Candi Singasari


     Candi Singasari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi Singasari merupakan salah satu situs Kerajaan Singasari di Kabupaten Malang yang tersebar di beberapa Kecamatan, di antaranya Kecamatan Singasari, Kecamatan Tumpang, dan Kecamatan Tajinan. Banyak sisa bangunan yang didirikan di bawah pengaruh agama yang dianut waktu itu seperti Hindu, Buddha, maupun campuran anasir Buddha-Siwa.

 
Struktur Candi Singasari
     Candi Singasari berbentuk bujur sangkar dengan keseluruhan bangunannya terbuat dari batu andesit dengan arah hadap bangunannya ke barat. Seluruh candi terdiri dari tingkat bawah atau batur setinggi 2 meter, kaki yang tinggi, tubuh yang ramping, dan atap yang berbentuk limas. Candi Singasari memiliki panjang 15,94 m, lebar 13,94 m, dengan tinggi 17 m.

Kaki Candi

 
      Pada kaki candi terdapat bilik berisi sebuah yoni (lambang kewanitaan) yang biasa terdapat dalam tubuh candi. Ini merupakan keistimewaan karena umumnya kaki candi memiliki ruangan. Bilik-bilik lain dapat kita masuki melalui selasar keliling pada batur dan dahulu berisi arca Durga (utara), Ganesa (timur) dan Siwa Guru (selatan). Kecuali arca Guru, arca-arca lain sudah tidak ada di tempat.
 
      
       Bilik tengah ini juga memiliki keistimewaan, di mana terdapat suatu saluran di bawah lantai bilik. Mungkin dahulu dipergunakan untuk mengalirkan air pembasuh lingga-yoni ke suatu pancuran (sekarang sudah tidak ada, tetapi bekasnya masih terlihat jelas). Di atas bilik candi maupun di atas relung, terdapat hiasan kepala Kala. Kepala Kala yang terdapat di atas pintu bilik candi dan relung-relung nampak belum selesai pahatannya. Dalam pada itu, di sisi kiri kanan bangunan penampil yang ada di depan (barat) terdapat relung tempat arca Nandiswara dan Mahakala. Pada saat ini, arca Ganesa dan Durgamahesa Suramardhini dari Candi Singasari menjadi koleksi Museum Leiden di Belanda.
Tubuh Candi
      Tubuh candi tidak memiliki bilik tetapi hanya memiliki relung pada ke empat sisinya. Hal tersebut mungkin dikarenakan bilik candi sudah terdapat di dalam kaki candi. Tiap relung dihiasi kepala Kala. Relung-relung tidak kelihatan karena tertutup oleh puncak-puncak keempat penampilannya. Namun tidak diketahui secara pasti apakah relung-relung itu dahulunya berisikan arca.
Atap Candi
DSC03553.jpg
 
       Atap Candi Singasari hanya tinggal sebagian yang tersisa. Berlawanan dengan bagian yang lain, bagian atap ini telah selesai dipahat dengan hiasan yang halus, sedangkan bagian bawah masih polos. Ini menunjukkan kemungkinan cara menghias candi dimulai dari bagian atas. Kenyataan seperti ini sering kita jumpai pula pada candi-candi lain, misalnya Candi Sawentar di dekat Blitar.
 
     Di  halaman candi ditemukan sejumlah arca. Ditinjau dari jumlah dan sifat arca yang terdapat di situ, dapat disimpulkan mungkin dahulu terdapat sekurang-kurangnya lima bangunan suci, yang sebagian bersifat Siwa dan sebagian lagi Buddha. Selain itu, terdapat suatu prasasti berangka 1351 M yang menyebutkan pendirian suatu bangunan suci untuk para pendeta Siwa dan Buddha yang meninggal bersama Kertanegara. Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa Candi Singasari bersifat campuran Siwa-Buddha.
 
Candi Singasari dalam Sejarah
      Kakawin Nagarakretagama karangan Prapanca, pupuh XLII-XLIII, menyebutkan bahwa Raja Kertanegara adalah seorang raja yang tiada bandingnya di antara raja-raja di masa lampau. Ia menguasai segala macam ilmu pengetahuan seperti Sadguna (ilmu ketatanegaraan), Tatwopadeso (ilmu tentang hakikat), patuh pada hukum, teguh dalam menjalankan ketentuan-ketentuan agama yang berhubungan dengan pemujaan Jina (apageh ing Jinabrata), tekun berusaha dalam menjalankan prayogakrya (ritus-ritus Tantra). Disebutkan pula bahwa sang Raja jauh dari tingkah alpa dan congkak, tawakal dan bijak, menganut agama Buddha.
 
     Perkembangan Candi Singasari dapat dihubungkan dengan Raja Kertanegara. Bangunan ini kemungkinan didirikan bersamaan dengan waktu diadakan upacara sraddha (upacara untuk memperingati 12 tahun sesudah raja wafat) pada 1304 M, semasa pemerintahan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Kertanegara adalah raja terakhir Singasari yang memerintah 1268-1292 M. Ia adalah anak Wisnuwardhana. Sejak 1254 M ia sudah dinobatkan sebagai yuwaraja (raja muda). Biasanya raja muda ini sebelum menggantikan raja yang berkuasa penuh, diberikan kedudukan sebagai raja di suatu wilayah.
 
    Pada masa pemerintahannya, ia dianggap telah menghina Kaisar Mongol Kubilai Khan karena selain tidak mau tunduk, ia telah melukasi muka utusannya yaitu Meng-chi, sehingga Kubilai Khan memutuskan menggempur Jawa sebagai hukuman atas tindakan Kertanegara tersebut. Penyerangan ini dilakukan pada 1292 M dipimpin oleh tiga panglima perang, yaitu Shih-Pi, Iheh-Mi-Shih, dan Kau Hsing.
Sementara itu di dalam negeri sendiri Kertanegara menghadapi pemberontakan yang dipimpin Jayakatwang, raja bawahan Kertanegara. Kertanegara gugur dan dicandikan di Singasari.

Pemugaran

       Pada 1934 keadaan Candi Singasari sangat rusak, sehingga pemerintah Hindia Belanda melakukan usaha untuk menyelamatkannya dengan membongkar sampai kepada baturnya, kemudian membangun kembali selapis demi selapis. Pembangunan kembali seluruhnya tidak memungkinkan, karena banyak bahan asli yang hilang, terutama dari puncak-puncak bilik samping. Candi dibangun kembali sampai kepada atap tingkat dua dan itu pun tidak lengkap. Pekerjaan pembangunan kembali selesai tahun 1936.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa Singasari memegang peranan penting di masa lalu. Maka dari itu, peninggalan-peninggalannya yang tersisa patutlah dilestarikan sebagai benda cagar budaya seperti diatur dalam Undang-Undang No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang antara lain berbunyi: Upaya melestarikan benda cagar budaya dilaksanakan selain untuk memupuk rasa kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jatidiri sebagai bangsa yang berdasarkan Pancasila, juga untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pemanfaatan lain dalam rangka kepentingan nasional.

Kepustakaan

Abas, H.M.S, dkk. 2001. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaandi Jawa Timur. Jawa Timur: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.
Agus Sunyoto. 2000. Petunjuk Wisata Sejarah Kabupaten Malang. Malang: Lingkaran Studi Kebudayaan Malang.
 
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Narasumber
Masyarakat Sekitar Candi Singasari 
 
 Sumber Foto
Koleksi Foto Tim Wacana Nusantara
Sumber Tulisan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s