Tirakat Untuk Bisa Selamat


Tirakat untuk Bisa Selamat

image

SEBAGIAN masyarakat Jawa menganggap puasa Ramadan berbeda dari puasa Jawa. Bila ingin menggembleng diri, yang dilakukan adalah bermacam-macam laku tirakat, biasanya juga disebut puasa atau pasa, misalnya pasa mutih, ngrowot, patigeni, ngebleng 40 hari 40 malam, dan sebagainya. Biasanya disesuaikan dengan tujuan, baik yang bersifat sekadar olah kanuragan maupun rasa-spiritual.

Puasa, tirakat, atau jenis laku lain yang asketik sebenarnya adalah laku personal-spiritual yang tidak mudah dinilai dan dibandingkan tingkat keberatannya. Masing-masing ada aturan mainnya, serta terpulang pada niat dan tujuannya. Berat-ringannya laku spiritual itu  bergantung pada kebulatan tekad sejak awal.
Fenomena saat ini, banyak orang suka membentur-benturkannya, padahal yang suka membentur-benturkannya itu justru tidak menjalankan keduanya.

Puasa Ramadan tidak dilakukan, tirakat bermacam-macam juga lewat. Pilih yang paling ringan dan enak. Maka, para pinisepuh menilai, generasi sekarang adalah generasi cengeng yang suka menerabas dalam mencapai tujuan. Benar atau tidak, ungkapan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi.

Fenomena saat ini, nuansa puasa didominasi keriuhan lahir daripada kekhusyukan batin. Memang kita perlu berbangga, budaya menyemarakkan Ramadan di negeri kita lebih hebat daripada di Timur Tengah. Akan tetapi, keriuhan, kesemarakan, dan kemuliaan itu tentu lebih indah bila linambaran semangat zikir dan tirakat, bukan semangat rutinitas menjalankan syariat.

Ujian

Pada waktu ingin berguru pada Sunan Bonang, Raden Said disuruh untuk menunggui sebuah tongkat di pinggir kali. Ia harus tirakat, tidak boleh minum bila tak ada minuman yang iseng ke bibirnya, tidak boleh makan bila tak ada makanan yang hinggap sendiri ke tenggorokannya, dan pantangan lain yang tidak ringan.

Raden Said sukses menjaga tongkat itu sampai tubuhnya dililit semak-belukar. Kesetiaannya yang luar biasa menjaga tongkat di pinggir kali menjadikan Sunan Bonang bersedia mengangkatnya sebagai murid kinasih, dan Raden Said mendapatkan julukan baru Sunan Kalijaga.

Cerita rakyat tentang Sunan Kalijaga itu sudah sangat populer di masyarakat Jawa. Kecerdasan, kesaktian, kebijaksanaannya meramu ajaran dogmatis dengan nilai-nilai budaya bercampur-baur dengan mitos. Geertz memandang Sunan Kalijaga berhasil menjadi ikon spiritual Islam Jawa.

Berbeda dari masyarakat yang suka mengedepankan mitos daripada mengurai tanda, Pramudya Ananta Toer dalam novel Arus Balik justru menafsirkan simbolisme dalam cerita asal-muasal nama Sunan Kalijaga sebagai ”penjaga Khalik”. Artinya, penjaga nilai ketauhidan, keesaan dan kemahakuasaan Tuhan. Ia dipandang sebagai orang yang konsisten, istikamah, pada tugas keulamaannya.

Intinya adalah diperlukan pembelajaran dan penempaan diri yang kuat untuk bisa menjadi manusia hebat. Dengan demikian, tidak ada faedahnya saling mendiskreditkan satu sama lain yang hanya menghabiskan energi. Puasa Ramadan hakikatnya dapat dikatakan juga sebagai laku tirakat karena sifatnya yang sangat personal. Pada jenis ibadah ini, malaikat tidak ikut campur tangan memberikan penilaian, tidak sibuk mencatat, urusan puasa sangat eksklusif, yakni langsung dengan Tuhan.

Puasa dan tirakat adalah momentum menguji diri. Dalam menguji diri itu tidak diperlukan dewan juri dan tim pengawas yang menakut-nakuti. Suara hati benar-benar menjadi mahkamah paling tinggi. Uniknya, justru saat ujian itu, menjadi kesempatan terindah untuk bermesraan dengan Tuhan, sumber segala gerak dan pemilik segala kekuatan. 

Siasatt

Pada saat jadi presiden, BJ Habibie dikecam para kritikus gara-gara berkomentar agar masyarakat berpuasa sebagai salah satu solusi menghadapi krisis yang mendera Indonesia. Ia dianggap telah menyabot peran ulama karena  tugas pemerintah mestinya adalah membuat formulasi kebijakan strategis untuk mengatasi krisis, bukan khotbah.

Sebenarnya, Habibie berkata jujur. Ia bercermin dari sejarah kehidupannya sendiri. Pada masa sekolah ia suka berpuasa karena keterbatasan dana. Pada saat berkomentar itu, mungkin ia mengalienasikan asumsi bahwa belajar itu perlu makanan bergizi, fasilitas yang memadai, untuk dapat menyerap ilmu dengan baik. Dengan cara berpuasa, banyak tirakat, yang mungkin dianggap konvensional, nyatanya, ia bisa menjadi profesor dan presiden.

Anak sekolah harus berani tirakat, itu doktrin zaman dulu. Penggemblengan rasa dan mentalitas dikedepankan ketika seseorang berguru. Pemanjaan makan dan fasilitas justru akan menghasilkan kebebalan. Pandangan itu tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah di era sekarang. Akan tetapi, memadukan pandangan modern dengan nilai-nilai lama  yang konstruktif perlu dilakukan. 

Penyediaan fasilitas yang memadai dan makanan yang bergizi ditambah dengan penggemblengan mental yang baik, misalnya berpuasa atau jenis tirakat lain akan dapat menghasilkan generasi yang benar-benar tahan-banting. Fenomena sekarang sungguh sangat menyedihkan. Kenakalan, bahkan kebejatan moral, justru sebagian besar dilakukan oleh manusia-manusia yang makan sekolahan. Informasi dari Badan Narkoba Nasional, sebagian besar pengguna narkoba adalah mahasiswa dan anak-anak sekolah.

Bagaimana halnya dengan berpuasa dengan niat menyiasati keadaan, ngirit, berhemat untuk dapat bertahan, atau lebih halus lagi mengelola perekonomian diri?

Sudah dapat diprediksi, setelah pesta demokrasi pasti harga-harga akan berlomba-lomba merangkak naik. Para politisi telah berhasil mencapai tujuan, tak perlu lagi menebar rayuan, tak penting lagi berstrategi merebut hati, menaikkan harga-harga terasa sangat ringan. Ditambah lagi momentum  bulan Ramadan dan menjelang hari raya menjadi penyulut naiknya harga-harga.

Dalam kondisi seperti itu, berpuasa dengan niat pertahanan tentu bukan kenaifan. Sengaja lapar dan benar-benar lapar karena tak ada yang dimakan memang berbeda. Akan tetapi, lapar bukan tujuan berpuasa. Sengsara tentu bukan tujuan tirakat. Penghayatan atas lapar memunculkan energi luar biasa untuk mengenal diri dan peduli pada sesama.

Berpuasa karena ketidakberdayaan tidak mengurangi nilai keikhlasannya. Tuhan membuka pintu lebar-lebar bagi hamba-Nya untuk berpamrih pada-Nya. Siapa tahu dengan tirakat, berpuasa, Tuhan sudi memberikan rahmat berlimpah di kemudian hari. Bandingkan dengan penggunaan logika berlebihan, misalnya  karena miskin lantas tidak mau berpuasa. Miskin dijadikan alasan untuk menanggalkan perintah. Energinya ditumpahkan untuk mengejar kekayaan.

Baik yang benar-benar lapar maupun yang sengaja lapar, kiranya menarik piweling dalam ”Suluk Saridin”, yakni ngatos-ngatos ampun lena, mugiyo kasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya. Berhati-hatilah dalam menjalankan berpuasa, jangan terlena. Semoga benar-benar berhasil sesuai tujuan yang diidamkan. Hati yang tenteram dan hidup yang mulia.
Jadi, tak apalah tirakat sebagai siasat untuk selamat. (35)

(Sendang Mulyana/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s