Arsip Penulis

Catatan dari Pementasan “Parikesit Jumeneng Ratu” yang dibawakan Oleh Ki Enthus Susmono pada 05 September 2015, Live di lapangan TVRI Jogja

wayang-parikesit-jumeneng-ratuBaratayudha yang menang pandawa dan yang kalah kurawa secara tertulis memang benar. Itu hanya syariat dan ilmu itu ada tarikat, makrifat,lan Hakikat. Lha saya akan menuju ke hakikatnya langsung saja, yaitu bahwa hakikatnya baratayudha yang menang adalah Kresna. Kresnalah yang telah membuat kebohongan sejarah Barathayuda dan ketahuilah Prabu Pancakusuma, bahwa yang berhak atas tahta Astina itu kamu bukan Parikesit si bocah ingusan yang dikarbit Kresna untuk jadi Raja karena masih keturunan Kresna.

(Kertiwindu – anak dari Sengkuni)

Ditengah dinginnya Jogja, acara pertunjukan Wayang Kulit dalam memperingati Ultah TVRI Jogja malam itu berlangsung cukup meriah. Pertunjukan yang mengambil lakon (cerita) “Parikesit Jumeneng Ratu” dibawakan dengan cukup apik dan berbeda oleh Ki Enthus Susmono, salah seorang dalang favorit saya selain Ki Narto Sabdho, Ki Manteb dan Ki Sigit Arianto. Para penonton dibuat terhenyak dengan alur cerita, guyonan dan juga tak lupa satir-satir yang disematkan dalam setiap dialog antar tokoh.

Lakon “Parikesit Jumeneng Ratu” ini bercerita tentang diangkatnya Parikesit menjadi Ratu di negara Astina. Ki Enthus menggubah alur cerita-nya sendiri dan tak mengikuti cerita dari pakem pewayangan yaitu kitab Ramayana dan Mahabarata. Memang ada perdebatan serius didunia pedalangan terkait pakem ini. Tapi yang pasti permasalahannya tidak terletak pada kebenaran cerita yang versi mana, akan tetapi tentang bagaimana cerita yang dibawakan memuat nilai-nilai sosial, kritik kehidupan dan membumi mengangkat permasalahan di tengah masyarakat.

(lebih…)

kresna-dutaTanah bagi orang jawa bermakna filosofis penting, sejajar dengan keberadaan ibu. Tanah, seperti rahim ibu, melahirkan awal kehidupan.

Dalam ajaran teologis yang dipercayai masyarakat Jawa, manusia berasal dari tanah dan harus kembali menjadi tanah. Namun filsafat sangkan paraning dumadi tidak berhenti pada ungkapan tersebut. Pemaknaan lebih dalam menelusuri bahwa ada hidup pasti ada mati, tetapi sebelum datang kematian manusia harus mampu mengambil makna tertinggi dalam lakukehidupannya.

Manusia menjadi besar dan pintar karena ditempa oleh keadaan. Manusia berpijak di bumi yang sama serta sama-sama diciptakan dari tanah, karena itu perjuangan untuk membantu sesama yang kekurangan merupakan pemuncak sangkan paraning dumadi.

Ajaran asta brata yang berisi delapan laku kepemimpinan dalam Ramayana antara lain menyebutkan pemimpin harus memiliki prinsip “laku hambeging kisma”. Kisma berarti tanah, yang bersifat tak pernah membeda-bedakan siapapun yang menginjak. Pada tanahlah semua makhluk hidup menggantungkan hidup. Jadi, pemimpin harus mampu mengayomi siapa pun dan memperjuangkan kehidupan rakyat.

(lebih…)

aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMzM1NTI4OTg2X09qYW8yQVJnLmpwZw==Perkara yang tak pernah absen dalam dinamika hiruk pikuk disetiap ajang kontestasi politik di Indonesia sampai sekarang ini adalah pencari-carian terhadap sosok sang Satriyo Piningit. Apalagi bagi masyarakat jawa yang masih memegang nilai-nilai kebudayaan jawanya.

Sosok satriyo piningit kali pertama muncul berdasarkan ramalan (jangka) Jayabaya, Maharaja di Kediri pada 1135-1157 M. Ramalan ini menggambarkan satriyo piningit sebagai orang yang jujur, cerdas dan peduli terhadap sesama.

            Kepercayaan terhadap sosok satriyo piningit ini pasti akan muncul didalam masyarakat yang masih bersifat tradisional dan semakin mekar karena tumpukan rasa kekecewaan terhadap para pemimpin yang ada sekarang. Jurang kemiskinan, penderitaan dan ketidakberdayaan adalah pemicu utama munculnya imaji akan datangnya juru selamat.

Penafsiran siapa satriyo piningit berdasar jangka Jayabaya yang sering muncul selama ini memang lebih mengarah ke urutan presiden Indonesia sampai yang ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Namun saya berupaya untuk menafsirkan ramalan Jayabaya tentang satriyo piningit yang berisi tujuh pitutur ini secara berbeda.

(lebih…)

Mo Limo (Guyonan Punokawan)

Posted: Februari 12, 2014 in Guyon
Tag:, ,

debat-punakawan“Kang Petruk, Ma Lima kuwi apa ta ?”
“Ma sing jumlahe lima”
“Apa wae kuwi Kang ?”
“Ma Lima kuwi miturut Rama Semar, petuah para leluhur kanggo nglakoni urip bebrayan kanti ngadohi limang perkara Ma kuwi. Yen wis padha ngerti isa dienggo sebagai upaya mencegah, nek wis kebacut merebak ning masyarakat kudu diberantas, lan kanggo sing wis kadung nindakake kudi diobati, basa Ngalengka-ne masyarakat kudu ngupayake preventif, post facto lan kuratif.”
“Lha apa Ma sing lima kuwi ?”
“Ma lima kuwi : MAling, MAdat, MAin, MInum, MAdon. Lima perkara sing kudu dihindari, dienyahkan saka awake dhewe yen kepengin nggayuh urip sing bener lan pener.”
“Isa dijelasake Kang”
“Maling, aja njupuk barang sing dudu duweke, dudu hak-e. Klebu korupsi cilik apa maneh wis em eman, kudu diadohi. Kowe aja sepisan pisan nyoba barang barang sing marakake fly, sing sejatine ngrusak awakmu dhewe kayata nyabu, narkoba, ekstasi lsp. Barang barang mau marakake nyandu, yen wis krasa enak pengin nyoba meneh lan meneh. Barang barang mau dudu solusi kanggo menyelesaikan masalah, malah njlomprongake awakmu ke jurang kesengsaraan. Ora ana wong sugih amarga main, judi. Kepengin sugih aja sepisan pisan nggunakake shortcut, jalan pintas melalui upaya untung untungan. Kepengin sukses kudu makarya sing smart, aja mengharapkan emas sak-trek teka ning omah. Mabuk mabukan ojo sepisan pisan mbok coba lan mbok tindakake. Lha iki kanggomu Gong. Aja seneng madon, njajan, lha wong sing ning omah ora entek entek. Sifate wong lanang kuwi nek ndelok ana sing luwih kempling luwih bening, terus tertarik lan pengin selingkuh. Lha kuwi mung polah tingkah nafsu sing ngojok ojoki awakmu kanggo selingkuh. Lha nek dipikir rasane yo padha wae. Rak iya mengkono to Gong ?”

images (1) “Iyo Kang. Ning aku nate krungu Ma LIma versi lain Kang.”
“Apa kuwi Gong?”
“Mlumah, Mengkurep, Modod, Mlebu, Metu”
“Lha kok ketoke rada rada mengarah ngono Gong. Aja sing saru lho Gong”
“Kuwi nek pikirane wis ngeres disik. Kuwi ngemu maksud ngene Kang. Mlumah kuwi menghadap ke langit, kudu eling marang Pangeran pencipta dan penguasa alam semesta dan seisinya. Mengkurep kuwi posisi ndelok ngisor. Ning rumah tangga kudu fokus karo pasangane, ora oleh tergoda karo liyane sing ketoke luwih bening, kinyis kinyis, lha kuwi mung penampilan luar wae kok. Yen dirasakake sing ning omah pastine luwih mranani ati. Modod, kuwi kanggo pepeling yen manungsa kuwi kudu berusaha mengembangkan kompetensi kanggo meningkatkan kemampuan, keterampilan kanggo membina rumah tanggane. Mlebu. Orientasi pertama kudu keluarga sing penting. Terus baru Metu, membina hubungan baik karo masyarakat sekitare. Ngono Kang.”

(lebih…)

Metro Riau 10 Februari 2014

Doc: Epaper Metro Riau 10 Februari 2014

Wayang merupakan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai karya agung dunia non bendawi pada 7 november 2003. Didalam setiap pagelaran wayang ini menyiratkan nilai-nilai estetik yang begitu tinggi dengan filosofi dan mitologi jawa yang kental sekali. Artinya wayang merupakan mahakarya besar yang pernah diciptakan oleh nenek moyang kita ini.

Namun seiring berkembangnya jaman, wayang sebagai budaya lambang identitas bangsa ini mulai kehilangan peminatnya. Ungkapan bahwa wayang adalah pertunjukan yang ketinggalan jaman, membosankan karena lakonnya itu-itu saja serta pergelarannya yang lama telah membuat wayang seolah berada pada titik terendahnya. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa didalam setiap pertunjukan wayang, selalu menyiratkan pesan-pesan moral, sosial dan politik yang berbalut tentang contoh ketauladanan kehidupan.

Hegemoni Budaya Pop

Semakin rendahnya peminat wayang ini dikarenakan kemunculan budaya pop dari barat yang kemudian menemukan titik hegemoninya, sehingga telah membuat masyarakat (terutama pemuda) menjadi terhipnotis olehnya. Akibat dari hegemoni ini adalah semakin ditinggalkannya budaya-budaya bangsa sendiri yang dianggap telah lekang oleh jaman, seperti wayang ini.

Keberhasilan hegemoni dari budaya pop ini tak dapat dipisahkan dari andil kapitalisme kontenporer. Budaya pop yang merepresentasikan gaya hidup kekinian yang glamour dan hedonis sangat selaras dengan logika kapitalisme yang mengeksplorasi sifat individual seseorang. Dengan gaya hidup hedonis yang berusaha mengikuti trend-trend yang berkembang, membuat kapitalisme dapat terus hidup didalamnya, karena mereka akan terus mengarahkan trend tersebut demi proses akumulasi kapital sebagai syarat wajib langgengnya kapitalisme.

(lebih…)

Tayub atau Tayuban

Posted: Desember 28, 2011 in Uncategorized

Tari Tayub atau Tayuban

Seni Pagelaran Tayub

Tayub merupakan salah satu kesenian Jawa yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Tarian ini mirip dengan tari Jaipong dari Jawa Barat ataupun Gambyong dari Jawa Tengah. Unsur keindahan diiikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan.

Kesenian Tayub sudah tidak asing lagi di dunia seni pertunjukkan, kesenian tayub merupakan ciri khas dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya. Tari Tayub adalah seni Pertunjukan yang dianggap sebagai kesenian rakyat yang muncul pertama kali pada jaman kerajaan Singosari, namun seiring perjalanan seni pertunjukan tayub sering mengalami pasang surut sesuai dengan zaman. Kesenian Tayub pada saat sekarang juga masih banyak dijumpai di acara – acara hajatan, khitanan, pernikahan, sedekah bumi, dll. Kesenian Tayub ini merupakan bentuk tari pergaulan berpasangan antara penari wanita ( ledhek ) dengan penari pria ( penayub )

Pada jaman dahulu tari Tayub masih bersifat sakaral tapi seiring dengan berjalannya waktu dan bergesernya zaman fungsi tari Tayub menjadi sebuah tarian hiburan yang bersifat sekuler. Fungsi sakral atau Religius dari tari tayub dapat dilacak pada fungsi asli tayub sebagai upacara ritual untuk kesuburan, ini bisa dilihat dari ciri – cirinya antara lain :

  • Waktu pelaksanaan tertentu / terpilih.
  • Tempat pelaksanaan terpilih.
  • Penari terpilih.
  • Dan ada saji – sajian.

Seni keindahan tarian dari Pagelaran Tayuban

Pada saat ini fungsi tayub bergeser ke arah yang lebih menghibur ini dapat dilihat dari acara – acara hajatan yang sering mengadakan pertunjukan tayub, saat ini memang tayub merupakan ungkapan kegembiraan serta bagian dari pesta rakyat. Kesenian tayub ini masih bisa kita jumpai di daerah sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timuran, seperti di daerah Magelang, Blora, Pati, Rembang, Banyumas, Nganjuk, dll, apalagi pada hari-hari baik dalam perhitungan/penanggalan Jawa. Disetiap daerah-daerah tertentu, Pementasan Tayub ini sudah berbeda-beda dalam penyajiannya, seperti Tayub di Pati yang memang berbeda dengan tarian sejenis dari daerah lain—Blora misalnya. Perbedaannya terletak pada penggarapannya, dari gending sampai tatanan pertunjukan di panggung. Gending tayub Pati lebih cokekan (musiknya lebih keras) ketimbang yang mengalun di daerah Blora. Alhasil, goyangannya pun lebih hot. Pesona itulah yang membuat tayub di sana bisa bertahan dan membuat para prianya keranjingan, serta membuat pamor Tayub di Pati masih berkibar-kibar.

Namun pada era-era ini kesenian tayub mulai meredup,  redupnya tayub bisa didekati dari ketiadaan upaya pelestarian seni budaya lokal. Masuknya kebudayaan-kebudayaan barat sedikit banyak membuat Tayub ini menjadi redup,  Tantangan yang perlu dihadapi tidaklah ringan karena harus dihadapkan oleh persaingan budaya modern serta ekspansi budaya barat. Bila tidak diuri – uri sedini mungkin kesenian ini akan punah, oleh karena itu regenerasi harus terus berjalan dengan baik.

Berikut ini beberapa lagu-lagu atau tembang-tembang Tayub dari berbagai daerah-daerah tertentu, seperti: Tayub Pati, Tayub Sragen, Tayub Tuban, Tayub Lumajang, dll. Anda pasti akan bisa menilai sendiri mengenai perbedaan-perbedaan dari kesenian Tayub ini di masing-masing daerah-daerah tertentu tersebut. Bagi yang ingin mengunduh ataupun mendengarkan MP3 & Video Kesenian Tayub ini, silahkan download dibawah ini >>

Cerita Pendek (Bahasa Jawa)

Posted: Januari 27, 2011 in Artikel

BONSAI

Wis meh sedina Drajat nunggu Rista, bojone sing arep nglairake. Bola-bali Drajat ke­prungu sambat lan jeritane bojone sing nembe berjuang ngliwati maut. Kanggo nylimur pikire sing ora karuwan, Drajat nyoba ngobrol karo wong sing uga nunggu ana ing rumah bersalin kuwi. Nanging mbuh ngapa, apa wae sing dadi bab rem­bugane, kabeh kaya ora mathuk. Pikire Drajat tambah ora karuwan, deweke ban­jur wira-wiri kaya wong linglung. Saya cetha menawa saiki Drajat lagi ora kepenak ati.

“Adhuh, aku ora kuwat!”

Drajat kaget.  Krungu sambate Rista, Drajat kaya ditangekake saka ngimpi sing ala. Drajat banjur kelingan ana ing wayah sore nalika Rista kandha menawa dhewe­ke mbobot. Krungu mangkono Drajat ban­­jur mbopong Rista, dirangkul lan di ambungi. Sedina wutuh Drajat mesam-mesem dewe..

Read More»»

ORA KAGODHA

Anggone  nyambut   gawe dadi tukang becak wis suwe banget, wiwit manten anyar nganti nduwe anak papat. Isih diayahi kanthi rasa tanggung jawab sarta ora nduweni rasa aras-arasen babar pisan. Kanggone Durasim, kendharaan rodha telu kuwi wis dianggep kaya dene sawah sing wulu pametune kanggo ngu­ripi anak bojo mben dinane. Satemene biyen tau banting stir bakulan pitik  sing ora patiya rekasa. Ning jebul malah kerep rugi. Mbomenawa wae pancen wis ditak­dirake dening sing ngecet lombok ma­nawa garis uripe  kadidene tukang mancal becak.

Dina kuwi isih jam sepuluhan nanging  panase wis krasa sumelet. Karo methang­krong neng ndhuwur becake, bola-bali Durasim ngelapi raine sing gemrobyos nganggo andhuk cilik kang dikalungake gulu. Durasim ajeg mangkal neng pra­patan ringin kembar…

Read More»»

SEPURE WIS MANGKAT

AKU nyawang arloji, jam 10 kurang limang menit. Saka speakere stasiun Tawang, Semarang keprungu lamat-lamat lagune Sony Jozh.  Ora rinasa eluhku tumetes. Tembang kang mentas tak rungu mau  malah njejuwing rasa pangrasaku. Kaya lagi nyemoni apa kang tak lakoni saksuwene iki. Gawang-gawang  ing mripatku lelakon seminggu kepungkur  ing stasiun iki ya ing kursi kang saiki tak lungguhi. Lelakon kang  njalari ati kang sasuwene aku bebojowan mati dadi urip maneh.

Anggonku bebojowan cukup suwe nanging durung kaparingan momongan. Sepining batinku saya ngambar-ambra awit saploke ningkahan arang kadhing kumpul bojo merga dipisahake dening jarak..

Read More»»

Candi Borobudur

Posted: Januari 19, 2011 in Artikel

Lokasi dan Pembuatan

Candi Borobudur merupakan nama sebuah candi Buddha yang terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah baratdaya Semarang dan 40 km di sebelah baratlaut Yogyakarta, dan berada pada ketinggian kira- kira 265,4 m di atas permukaan laut.
Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi ini diduga dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan candi itu diduga selesai pada 847 M. Menurut Prasasti Klurak (784 M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddha Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samaratthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Asal dan Jejak Kata “Borobudur”

Nama Borobudur sendiri masih mengandung banyak penafsiran dan banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalnya, kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara berasal dari kata vihara (Sansekerta) yang artinya kompleks candi atau biara dan budur yang berasal dari kata beduhur yang berarti di atas. Dengan demikian, Borobudur berarti “biara di atas bukit” yang mungkin diidentifikasikan dengan sebuah gunung yang berteras-teras (budhara). Sumber lain mengatakan Borobudur berarti “biara yang terletak di tempat tinggi”.(…)

Read More»»»

Aksara Jawa Rumit?

Posted: Januari 10, 2011 in Artikel

d1
Banyak bangsa beradab yang masih memanfaatkan tulisan gambar dalam tradisi tulis menulisnya. Bangsa Jepang yang maju industrinya masih memanfaatkan aksara kanjinya dalam tradisi komunikasi tertulisnya, demikian juga dengan Cina, Korea, negara-negara di Timur Tengah. Mengapa orang-orang Jawa bersikukuh dengan huruf latinnya, sementara mereka juga memiliki aksara Jawa? Kapan generasi muda dapat mem”feysen”kan aksara Jawa dalam pergaulannya seperti halnya terjadi negara-negara maju. Jepang begitu fashionable dengan kanji, Arab Saudi fashionable dengan huruf Arab, India yang maju industri filmnya juga fashionable dengan huruf Hindinya, dan sebagainya. Kalau saja aksara Jawa dapat digunakan seperti halnya aksara Hindi (India), mungkin kita telah maju selangkah lagi dalam pembudidayaan budaya lokal.
d2

Bahasa Jawa memiliki unsur-unsur yang sangat kompleks, antara lain: gramatikal, aksara, kosa kata, peribahasa, dasa nama, tata krama bahasa. Masing-masing unsur memiliki bagian-bagian yang lebih lengkap lagi. Aksara Jawa terdiri dari 20 huruf: ha na ca ra ka; da ta sa wa la; pa da ja ya nya; ma ga ba tha nga dengan 20 pasangannya.

d3

Aksara Jawa mengandung legenda di dalam penyusunannya, yang kurang lebih demikian: Konon tersebutlah dulu Aji Saka yang telah menjadi penguasa di sebuah kerajaan (disinyalir Medang Kamulan). Kemudian dia mengutus seorang yang dipercayainya untuk mengambil barangnya yang dia tinggal di tempat lain. Utusan itu (caraka) segera pergi menemui orang yang dimaksud. Akan tetapi utusan yang membawa barang tadi (penjaga) sepertinya tidak percaya kalau orang yang datang kepadanya itu juga caraka dari Aji Saka.

Keduanya saling beradu pendapat, saling ngotot mempertahankan keyakinan masing-masing: siapa yang berhak membawa barang milik Aji Saka, siapa yang lebih dipercaya sama tuannya. Keduanya tidak menemukan komunikasi yang efektif, yang ada hanya perang mulut berlanjut ke perang uji kesaktian. Keduanya terbukti sakti semuanya, tidak terkalahkan dan tidak terpisahkan. Akhirnya keduanya mati bagai bangkai. “Anjing rebutan tulang” itulah perumpamaannya. Begitu Aji Saka melihat kenyataan tersebut, maka tersusunlah huruf Jawa.

“Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Pa Da Ja Ya Nya, Ma Ga Ba Tha Nga”.

Ada dua caraka, yang saling berselisih paham, sama-sama hebatnya, mati bersama. (…)

Read More»

Selayang Pandang Batik Indonesia

Posted: Januari 10, 2011 in Artikel

Pendahuluan

Batik merupakan seni melukis yang dilakukan di atas kain. Dalam pengerjaannya, pembatik menggunakan lilin atau malam untuk mendapatkan ragam hias atau pola di atas kain yang dibatik dengan menggunakan alat yang dinamakan canting. Secara etimologi, batik berasal dari bahasa Jawa yaitu “amba” yang berarti menulis dan “tik” yang berarti menitik.

Indonesia memiki banyak karya budaya. Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang yang memiliki kelebihan tersendiri dibanding peninggalan budaya Indonesia lainnya. Nilai pada batik Indonesia bukan hanya semata-mata pada keindahan visual. Lebih jauh, batik memiliki nilai filosofi yang tinggi serta sarat akan pengalaman transendenitas. Nilai inilah yang mendasari visualisasi akhir yang muncul dalam komposisi batik itu sendiri.

Kegiatan membatik merupakan sebuah proses yang selain membutuhkan ketelatenan dan keuletan, juga memerlukan kesungguhan dan konsistensi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari serangkaian proses, mulai dari mempersiapkan kain (pencucian, pelorodan, pengetelan, pengemplongan), membuat pola (ngelowongi), membuat isian (Ngisen-iseni), Nerusi, Nembok, hingga Bliriki. Melalui serangkaian proses panjang tersebut, dapat diketahui bahwa proses pembuatannya membutuhkan waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.
Batik dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: proses pembatikan, qualitas pembatikan, motif, dan warna batik (bagi beberapa orang ada yang memperhitungkan makna atau nilai yang terkandung dalam selembar kain batik).
Secara visual, batik mempunyai pakem-pakem tertentu yang mesti diterapkan dalam penggunaannya, baik dalam pakem pembuatan pola maupun pakem penggunan motif tersebut beserta acara atau upacara ritual yang akan diselenggarakan. Seperti contohnya pola Parang Rusak yang hanya boleh digunakan oleh Pangeran atau Pola Truntum yang diperuntukkan bagi pasangan pengantin.
Warna yang digunakan pada batik keraton terbatas pada pewarna alami, pasalnya pada masa itu belum ditemukan pewarna sintesis. Berdasarkan kosmologi Jawa, penerapan warna seperti hitam, merah, putih atau coklat mengacu pada pakem yang berlaku. Semua tata aturan tersebut bertujuan untuk penyelarasan dan harmonisasi. Penyelarasan dan harmonisasi itu sendiri merupakan suatu tujuan utama dari kearifan lokal dalam penciptaan karya seni, dalam hal ini adalah batik. Penciptaan tersebut merupakan suatu bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini kiranya sesuai dengan adagium “seni sebagai seni”, bukan seni untuk sebatas harta.
Macam-macam Desain Batik
Pada umumnya, ada dua jenis desain batik, yaitu: geometris dan non-geometris
1. Geometris
a.       Motif Parang dan diagonal
clip_image006clip_image008
b.      Persegi/persegi panjang, silang atau motif Ceplok dan Kawung
clip_image010clip_image012
Motif ceplok (kiri) yang muncul pada patung Syiwa di candi Singosari
c.       Motif bergelombang (Limar)
clip_image014
2. Non-Geometris
a. Semen
Motif semen terdiri dari flora, fauna, gunung (meru), dan sayap yang dirangkai secara harmonis. (…)

Read More»»»