Tanah Itu Ibu

Posted: November 30, 2014 in Esai
Tag:, ,

kresna-dutaTanah bagi orang jawa bermakna filosofis penting, sejajar dengan keberadaan ibu. Tanah, seperti rahim ibu, melahirkan awal kehidupan.

Dalam ajaran teologis yang dipercayai masyarakat Jawa, manusia berasal dari tanah dan harus kembali menjadi tanah. Namun filsafat sangkan paraning dumadi tidak berhenti pada ungkapan tersebut. Pemaknaan lebih dalam menelusuri bahwa ada hidup pasti ada mati, tetapi sebelum datang kematian manusia harus mampu mengambil makna tertinggi dalam lakukehidupannya.

Manusia menjadi besar dan pintar karena ditempa oleh keadaan. Manusia berpijak di bumi yang sama serta sama-sama diciptakan dari tanah, karena itu perjuangan untuk membantu sesama yang kekurangan merupakan pemuncak sangkan paraning dumadi.

Ajaran asta brata yang berisi delapan laku kepemimpinan dalam Ramayana antara lain menyebutkan pemimpin harus memiliki prinsip “laku hambeging kisma”. Kisma berarti tanah, yang bersifat tak pernah membeda-bedakan siapapun yang menginjak. Pada tanahlah semua makhluk hidup menggantungkan hidup. Jadi, pemimpin harus mampu mengayomi siapa pun dan memperjuangkan kehidupan rakyat.

Makna filosofis tanah tercermin dalam lakon wayang, seperti Kresna Duta. Terkisah, Kresna menjadi utusan Pandawa untuk menagih janji Kurawa mengembalikan tanah Astina kepada mereka, sang pemilik hak tanah sebenarnya. Namun Kurawa menolak. Tak pelak terjadilah perang Bharatayuda. Itulah perang besar antara para cucu Abiyasa.

Kisah ini menyiratkan makna tanah yang begitu tinggi bagi manusia. Muncul ungkapan sadhumuk batuk sanyari bumi ditohi pati, untuk mempertahankan sejengkal tanah nyawa menjadi taruhannya.

Karena itulah acap terjadi pertengkaran soal tapal batas tanah. Itu memunculkan etika, jangan menanam bibit pohon besar di dekat tapal batas tanah. Sebab, jika pohon itu tumbuh besar dapat melewati tapal batas tanah orang lain sehingga memicu pertengkaran.

PerlawananSuara Merdeka 16 November 2014 a

Di rembang, sampai saat ini para ibu dari Gunem sudah lebih dari 140 hari melakukan aksi perlawanan. Mereka mendirikan dan tinggal di tenda di jalan masuk ke pabrik semen. Mereka berpendapat, pendirian pabrik semen ini merusak ekosistem, menghilangkan mata air dan menanduskan tanah. Karena itu, para ibu gigih melawan, meninggalkan rumah dan keluarga tercinta, untuk mempertahankan ruang hidup dan tanah sumber hidup dan penghidupan mereka dari ancaman pabrik semen.

Perjuangan mempertahankan ruang hidup dan tanah sebagai sumber hidup dan penghidupan juga terjadi di berbagai daerah, antara lain Pati dan Kulonprogo. Perlawanan ini untuk menentang mitos pembangunan yang selama ini diusung pemerintah dan anarki kapitalisme yang bersifat kanibalistik. Padahal, semestinya bumi adalah tempat bagi manusia untuk hidup bersama serta tidak untuk saling menguasai dan meniadakan. Maka, tak terelakan, perjuangan untuk menciptakan kepemilikan tanah secara egaliter atau secara kolektif merupakan perjuangan mencapai peradaban tertinggi manusia.

Berbagai elaborasi tersebut menunjukan, sekali lagi, tanah dalam filosofi hidup masyarakat jawa adalah ibu mereka. Memperjuangkan tanah seperti berbakti kepada ibu. Jadi, mesti harus mengorbankan nyawa sekalipun, perjuangan itu merupakan perjuangan luhur yang tak bakal sia-sia. (51)

Oleh: Arif Novianto

Tulisan esai ini sebelumnya telah dimuat di rubrik Pamomong Koran Suara Merdeka, Minggu 16 November 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s