Kawruh Kalang & Kawruh Griya


Kawruh Kalang & Kawruh Griya

Teks Kawruh Kalang dan Kawruh Griya adalah teks arsitektur Jawa yang diproduksi dalam masa peralihan abad 19-20. Kawruh Kalang dengan eksplisit disebut pembuatan yang dalam isinya memang dengan rinci menyebutkan bagaimana mengukur dan memberikan rupa akhir dari bagian konstruksi. Secara ringkas, ada kesan bahwa naskah ini memusatkan perhatian pada ihwal pelaksanaan pembuatan sesuatu lingkung-bina itu seharusnya ditanagani oleh undhagi. Kawruh Kalang jauh lebih diperlukan undhagi karena langsung berkenaan dengan tugas pelaksanaannya. Kesan umum tentang Kawruh Griya sebagai naskah yang terhadap awam merupakan perkanalan akan lingkung-bina Jawa, sedangkan bagi para undhagi merupakan pengkayaan pengetahuan.

Masih dalam dimensi penafsiran sebagai meng-kata-kan, naskah yang dikaji diyakini mengindikasikan pemikiran arsitektural Jawa yang karakteristik yakni berawal dari tengah terus ke bawah, ke bumi, dan ke atas, ke angkasa.

Griya Jawa

Isu-isu pokok perancangan yang harus disertakan dalam kehadiran Griya Jawa, yaitu: isu dhapur griya, isu guna griya, angsar/watak dan isu petangan.

Isu Dhapur Griya

Isu yang berhubungan dengan system struktur kerangkan bangunan serta dengan rupa bangunan. Ditinjau dari system struktur rangka batang , rangka gelagar struktur dari griya jawa disebut balungan, kerangka bangunan; sedangkan ditinjau dari bentuk atau rupa bangunan, rangkaian gelagar tadi disebut dhapur griya.

Terdapat 4 tipe dhapur griya, yaitu:

 Tajug, Juglo/joglo, Limasan dan Kampung

Terhadap tampilan akhir ini, griya jawa memberikan sebutan yang tersendiri, dan semuanya diambil dari cirri-ciri manusia, yakni jaler-estri (lelaki-perempuan) atau enem-sepuh (muda-tua). Tampilan akhir yang cenderung berkesan meninggi atau menjulang dan ramping dikatakan sebagai penampilan yang jaler (lelaki) atau enem (muda), sedangkan yang merendah dan tidak ramping dikatakan sebagai estri (perempuan) atau sepuh (tua).

Isu Guna Griya

Suatu gugus bangunan niscaya dibuat untuk keperluan dan peruntukan yang tertentu. Ketropisan arsitektur jawa tengah mengandaikan rumah tinggal orang jawa dengan sebuah pohon rindang yang besar. Dalam hal ini, ke-ruang-an (spatiality) dank ke-waktu-an (temporality) dari bernaung atau berteduh menjadi factor yang penting.

Bernaung bukan untuk dipahami sebagai tindakan bersembunyi atau memisahkan diri dari lingkungan sekitar, tetapi sepenuhnya adalah tindakan untuk tidak secara langsung diterpa hujan atau terik matahari. Pada arsitektur jawa tengah, penaung/peneduh muncul berupa empyak/payon. Kehadiran empyak/payon adalah melayani guna griya secara tertentu, yaitu:

  • Mengindikasi kekhususan griya. Dilakukan dengan petangan terhadap jumlah usuk, ketinggian empyak/payon yang menghasilkan volume ruang. Dalam hal ini, bukan lantai yang membentuk volume ruang, melainkan atap.
  • Empyak/payon melayani guna griya sebagai penaung/peneduh agar kegiatan dapat dilakukan dengan nyaman. Dalam hal ini tinggi-rendahnya atap menjadi penentu besar volume yang tercipta pada penaung/peneduh.

Bernaung dan berteduh juga merupakan kegiatan yang berjangka waktu sementara. Sesuai dengan pepatah jawa “wong urip kuwi saderma mung mampir ngombe”. Kata ‘mampir’ mengisyaratkan sebuah perjalanan panjang, yaitu hidup duniawi bagi orang Jawa.

Komentar
  1. ciciy mengatakan:

    nyari bukunya dimana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s