Proses Pembuatan, Empu, dan Etika Menggunakan Keris


Pendahuluan
Membicarakan keris dengan segala aspeknya berarti membicarakan tentang kedalaman kompleksitas kebudayaan orang Nusantara khususnya Jawa, ungkapan “Curigo manjing warongko jumbuhing kawulo lan gusti” merupakan ungkapan yang demikian dalam tentang prilaku dan pemahaman kehidupan manusia Nusantara/Jawa pada masanya. Sir Thomas Stamfort Raffles dalam bukunya The Hisstory of Java yang dikutip Haryono Haryoguritno dalam bukunya Keris Antara Mitos dan Nalar menuliskan bahwa” Seorang lelaki Jawa yang tidak memegang keris ibarat telanjang……”. Koesni dalam bukunya Pakem Pengetahuan Tentang Keris menuliskan “ Walaupun keris bukan benda keramat tetapi tidak sedikit yang dikeramatkan orang”.(2003). Di dalam Babad Brahmana Pande yang disusun RSI Bintang Dhanu Manik menuliskan “Keris merupakan benda keramat sebagai kelengkapan sesaji upacara” (1998). Dari ungkapan-ungkapan tersebut dapat diartikan bahwa keris merupakan bagian dari kebutuhan hidup yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Nusantara pada masa itu.
Tidak seperti senjata tradisional yang lain, yang sifatnya agak kedaerahan, keris dapat dikatakan terdapat dan dipergunakan di hampir seluruh pelosok tanah air. Mubirman dalam bukunya Keris Senjata Pusaka menuliskan,” keris merupakan senjata kesatuan budaya Indonesia, dan dapat dikatakan sebagai lambang kepahlawanan bangsa Indonesia” (1980). Mas Djomul dalam bukunya Keris Budaya Nusantara menuliskan “para empu pembuat keris zaman dahulu telah mempunyai saham yang besar di bidang menonjolnya kebudayaan Indonesia, sekaligus membantu landasan identitas Budaya Nusantara. Kenyataan lain menunjukkan bahwa keris telah dapat mempengaruhi kehidupan manusia di luar fungsi utamanya sebagai senjata (1985).
Keris merupakan karya yang multi material dan multi skill/keahlian, keris merupakan penggabungan seni tempa logam pada bilah, seni kemasan/perhiasan pada mendak, selut dan pendoknya, serta seni ukir kayu pada bagian hulu dan warangkanya. Beberapa unsur tersebut dihasilkan dengan baik oleh tangan-tangan terampil dan digabungkan menjadi karya yang indah, bermutu tinggi yang penuh dengan nilai-nilai simbolnya. Haryono Haryo Guritno dalam bukunya Keris Jawa Antara Mitos Dan Nalar, menuliskan agar menjadi karya yang lengkap secara teknis maupun estetis, bilah keris harus diberi sarung dan gagang atau hulu. Bagi masyarakat Jawa, warangka dan perabot keris yang lain hampir sama pentinya dengan bilah keris itu sendiri.[1]
Keris berasal dari kata kris, atau riris, atau aris yaitu sesuatu yang kecil runcing dan tajam. Walaupun belum dapat dipastikan kapan pertama kali keris berkembang di Nusantara akan tetapi keris diperkirakan telah ada semenjak perkembangan seni perlogaman berkembang di Nusantara. Dalam beberapa artefak dan catatan sejarah keris telah ada dan berkembang pada masa awal-awal abad pertengahan, di dalam prasasti rukam berangka tahun 825 saka (907 M) telah dikenal istilah “kris”, di dalam prasasti poh dan prasasti karang tengah tertulis antara lain kata Kres yang diduga artinya keris. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat jawa telah mengenal keris semenjak abab ke-9.
Beberapa prasasti lainya yang memberikan keberadaan keris antara lain: Pada prasasti Kedu yang di buat kira-kira tahun 750 M diterangkan raja keluarga Syailendra memerintahkan untuk membuat keris. Pada patung Rarajunggrang di candi Prambanan ( tahun 910 M) salah satu tanganya memegang senjata katga yang artinya senjata tajam keris. Dalam salah satu dinding relief candi Sukuh yang berangka tahun 1456 tergambarkan suasana dalam besalen penempaan pembuatan keris.
Keris pada mulanya merupakan salah satu kelengkapan upacara ritual (wasi-wasi prakara), dimana keris menjadi bagian dalam upacara terhadap Dewi Sima yaitu dewi kesuburan. Pada masa itu keris merupakan visualisasi konsepsi lingga dan yoni. Seiring dengan perkembangan kebudayaan di Nusantara, keberadaan dan peran keris terus mengalami perkembangan, dimana awal mulanya sebagai kelengkapan upacara ritual keris merambah pada fungsi-fungsi yang lebih kompleks, sebagian keris menjadi diluhurkan dan diagungkan. Keris menjadi sarana penanda status sosial, keris berperan pula dalam perjalanan politik pemerintahan kerajaan waktu itu, keris sebagai benda keramat yang diagungkan, sebagai sarana religius, senjata perang, penanda angka tahun, benda berharga dan lain sebagainya.
Empu Keris
Pada umumya terutama di Jawa pembuat keris dikenal dengan sebutan Empu, di Bali dikenal dengan nama pande atau wangsa pandie, di Sunda dikenal dengan istilah Guru Teupa. David van Duuren dalam bukunya The Kris “Empu merupakan orang-orang yang dianggap suci dan memiliki kedudukan tinggi di masyarakat”(1998). Mas Ngabehi Wirasoekadga dalam bukunya Misteri Keris menuliskan Empu adalah mahluk/manusia yang memiliki derajat tinggi[2].
Ajaran pandie/empu awal mulanya berasal dari sekte Brahma, ialah sekte yang menempati urutan sangat penting diantara sekte-sekte lainya, pengikutnya bergelar brahmana pandie, pada zaman itu dikenal dengan wangsa brahmana pandie. Lebih jelasnya lagi di Jawa setelah agama Hindu jatuh ke tangan agama Islam, istilah brahmana tidak tampak lagi, tetapi wangsanya masih ada yang sekarang lazim disebut pandie besi, pandie mas, dll.
Di Bali, wangsa pandie diikat oleh kewajiban moril dan prasasti-prasasti wisama leluhur yang secara rohaniah berhubungan sangat erat antara keluarga satu dengan yang lainya dengan istilah wangsa, prasasti yang mengikat mereka yang paling terkenal disebut prasasti “Pustaka Bang Tawang”, mereka memiliki kesepakatan mengangkat empu Baradah sebagai gurunya. Di Bali ilmu kepandean tidak sembarangan orang bisa mempelajarinya karena hanya mereka yang keturunan wangsa pande yang boleh mempelajari, sedangkan di luar bali  pandie hanya merupakan profesi saja dan siapapun boleh mempelajarinya dan mereka tidak diikat dalam satu sistem keluarga tertentu.
Empu merupakan seorang yang benar-benar ahli di bidangnya dan memiliki beberapa keahlian yang menunjang proses kreatif dalam penciptaan karya-karyanya. Adapun beberapa keahlian khusus yang dimiliki oleh seorang Empu untuk merujuk pada proses kreatifnya adalah :
1.Ahli dalam bidang agama dan spiritual
Pada masanya seorang Empu adalah orang yang dianggap suci dan memahami betul akan pemahaman kehidupan dan mampu memahami sesuatu yang gaib, seorang empu biasa memimpin upacara-upacara keagamaan ataupun upacara-upacara sesaji lainya. Empu merupakan panutan bagi masyarakat sekitarnya.
2.Ahli dalam bidang olah senjata
Ada ungkapan senjata yang baik adalah senjata yang dibuat oleh pendekar (ahli olah senjata) yang hebat. Jadi, kebanyakan para empu adalah seorang yang ahli “olah kanuragan” dalam memainkan senjata/pesilat/pendekar yang mahir. Dalam babad Bali diterangkan ketika patih Gajah Mada ingin menaklukan Bali, mahapatih Gajah Mada merangkul para empu/pande dan menempatkan di garis depan, Sang patih sangat yakin akan keberanian dan kehebatan olah senjata para empu keris/pande.
3.Ahli dalam bidang Psikologis
Seorang empu memiliki kemampuan memahami karakter psikologis dari pemesanya sehingga keris yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan watak, prilaku dan karakter dari pemakainya. Diceritakan dalam babad dan juga cerita-cerita rakyat bahwa para kesatria memesan keris pada seorang empu agar sesuai dengan dirinya.
Keris merupakan sebuah karya yang mampu berperan sebagai “Obyek ataupun Subyek” dari pemakainya. Keris dapat diperlalukan sebagaimana keinginan dari si pemilik seperti dipakai untuk senjata, kelengkapan busana, benda pamer, dll. Tetapi keris juga mempengaruhi sifat dan karakter pemiliknya sebagaimana keyakinan dari pemilik terhadap kekuatan dan atau bahasa simbol dari kerisnya.
4.Ahli Anatomi
Keahlianya di dalam olah senjata dengan sendirinya seorang empu ahli dalam anatomi manusia. Keahlian ini sebagai penunjang agar karya yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan “dedeg Piadek” atau ukuran badan si pemakainya, dengan demikian karya yang dihasilkan dapat diperankan sesui dengan pemakainya. Perlu diingat kembali bahwa semua hal yang berkaitan dengan ukuran tiap-tiap bagian keris menggunakan ukuran bagian badan seperti: “nyari, kilan, cengkang dll”.
5.Ahli dalam bidang politik
Pada masa majapahit oleh Gajah Mada empu diberi kedudukan tertentu dalam pemerintahan. Seorang empu banyak terlibat dalam percaturan politik dan terlibat didalam strategi kenegaraan dan perang.
Penghargaan khusus dari raja banyak diberikan kepada para empu keris yang mumpuni, mereka diberi kedudukan tinggi, lengkap dengan nama dan gelar kebangsawanan seperti Empu Supo yang disayang oleh raja karena berjasa mengembalikan Keris Sangkelat yang telah hilang dari keraton kemudian diangkat jadi menantu dan diberi gelar pangeran dengan hadiah tanah perdikan atau tanah bebas pajak.
6.Ahli dalam bidang Sastra
Seorang empu biasanya mempelajari sastra dan mereka adalah orang-orang yang terpelajar. Sebagian besar dari mereka terjalin hubungan baik dengan keraton sehingga mereka memperdalam sastra untuk interaksi mereka. Disamping itu mereka menganggap ajaran sastra merupakan salah satu untuk menambah pengetahuan dan kedalaman batin. Dalam ajaran “Aji Panca Bayu” yang dipelajari oleh para pandie di Bali, merupakan bagian ajaran Panca Brahma Pancak Sara yang berakar dari Aji Dasak Sara Pamurtining Aksara Anacaraka asal muasal Aji Saka, menerangkan: Aji Ngaran Sastra, Saka ngaran tiang ngaran pokok yang secara umum mengandung pengertian sumber dari ajaran Sastra Kesusastraan, dalam ajaran tersebut ada ungkapan;
Sastra ngaran tastas ngaran terang
Astra ngaran api ngaran sinar”
Yang secara umum mengandung pengertian, dengan mengenal api orang akan mengenal terang, sebaliknya orang yang tidak mengenal sastra sama dengan buta huruf berarti hidup dalam kegelapan.
7.Ahli dalam bidang Artistik
Bentuk dasar dari bilah keris terdiri dari bilah keris lurus, bilah keris luk dan bilah keris campuran antara luk dan lurus. Jumlah nama dari dapur bilah keris banyak sekali, Pujangga besar Ronggowarsito menyebut tak kurang dari 560 dapur keris. Rafles dalam bukunya “Histori Of Java” (1817) melukiskan 41 dapur keris utama yang ada pada abad ke-19.Buku tinggalan PB IX tentang dhapur keris (1792 Saka) menyebut 218 nama dapur keris.
Bila kita perbandingkan dengan senjata-senjata tradisional di seluruh dunia seperti tombak, pedang, panah, pisau, dll. Keris merupakan senjata tradisional yang paling banyak ragam farian bentuknya di samping juga yang paling rumit dari tiap-tiap bagiannya ( rerincikan bagian bilah keris lebih dari 30 bagian, pedang Katana dari Jepang sekitar 15 bagian, pedang Toledo dari Spanyol 10 bagian, Kukri dari Nepal 9 bagian)
Metode Penciptaan Keris
 Seorang empu adalah seorang yang ahli dalam bidang seni, landasan dalam penciptaanya tidak lepas pada bahasa-bahasa simbol dari alam ataupun pada prilaku serta tatanan kehidupan pada masanya. Bila dikaji lebih dalam hasil karya seorang empu terutama keris, keris merupakan penyederhanaan bahasa ungkap dari sedemikian rumitnya bahasa kehidupan pada masa itu yang menyangkut tentang prilaku, agama, politik, cita-cita, teknologi dll. Bisa dikatakan keris ibarat Puisi, satu kata memiliki jutaan makna demikian pula satu rerincikan/bagian pada keris memiliki makna yang sangat dalam.
Dalam penciptaan keris seorang empu tidak semata-mata menekankan pada  proses garapnya saja tetapi juga mendalami pengetahuan-pengetahuan lain yang menunjang akan keahlianya. Bila seorang empu hanya mendalami proses garap saja maka karyanya akan mentah dan hambar tetapi demikian pula tanpa produktif dalam proses garap karyanya akan kaku dan minim dari capaian karakter yang diinginkanya.
Seperti telah diungkapkan di muka bahwa seorang empu juga mendalami pengetahuan-pengetahuan lain terutama ajaran agama dan sastra, ajaran ini untuk mematangkan kedalaman jiwanya sehingga di dalam pencapaian ketenangan dapat berproses kreatif secara matang.
Seorang empu merupakan seorang yang mampu merangkum pemaknaan, maksud dan tujuan dari pembutan keris sehingga keris yang dihasilkan benar-benar sesuai dan bermanfaat bagi pemesannya/kalayak umum. Sang empu dalam menbuat karya sucinya melakukan sebuah “tapa laku” yang rumit dimana sang empu memadukan sang guru bakal (logam dari bumi ) dan sang guru dadi (sesuatu yang dari langit) kemudian dilebur menjadi sebuah keris yang ampuh. Dalam proses cipta karyanya seorang empu terus berdoa dan membaca mantra-mantra suci agar karya yang dihasilkan benar-benar baik dan sempurna. Konsepsi ini menunjukan keluhuran dalam penciptaan keris tidak dapat dilepaskan dari tingkat pemahaman  spiritual religius Ketuhanan.
Adapun langkah-langkah proses pembuatan keris sebagai berikut:
  • Pembuatan sesaji dan persiapan tapa laku yang dilakukan sang empu ataupun sang pemesan (penentuan saat pembuatan, dapur dan pamor keris)
  • Penempaan, yaitu penyatuan beberapa unsur logam untuk membuat pola pamor hingga bentuk dasr bilah (bakalan)
  • Pengerjaan ditai-ditail rerincikan bilah keris sehingga sehingga sesuai dengan dapur keris yang diinginkan.
  • Sesaji penutupan, yaitu ungkapan rasa syukur karena keris yang dibuat telah selesai dan sesaui dengan yang diharapkan
Etika Penggunaan Keris
Sebagaimana telah diungkapkan di atas bahwa keris merupakan suatu visualisasi dari simbol-simbol yang memiliki pemaknaan yang dalam dan rumit, simbol-simbol ini tidak hanya pada visualisasi bentuk kerisnya akan tetapi juga berkait dengan penggunaan atau cara pakai dari keris tersebut. Dalam mengenakan keris didasari pada status sosial, waktu, tempat, penggunaanya. Raja yang mengenakan keris akan berbeda dengan para rakyat biasa, mengenakan keris di dalam dan di luar kraton akan berbeda pula, apalagi acara resmi dan tidak resmi juga memilki tatacara mengenakan keris yang berbeda pula.
Dalam menyandang atau mengenakan keris sangat berbeda dengan ketika mengenakan senjata-senjata yang lain, keris memiliki tata cara khusus sehingga akan menambah keserasian berbusana/pakaian dan sesuai dengan acara yang akan dihadiri.
Dalam mengenakan atau memakai keris, menurut gaya Surakarta terdiri dari 12 cara, dan menurut kraton Jogjakarta terdiri dari 8 cara, masing-masing cara mengenakan keris tersebut di sesuaikan dengan siapa yang mengenakan, jenis acara, dan dimana mereka mengenakanya. Di beberapa daerah yang lain juga memiliki beberapa tata cara mengenakan keris yang berbeda-beda pula (termasuk Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Lombok dan lainya).
Adapun beberapa tata cara mengenakan keris versi Surakarta tersebut adalah: :
-   Turut Bokong, yaitu yang dilakukan abdi dalem gandek ketika menyerahkan sesuatu pada yang berpangkat atau bangsawan
-   Kureban, biasa dipakai para prajurit infantri yang memanggul senjata sambil mengenkan keris
-   Kempitan tengan, cara memakai untuk melindungi kerisnya
-   Kempitan kiwa untuk keadaan waspada di dalam suasana perang atau derah yang kurang aman
-   Nganggar yaitu disandang di paha kiri, cara ini dilakukan bila seseorang ingin mengenkan keris lebih dari satu keris
-   Ngogleng, yaitu dikenakan ketika sedang berjalan jongkok, cara menggunakan ngogleng ada tiga yaitu ngogleng, ngogleng tanggung, ngogleng methit
-   Kewalan, dipakai pada saat menunggang kuda prajurit penunggang kuda
-   Nyothe ngajeng, cara mengenakan para rohaniawan atau ulama
-   Nyothe wingking, dilakukan para pembesar ketika sedang menunggang kuda
-   Nyothe methit, dilakukan para petinggi keraton hendak duduk bersila menghadap raja
Adapun beberapa tata cara mengenakan keris versi Yogyakarta sebut adalah:
-   Klabang pipitan, cara mengenakan keris paling populer di Jogjakarta ketika sedang siaga, di surakarta disebut ngogleng
-   Ngogleng, ketika seseorang ingin menonjolkan dirinya di depan umum, di Solo disebut ngogleng methit
-   Lele Sinundukan atau satriyo keplayu, cara ini dilakukan ketika melalukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerak
-   Munyuk Ngilo, dikenakan para pengelana
-   Mangking, dilakukan ketika sedang naik kuda
-   Netep, dikenakan dalam posisi berdiri dan melakukan banyak aktivitas
-   Nyothe kiwa, dilakukan pada saat siaga atau genting di Solo dikenal dengan nama kempitan kiwa
-   Kewalan, dilakukan oleh para parajurit yang bersenjatakan pedang dan para penari kelana
-   Nganggar, dilakukan para prajurit yang membawa senjata sambil mengenakan keris
Penutup
Keris sebagai hasil budaya Nusantara yang Adi luhung telah berlangsung dalam rentang waktu yang demikian panjang, peran dan fungsinya telah merambah pada konfleksitas kehidupan masyarakat Nusantara. Tingkat kebudayaan masyarakat Nusantara dapat dilihat secara jelas melalui salah satu hasil budayanya yaitu keris. Melalu keris dapat dipahami sejauh mana tingkat kebudayaan, teknologi, strata sosial, politik, seni, pemahaman akan spiritualis dan agama serta sendi-sendi kemasyarakatanya yang lain.
Sebagai sebuah hasil budaya yang tinggi keris memiliki simbol-simbol yang rumit, tata cara mengenakan yang unik dan bervareasi dimana menunjukan kebesaran dan keragaman kebudayaan yang demikian teliti dan tinggi. Keris merupakan salah satu sarana pemahaman hubungan manusia dan Tuhannya, ungkapan “Curigo Manjing Warangka Jumbuhing Kawula Lan Gusti” merupakan ungkapan yang dalam mengenai hubungan religius masyarakat Nusantara yang demikian mendalam.
Proses yang rumit, pengerjaan yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi, penghayatan dan keyakinan yang dalam bagi si pemilik, perang yang demikian kompleks dalam masyarakat merupakan sebuah hasil cipta karya yang demikian mengagumkan, hasil budaya yang mulai memudar dan kehilangan batang untuk bersemi ini sudah waktunya untuk dilestarikan dan ditumbuh-kembangkan kembali sehingga ungkapan “Wong Jowo Lali Jawane” tidak akan terjadi.

[1] Haryono Haryo Guritno,Keris Jawa Antara Mitos Dan Nalar,Jakarta 2005
Bagi orang jawa, warongko dan perabot keris yang lain hampir sama pentingnya dengan bilah kerisnya sendiri. Bagi mereka warongko dan bilah keris merupakan manifestasi falsafah Curigo manjing warongko Jumbuhing Kawulo lan Gusti, keris ligan (bilah keris telanjang) tanpa warangka tidak dapat disebut keris dalam pengertian yang utuh, sebaliknya warangka saja tanpa bilah bukanlah keris.
[2] Mas Ngabehi Wirasoekadga.Misteri Keris,Semarang 1993.Dahara Prize

Empu adalah makhluk yang tinggi derajatnya kalau di banding mahluk lain. Maka, ada anggapan bahwa keris atau senjata bikinan empu tersebut memunyai keampuhan dan kegunaan.

Makalah ini disajikan dalam “Seminar Keris dalam rangka hari jadi Kota Pati tahun 2008 yang di selenggarakan oleh Yayasan KI Ageng Penjawi Pati bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Pati”

SumberTulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s