Candi Tikus


         Candi Tikus terletak di wilayah administratif Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten. Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.

 
Deskripsi Bangunan
     Candi Tikus merupakan bangunan yang berhubungan dengan air (petirtaan) dengan panjang 25,40 meter, lebar 23,60 meter dan tinggi 5,20 meter, berada pada kedalaman ± 2 meter dari permukaan tanah. Bangunan Candi Tikus tersusun dari batu bata sebagai bahan struktur utama Candi, dan batu andesit sebagai bahan utama untuk  jalawadra (Pancuran air).
 
Batur dan menara Candi Tikus
 
     Candi Tikus terdiri dari batur (kaki candi) dengan menara yang diperkirakan berbentuk miniatur Candi di atasnya serta terdapat kolam yang mengelilingi batur. Batur tersebut bertingkat dua, menempel pada dinding sisi selatan kolam. Pada masing-masing tingkat terdapat empat menara. Akan tetapi, pada saat ini menara yang masih terlihat utuh hanyalah menara tengah pada batur kedua sisi utara, sebagian menara hanya tinggal bagian kakinya saja bahkan ada yang telah hilang sama sekali. Dengan demikian seharusnya ada delapan menara yang mengelilingi menara utama/puncak sebagai sentralnya (yang di duga merupakan replika sebagai dari gunung Mahameru/meru.
 
Hiasan roset (ceplok bunga) pada kaki menara
 
 
Jenis Roset yang Tim Wacana temui di Kaki-kaki Menara Candi Tikus
 
 
 
      Tangga masuk ke Candi Tikus berada di sisi utara, berbentuk tangga dari bata yang menjorok kearah kolam. Di kanan kiri tangga masuk terdapat semacam kolam kecil yang di kelilingi oleh bilik bata.
 
Kolam berbilik mengapit Tangga Masuk
 
      Di sekeliling dinding batur terdapat jalawadra yang berbentuk makara (apa itu makara?) dan kuncup teratai. Seperti halnya dinding batur, pada dinding kolam terdapat pula pula pancuran-pancuran namun, sebagian besar pancuran air pada dinding kolam tidak berhiaskan makara atau kuncup teratai,mungkin sudah hilang karena ada beberapa pancuran memiliki jalawadra.
 
Jalawadra Kuncup Teratai
 
Jalawadra Makara
  
 
Jalawadra pada Batur
 
 
Jalawadra pada dinding kolam
 
Candi Tikus dalam Sejarah
     Nama Candi Tikus menurut informasi yang didapat, merupakan nama yang diberikan oleh penduduk sekitar. Disebut demikian, karena ketika dilakukan penggalian pada tahun 1914 (atas prakarsa bupati Mojokerto bernama R.A.A Kromodjojo Adinegoro), terdapat sarang tikus dalam jumlah yang cukup banyak.
 
     Candi Tikus menengok sejarahnya jauh lebih lama lagi, diperkirakan dibangun pada abad ke 13. Keterangan Candi Tikus dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit,  sering dihubungkan dengan keterangan Prapanca. Dalam Negarakertagama, Ia menyebutkan bahwa ada tempat untuk mandi raja dan upacara-upacara tertentu yg dilaksanakan di kolam-kolamnya. Ada beberapa peneliti yang telah memberikan pendapatnya perihal Candi Tikus diantaranyat Bernet Kempers (1954) menyebutkan keberadaan Candi Tikus yang Ia kaitkan dengan simbolisasi  Mahameru dan sumber mata air suci.senada dengan pendapat Bernet, Didik Samsu (1987) menyebutkan keberadaan Candi Tikus terkait dengan simbolisasi air yang keluar dari gunung, dan erat dengan sistem kepercayaan masyarakat pada jamannya. Sedangkan menurut A.S. Wibowo, candi Tikus berfungsi sebagai barometer debit air waduk dan bendungan di sekitar Trowulan.
       
     Sampai saat ini, mengenai fungsi Candi Tikus tidak diketahui secara pasti akan tetapi , melihat dari bentuk serta susunan candi, bangunan ini merupakan tempat bagi petirtaan yang yang berhias, tidak diketahui apakah dipakai untuk umum atau khusus.
 
 
Pemugaran
 

       Candi tikus Secara resmi oleh pemerintah Indonesia dipugar pada tahun 1984-1989 namun, menurut informasi yang ada, Candi Tikus diduga pernah mengalami pemugaran sebelumnya (kemungkinan besar pada masa pemerintahan Hindia Belanda). Laporan secara terperinci mengenai pemugaran tersebut memang belum didapat, namun terdapat banyak bukti bahwa pernah dilakukan pemugaran sebelumnya. Diantaranya adanya percobaan pemasangan kembali mencara Candi induk dengan menggunakan semen serta pembuatan saluran pembuangan di sisi selatan yang mengarah ke barat dengan memanfaatkan gorong-gorong.
 
      Pemugaran oleh pihak pemerintah dilakukan secara partial dan dinyatakan purna pugar pada tanggal 21 September 1989.
 
 
Kepustakaan:
Abas, H.M.S, Drs, M.Si. Dkk. (2001). PENINGGALAN SEJARAH DAN KEPURBAKALAAN di Jawa Timur. Jawa Timur: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.
 
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. (1994). Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Narasumber
Masyarakat sekitar Trowulan
 
 Sumber Foto,

Koleksi Foto Tim Wacana Nusantara

Sumber Tulisan

http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/496

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s