Aksara Jawa Rumit?


d1
Banyak bangsa beradab yang masih memanfaatkan tulisan gambar dalam tradisi tulis menulisnya. Bangsa Jepang yang maju industrinya masih memanfaatkan aksara kanjinya dalam tradisi komunikasi tertulisnya, demikian juga dengan Cina, Korea, negara-negara di Timur Tengah. Mengapa orang-orang Jawa bersikukuh dengan huruf latinnya, sementara mereka juga memiliki aksara Jawa? Kapan generasi muda dapat mem”feysen”kan aksara Jawa dalam pergaulannya seperti halnya terjadi negara-negara maju. Jepang begitu fashionable dengan kanji, Arab Saudi fashionable dengan huruf Arab, India yang maju industri filmnya juga fashionable dengan huruf Hindinya, dan sebagainya. Kalau saja aksara Jawa dapat digunakan seperti halnya aksara Hindi (India), mungkin kita telah maju selangkah lagi dalam pembudidayaan budaya lokal.
d2

Bahasa Jawa memiliki unsur-unsur yang sangat kompleks, antara lain: gramatikal, aksara, kosa kata, peribahasa, dasa nama, tata krama bahasa. Masing-masing unsur memiliki bagian-bagian yang lebih lengkap lagi. Aksara Jawa terdiri dari 20 huruf: ha na ca ra ka; da ta sa wa la; pa da ja ya nya; ma ga ba tha nga dengan 20 pasangannya.

d3

Aksara Jawa mengandung legenda di dalam penyusunannya, yang kurang lebih demikian: Konon tersebutlah dulu Aji Saka yang telah menjadi penguasa di sebuah kerajaan (disinyalir Medang Kamulan). Kemudian dia mengutus seorang yang dipercayainya untuk mengambil barangnya yang dia tinggal di tempat lain. Utusan itu (caraka) segera pergi menemui orang yang dimaksud. Akan tetapi utusan yang membawa barang tadi (penjaga) sepertinya tidak percaya kalau orang yang datang kepadanya itu juga caraka dari Aji Saka.

Keduanya saling beradu pendapat, saling ngotot mempertahankan keyakinan masing-masing: siapa yang berhak membawa barang milik Aji Saka, siapa yang lebih dipercaya sama tuannya. Keduanya tidak menemukan komunikasi yang efektif, yang ada hanya perang mulut berlanjut ke perang uji kesaktian. Keduanya terbukti sakti semuanya, tidak terkalahkan dan tidak terpisahkan. Akhirnya keduanya mati bagai bangkai. “Anjing rebutan tulang” itulah perumpamaannya. Begitu Aji Saka melihat kenyataan tersebut, maka tersusunlah huruf Jawa.

“Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Pa Da Ja Ya Nya, Ma Ga Ba Tha Nga”.

Ada dua caraka, yang saling berselisih paham, sama-sama hebatnya, mati bersama

d4

Untuk menghasilkan bunyi, aksara Jawa memiliki seperangkat pasangan dan sandhangan yang menyertai suatu huruf baik di bawah, atau di atasnya, atau samping kiri kanannya. Layar (/) di atas huruf akan menghasilkan huruf r mati. Bulatan besar di atas huruf  berbunyi e seperti pada kata demam, renang, senang, tegang. Taling di depan huruf berbunyi e seperti pada kata-kata mete, merah. Taling tarung yang berada di samping kiri dan kanan huruf untuk membentuk suku kata bervokal o, contohnya pada moto, tomat, mohan, molto. Kalau dalam bahasa Indonesia ada huruf kapital maka di dalam bahasa Jawa ada aksara murda.

d7
d6

Harapannya di masa mendatang Aksara Jawa bernasib sama seperti halnya aksara kanji di Jepang, aksara Korea, aksara Hindi, aksara Arab di Timur Tengah. Jika film-film yang diimpor memakai aksara-aksara dalam bahasa mereka, maka, misalnya, seorang Hanung Bramantyo memproduksi sebuah film dengan penulisan nama kru-krunya dengan aksara Jawa. Indofood pun menuliskan label halal juga dengan aksara Jawa. Siapa lagi yang akan melestarikan aksara Jawa, kalau bukan generasi muda. Orang-orang Jepang tidak membuat mereka terasing dengan aksara Jepangnya. Sudah siapkah generasi muda Indonesia, khususnya di Jawa.

Dagadu, sebuah perusahaan di bidang industri kreatif garmen, telah menyisipkan sepenggal kata atau dua patah kata bertuliskan Jawa. Demikian juga dengan Jogja TV yang secara pelan tetapi pasti mengenalkan aksara Jawa dalam program yang mudah dipahami, karena berupa satu dua kata, kemudian dibaca, dan diberi makna. Banyak mula generasi muda yang memakai rok dengan coretan aksara Jawa.

Apa bedanya antara Javanese dengan Japanese, Java dengan Japan. Suatu kosa kata yang hampir sama bukan. Akan tetapi memang Japan telah maju ke depan. Kenapa tidak kita mulai dari generasi muda sekarang untuk merintis gerakan “Fashionable of Javanese Letters”.

Kepustakaan:

Komentar
  1. Suliyanto mengatakan:

    Wong Indonesia umume racake sekolah kinarya sarana antuk pangupajiwa. Kareben antuk pangupajiwa kang bregas, mula generasi mudha kang sredha-sudi sinau basa Jawa, kalebu aksarane, diwenehana kalodhangan kang bawera ing mengkone dimen manjila kawasisane, satemah antuk pakaryan kaya kang dikarepake. Saliyane kuwi, generasi mudha Indonesia, Jawa mligine, kudu gelem sinau lan nyinau basa lan budayane dhisik sadurunge ‘njajah desa milang kori’ basa lan budaya liya. Kanthi mangkono, dadia apa besuke lan urip aneng ngendi bae cetha jati dhirine. Mligi tumraping wong Jawa, ora bakal lali marang basane, uga wasis ngecakake aksara Jawa, temahan kuwawa ndhudhuk-ndhudhah mutiyara adiluhung kang kamot ing pustaka-pustaka mawa aksara Jawa. Dene mangarepe, aksara Jawa bisa jajar-sumandhing karo aksara-aksara liya kang aneng salumahing bumi sakureping langit iki. Kabeh mau bisa kawiwitan saka wong Jawa dhewe dhisik. Muga-muga sembada ing karsa. Nuwun.

  2. suryo mengatakan:

    pancen bener sak iki wong jowo lali jowone,bocah sak iki ra ngerti lan ra iso moco tulisan jowo. embuh piye poro mbah-mbah ndisik sing dadi punggowono negoro kok ora gawe kawicaksanan ben tulisan lan boso jowo dadi boso lan tulisan wajib kapindo sak wise boso Indonesia.umpomo di gawe ngono inysa Alloh boso lan tulisan jowo tetep di mangerteni nganti sak iki.ananging perkorone ora segampang kuwi.

  3. bude sul mengatakan:

    ayo…. awak dw kawulo mudho podho molai nggalakno boso lan tulisan jowo

  4. handoko mengatakan:

    Aku kopi pak

  5. Hadi Wardoyo mengatakan:

    Golek woh mulwo saya rekasa, basa lan aksara jawa isa ilang musna
    lamun awake dhewe ora gelem mersudi nguri-uri samubarang kang kamot ing beasa lan kasusastran jawa. Awake dhewe kudu gumregut ngg ngrumbakane anggegulang amrih lestari lan moncere basa lan kabudayan jawa

  6. jumadi mengatakan:

    kulo ngaturken matur suwun dumateng Bpk Arif Novianto (penyusun Admin),… inggih kulo nembe mangertos yen huruf jowo ho,no,co,ro dan seterusnya meniko karanganipun Aji saka, kulo kinten karanganipun Kanjeng Sunan Kali jaga, la,… kulo angsal rapalan ho,no,co,ro,ko dan seterusnya dibalik ( ngo,tho,bo,go,mo…..dst ) meniko menopo leres karanganipun Kanjeng Sunan KaliJaga? kulo nyuwun perso…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s