunung), natha ning anatha (raja dari semua raja), pati ning jagatpati (raja penguasa dunia), sang hyang ning hyang inisti (hyang dari segala hyang yang dipuja oleh si pemuja), acintya ning acintya (yang paling tak terjangkau dari yang tak terjangkau pikiran), byapi byapaka (memenuhi segala yang ada di mana-mana), dan sarwatattwagata nirguna (tak terkena sifat, lepas dari segala realitas).
Juga naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesyan (1518 M) di akhir-akhir teksnya menyebut “Namo Siwaya! Nami Budaya! Namo Sidam Jiwa nalipurna” (Sembahku pada Siwa! Sembahku pada Buddha! Sang Jiwa Mahasempurna). Kitab-kitab prosa keagamaan lainnya, seperti Brahmandapurana, Tantu Panggelaran, dan Korawasrama juga menguraikan konseop-konsep keagamaan, baik mengenai kosmologi, kosmogoni, mitos-mitos, maupun cara pemujaan.
Tampaknya tampilan visual dewata amat penting dalam pemujaan, baik untuk membangun citra mental dalam diri pemuja maupun untuk membentuk sosok fisik berupa arca dari dewa bersangkutan. Pemanggilan dewata dalam alam cipta telah diuraikan dalam kitab Korawasrama, yakni ketika Begawan Byasa memanggil dewa-dewa tertentu agar datang untuk menghidupkan kembali tokoh-tokoh Kaurawa yang meninggal dalam Bharatayudha. Diceritakan bahwa dewata itu datang setelah diseru-seru dengan membacakan mantra dan melakukan sikap-sikap tangan dan jari tertentu, atau membayangkan dewa bersangkutan dalam ukuran tala (satu jengkal) dan anggula (selebar jari tengah) yang tepat. Disebutkan misalnya bahwa katon bhatara kala saking sunyagarbhanira bhagawan byasa (tampak Batara Kala dari “rahim keheningan” Begawan Byasa). Tampak bahwa dewa itu tidak hadir secara fisik, melainkan hadir di alam mental atau samar.
Melihat keterkaitan antara mantra dengan pemanggilan sosok dewata, dapat dikatakan, tulis Edy Sedyawati, bahwasanya mantra dalam ritual dan dalam interpretasi estetik saling terkait meski penggunaannya mungkin berbeda.
Dalam naskah koleksi Merapi-Merbabu (di antaranya yang telah kita kenal dengan judul-judul seperti Kunjarakarna, Tantu Panggelaran, dan Arjunawiwaha), terdapat dua teks mantra, yaitu Aji Gunung (sering disebut Aji Kembang) dan mantra Kidungan.
Dalam Aji Gunung disebutkan segala macam gunung, bunga (seperi cempaka dan nagasari), wangi-wangian, wuku, pasaran, hari, dewa-dewi, aksara untuk didapatkan kekuatannya, dimintai tuahnya. Dijelaskan pula oleh teks Aji Gunung mengenai tuah apa saja yang bakal diperoleh orang jika melantunkan Aji Gunung dan mantra Kidungan tersebut. Kerap kali dalam teksnya, Kidungan disebut sebagai mantra tutulak, yakni mantra penolak pengaruh jahat. Berikut salah satu baris mantranya: singa barong hi rahiku, macan gembong hi gigirku, gajah hagung ri dhadhaku, metu gelap hi panonku ….”
Namun tak diterangkan apa laku yang harus diperbuat selama pengucapan mantra tersebut. Tak ada petunjuk yang disampaikan oleh teks bersangkutan mengenai masalah itu. Yang disebutkan hanya bila orang melantunkan mantra Kidungan maka harus pada malam hari.
Suku Kata dan Canda dalam Mantra
Mantra dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis sesuai dengan banyak jumlah suku katanya. Ada mantra yang terdiri atas:
1.     satu suku kata, misalnya AUM);
2.    enam suka kata, misalnya om namo siwaya;
3.    delapan suku kata, misalnya om namo narayananaya;
4.    duabelas suku kata, misalnya om namo bhagavate vasudevaya.
Mantra-mantra yang lebih panjang disusun dalam bait-bait, yang menurut sistem kuno India menggunakan sistem canda (dalam bahasa Jawa/Sunda disebut guru wilangan). Jumlah dan variasi canda sangat banyak, mulai dari 8 hingga 24 suku kata dalam satu baris. Beberapa canda yang paling sering dijumpai adalah:
1.         Gayatri, terdiri atas 3 x 8 suku kata (mengingatkan kita pada nama salah seorang istri Nararya Sanggramawijaya pendiri Majapahit;
2.         Anustubh atau sloka, terdiri atas 4 x 8 suku kata (bentuk anustubh ini bisa dilihat pada Prasasti Ciaruteun, Prasasti Tugu, Prasasti Kebonkopi, dan Prasasti Lebak di Jawa Barat peninggalan Purnawarman dari Tarumanagara). Berikut contoh metrum anustubh dalam baris pertama yang tertera pada Prasasti Tugu (baris ini dipenggal menjadi empat bagian agar mempermudah penghitungan suku kata):
Pu-ra-ra-ja-dhi-ra-je-na (8 suku kata)
Gu-ru-na pi-na-ba-hu-na (8 suku kata)
Kha-ta- khya-tam-pu-rim-pra-pya (8 suku kata)
Can-dra-bha-gar-nna-vam-ya-yau (8 suku kata)
Artinya: Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnawarman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termasyhur.
3.         Tristubh, terdiri atas 4 x 11 suku kata;
4.         Jagati, terdiri atas 4 x 12 suku kata;
5.         Sakkari, terdiri atas 4 x 14 suku kata.
Canda yang paling banyak digunakan adalah anustubh atau sloka. Mantra-mantra dalam bentuk canda dapat dinyanyikan menurut guru lagu tertentu.]
Ada mantra yang diucapkan bukan oleh sembarang orang, melainkan oleh hanya seorang yang telah memiliki kualifikasi tertentu. Misalnya, orang itu telah dibaiat atau telah menjalani laku tertentu, dan harus diucapkan di tempat tertentu pada waktu tertentu pula. Pengucapan mantra kadang disertai dengan penghitungan japamala atau aksamala (tasbih atau rosario).
Ada juga mantra yang diucapkan oleh siapa saja, tanpa memandang agama, budaya, suku bangsa, atau persyaratan lainnya. Mantra-mantra “bebas” ini umumnya terdiri atas nama-nama Tuhan, misalnya mahamantra (seperti hare krisna hare krisna, krisna krisna hare-hare, hare rama hare rama, rama rama hare hare), yaitu mantra besar yang dipercaya guna mengantisipasi zaman Kali (Kaliyuga). Dalam kepercayaan Hindu, seperti yang diungkapkan Bhagavadgita, manusia sekarang ini hidup di zaman Kaliyuga, zaman akhir. Maka dari itu, agar manusia terbebas dari kehancuran yang disebabkan Kaliyuga, kita harus memperbanyak mengucapkan nama-nama suci Tuhan atau mahamantra. Mahamantra ini terdiri dari 32 suku kata yang wajib diamalkan setiap saat untuk mengantisipasi zaman Kali.
Orang yang hendak membacakan mantra dianjurkan menerima mantra dari bimbingan seorang guru, karena orang yang bersangkutan akan melewati tahap-tahap dalam pembelajaran mantra. Tahap-tahap tersebut adalah: aparadha (salah), abhasa (latihan/penjernihan), suddha (murni). Setelah melewati tahapan tersebut, barulah orang tersebut mencapai kesempurnaan dan sukses membacakab mantra.
Menurut Setyawati, dalam menghidupkan mantra agar mantra memunyai kekuatan, seseorang harus memiliki niat, kepercayaan, dan konsentrasi yang teguh. Jadi, sebuah mantra dinilai belum memiliki kekuatan apa-apa jika hanya dibaca saja, melainkan harus “dihidupkan” atau “diwatek” terlebih dahulu.
Mantra yang paling bersifat magis dan yang paling berkekuatan adalah bijaksara atau bijamantra. Bijaksara atau bijamantra harus terdiri atas satu suku kata dan berakhir dengan anusvara. Bijaksara/bijamanra yang paling berkekuatan adalah “om” (Walker dalam Setyawati).
Pengucapan mantra bisa dilakukan dalam hati atau dibunyikan, guna melindungi pikiran terhadap hal-hal yang tak baik, dan membawa orang bersangkutan menuju hal-hal yang baik. Ada pula mantra yang diucapkan ketika akan memulai menyapu, mantra ketika selesai menulis rontal, mantra untuk menanam palawija, mantra untuk membuat api puja, mantra ketika membuat sanggar, mantra ketika menyiapkan bunga tabor/kembang ura.
Namun, tak semua mantra bisa diartikan secara harfiah. Menurut Walker (dalam Setyawati), ada mantra bertuah yang seolah-olah tanpa arti dan cukup sulit dimengerti oleh orang kebanyakan.
Posisi dan Jenis Mantra
Posisi mantra, menurut Pradipta, dalam struktur hidup manusia adalah sebagai metode. Metode-metode yang digunakan untuk mencapai tujuan hidup manusia antara lain adalah mantra, doa, puja-puji, wirid, yang masing-masing seyogyanya ditunjang dengan laku, srana/sajen, dan kerja nyata.
Sebagai sebuah metode, mantra dipergunakan untuk keperluan manusia dalam mencapai cita-cita, untuk kebaikan dan (tak jarang pula) untuk kejahatan yang tak memperdulika kebaikan orang lain. Maka dari itu, ada mantra yang ditujukan untuk membuat orang lain terpikat, gandrung, jatuh cinta, dan ada pula yang diucapkan untuk mencelakai atau menciptakan kesusahan pada orang lain.
Biasanya mantra bersifat rahasia. Maka dari itu seringkali mantra disampaikan oleh seorang guru kepada muridnya dengan cara karnika, “bisikan ke telinga”. Dalam penyampaiannya, cara karnika ini adalah getaran suara guru mengaktifkan nadi sang murid agar mantra bisa masuk dalam kesadaran yang lebih tinggi dari sang murid (Walker dalam Setyawati). Mendapatkan mantra melalui bacaan atau teks dinilai kurang bertuah; mantra akan lebih bertuah jika dipelajari lewat suara sang guru secara langsung. Jadi, mantra tak perlu diucapkan sengan suara keras, cukup terdengar saja.
Melihat dari cara dibunyikannya, mantra dibagi atas dua jenis:
1.         Mantra yang diucapkan, disebut karnika, yang terdiri atas: vachika (ucapan), bhramara (berdengung), janantika (bisikan lirih), karnika (bisikan ke telinga).
2.         Mantra yang tak diucapkan, disebut ajapa (tanpa ucapan), terdiri atas: upamsu (diam) yakni makna yang divisualkan atau dituliskan dalam aksara Sansekerta (mantra aksara, bisa disamakan dengan rajah); dan manasa (batin), yang dijalankan melalui meditasi.
Keberadaan guru yang ahli dalam pemantraan dapat kita jumpai dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesyan yang berbahasa dan beraksara Sunda Kuno. Disebutkan bahwa (terjemahannya) “jika ingin tahu semua aji mantra: jampa-jampa, geugeui(ng), susuratan, sasaranaan, kaseangan, pawayagahan, puspaan, susudaan, hurip huripan, tu(n)duk iyem, pararasen, pasakwan; pokoknya semua yang berhubungan dengan aji, tanyailah kaum brahmana.”
Keberadaan kaun brahmana sebagai pengayom keagamaan dalam masyarakat tentu memiliki tingkat sosial yang khusus. Pada diri merekalah, semua ilmu yang berhubungan dengan dunia kedwataan dan keniskalaan (kegaiban) dapat ditanyakan. Dari kitab yang ditulis pada 1518 M itu kita bisa mengetahui, setidaknya, ada dua belas jenis mantra yang beredar pada abad bersangkutan di Tatar Sunda. Belum lagi bila kita menghitung jumlah mantra yang beredar di wilayah lain seperti Jawa, Melayu, Bali, hingga wilayah-wilayah kampung adat seperti Dayak, Kanekes, Mentawai, dll. Hanya sayang, tak ada keterangan yang menjelaskan seperti apa bunyi keduabelas mantra yang dimaksud penulis Sanghyang Siksakanda ng Karesyan itu.
 
Hubungan Mantra dengan Bunyi
Bunyi dalam mantra tentu berperan besar dalam menggalang kekuatan mantra itu sendiri. Suatu bunyi dalam mantra memperlihatan sebuah gerak atau aktivitas manusianya. Misalnya bunyi: “brol”, “-jol” dipakai untuk hal-hal yang dikeluarkan, misalnya melahirkan. Kita bisa mengambil contoh mantra ketika menolong orang melahirkan dari sebuah naskah koleksi Merapi-Merbabu, yakni: “
hamtokaken rare jro weteng, ma, om, kaki jol, nini jol kaki borojol, hamtokna rare jro weteng si hanu denengal porocol, brol, sra, suruh temu rose rinajahan”.
Contoh lainnya adalah bunyi rep untuk meredam sesuatu. Contohnya mantra sirep yang berbunyi:
…. Cangkeme tanpa ngucap sirep, hatine tanpa ngangen-angen, sirep tangane tan lumiwa sirep …. Asu tanpa ngalupa tanpa ngingusa, sirep ….”
Akan tetapi, tak semua mantra mementingkan bunyi. Juga, tak selamanya mantra dituangkan dalam bentuk bunyi atau aksara/tektual saja. Mantra pun kadang disertai rajah (gambar). Selah Danasasmita pernah menguraikan tentang batu “nyatra” dari Tapos. Batu ini memuat tiga lambang yang menjadi cirri khas penganut Tantra: lambang padma/teratai dalam lingkaran terdalam, sejumlah trisula-ganda dalam lingkaran kedua, dan lambang gajah dalam lingkaran terluar (lingkaran ketiga). Danasasmita mencatat bahwa batu “nyatra” (atau batu “mandala”) tersebut digunakan oleh penganut Tantra ketika bermeditasi guna mencapai kondisi nirawerah (netral).
Keberadaan mantra, sebagai kesatuan bunyi, pada gilirannya berpengaruh pada perkembangan estetika kebahasaan. Karya-karya estetis/sastra seperti puisi atau seloka (jelas dari kata sloka) dan pantun yang mengutamakan ritme dan rima, jelas merupakan “turunan” mantra. Dalam pantun, misalnya, kita dapat menemukan “jejak” mantra, bukan dalam hal kekuatan gaib yang ditimbulkan melainkan dalam hal jumlah suku kata dan bebunyian ritmis yang melahirkan kekuatan sastrawi.
Mari kita lihat salah satu contoh bait/pada yang tertera dalam teks Bujangga Manik, yang ditulis sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 M.
Nu badayung urang Ta(n)jung / nu ru(m)ba urang Kalapa / nu babose urang Angké / bosé rampas bose layung / deungeun bose susu landung” (Para pendayung orang Tanjung, para penimba orang Kelapa, para pendayung orang Angke, menggunakan dua dayung, juga menggunakan dayung susu.)
Perhatikanlah jumalh suku kata dalam setiap barisnya, ada delapan buah. Juga perhatikanlah rima yang terdapat dalam setiap baris itu. Permainan bunyi pada wawacan atau kakawin Bujangga Manik begitu diperhatikan guna menimbulkan efek bunyi yang liris dan seimbang.
Islamisasi Mantra
Setelah Islam masuk dalam budaya Nusantara, dunia pemantraan masih tetap dikenal dalam khazanah mistik Nusantara. Hanya istilah-istilah saja yang digunakan saja yang berbeda. Kata OM, misalnya, diganti dengan Bismillahirrohmanirrohim. Istilah mantra atau aji(an) atau jampi—yang mengandung arti yang sama yang dapat dipercaya menyimpan tuah (twah) tertentu—setelah Islam masuk “dialihbahasakan” menjadi “doa” atau “zikir”. Bahasa yang digunakan tak lagi Sansekerta, melainkan Arab dengan acuan Al Quran dan hadis.
Perubahan istilah rupanya tak menjadi masalah bagi masyarakat Indonesia ketika proses islamisasi terjadi. Peralihan budaya mantra ke budaya “donga” (pelafalan untuk kata doa; penulisan kata donga dapat dilihat pada, misalnya, teks Babad Cirebon, seperti juga kata taala menjadi tangala) rupanya bukan sesuatu yang patut diperdebatkan, mengingat bagi masyarakat ketika itu yang terpenting adalah bahwa mereka merasa tidak kehilangan tradisi yang telah mengakar, yakni merapalkan sesuatu yang bersifat gaib dan ajaib. Bagi mereka ketika itu, yang patut diperhatikan bukanlah istilah (mantra atau doa) sebagai penanda (signify) melainkan benda atau materinya (kesakralan) sebagai petanda (signified). Mereka tak begitu memusingkan apakah mantra atau doa itu berbahasa Sansekerta atau Arab; sebaliknya, yang mereka pertahankan adalah tingkat kesucian atau kebertuahan dari mantra atau doa tersebut.
Tradisi pembacaan “kata-kata bertuah” kini dapat kita lihat pada aktivitas isti-ghotsah (Arab)—yang dalam bahasa Sansekertanya berbunyi hampir mirip dengan bahasa Arab: ista-gosthi—yang sering dilakukan oleh kaum ulama bersama-sama dengan yang lain dalam satu ruangan (masjid) atau lapangan.
 
Kepustakaan
Buwono X, Hamengku. 2003. “Misteri Mantra dalam Naskah-naskah Keraton”. Dalam Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantara, Tema Mantra. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Setyawati, Kartika. 2003. “Mantra pada Naskah Koleksi Merapi Merbabu”. Dalam Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantara, Tema Mantra. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Sedyawati, Edi. 2003. “Teks dan Ikonografi: ‘Mantra’ untuk Visualisasi”. Dalam Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantara, Tema Mantra. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Pradipta, Budya. 2003. “Hakikat dan Manfaat Mantra”. Dalam Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantara, Tema Mantra. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s