Ketoprak yang Tak Melulu Di(per)mainkan Rakyat


Ketoprak yang Tak Melulu Di(per)mainkan Rakyat

image

GENERALISASI terhadap ketoprak sebagai seni pertunjukan rakyat (kecil!) agaknya perlu segera direvisi. Anggapan bahwa ketoprak melulu bercerita tentang masa lalu, juga sudah saatnya ditinjau ulang. Tak sebatas memainkan sekaligus mempermainkan kehidupan kaum elite, dunia ketoprak juga dimainkan sekaligus dipermainkan oleh ”rakyat besar”. Tak berhenti bertutur tentang masa silam, ketoprak juga memintal masa kini sekaligus menggurat yang menjelang.

Adalah KRT Wreksadiningrat, Bupati Gedongkiwo Kasunanan Surakarta yang senantiasa disebut sebagai cikal bakal ketoprak. Dialah yang yang memiliki gagasan ikhwal kethoprak lesung.

Lebih dari seabad yang silam, tatkala di Surakarta berjangkit penyakit pes, Wreksadiningrat amat terharu melihat banyak warga kota mati terkapar di jalan. Adapun yang terbaring sakit di barak-barak darurat merintih tanpa mendapat pertolongan dan hiburan.

Maka, dia segera mengerahkan para abdi untuk bertugas merawat dan menghibur orang-orang yang sakit itu. Beberapa orang yang bergabung menjadi kelompok penghibur membawa seperangkat tetabuhan, berupa lesung besar dan kecil. Para pemain yang terdiri atas 5-7 orang dan seluruhnya pria itu bergantian menari, membunyikan tetabuhan, dan nembang. Dalam waktu semalam, kelompok penghibur tadi menggelar tiga cerita, berupa dongeng binatang atau fabel. Tontonan ketoprak lesung yang bentuk sederhana itu sanggup menghibur orang-orang yang sedang menderita.

Bertahun-tahun setelah itu, beberapa seniman alam di daerah Surakarta mencoba melestarikan ketoprak lesung. Mereka membentuk grup-grup kecil dan menambah instrumen siter, gender, kendang, terbang, dan genjring. Mereka pun mulai manggung di luar tembok keraton dan memakai kostum ala rakyat Turki atau Arab dan tetap mengambil cerita-cerita rakyat Jawa. Akan halnya dialog, dikidungkan sambil menari.

Begitulah kurang lebih narasi Herry Gendut Janarto tentang kemunculan ketoprak untuk kali pertama serta perkembangan pada tahap yang paling mula dalam Ketoprak Orde Baru: Dinamika Teater Rakyat Jawa di Era Industrialisasi Budaya (1997).

Imaji Kawula

Pada masa-masa selanjutnya, sebagai seni petunjukan, ketoprak memang tumbuh dan berkembang di masyarakat luar aura wibawa sistem kekuasaan istana. Ia nyaris hanya dimainkan oleh mereka yang tergolong massa rakyat kecil, bukan kelas priyayi atau sentana dalem. Itu berbeda dari wayang wong ataupun drama tari Jawa, misalnya.

Maklumlah jika kemudian ketoprak, bersama ludruk, masuk dalam kasifikasi seni pertunjukan rakyat, sebagaimana diungkapkan oleh James R Brandon dalam Theatre in Southeast Asia.

Maklumlah pula jika ketoprak kerap kali mengalaborasi lakon-lakon yang menjadi sarana ekspresi massa rakyat kecil. Simak saja kisah-kisah semacam Ken Arok, Damarwulan, Jaka Kendhil, dan Jaka Tingkir. Juga Saridin.

Mereka bukanlah sosok yang lahir dari gua garba istana. Mereka adalah anak-anak desa yang dibesarkan di wilayah, yang baik secara fisik maupun kultural, ”adoh ratu cedhak watu”. Namun dengan segala daya upaya yang mereka miliki, mereka toh berhasil menembus beteng istana yang dipersepsi sarat akan keangkuhan dan basa-basi itu.

Di sisi lain, tak sedikit para ”trahing kusuma rembesing madu”, mulai dari Airlangga, Panji Asmarabangun, Anglingdarma, sampai Lokajaya yang memilih namur laku untuk merasakan denyut nadi kawula alit agar pada dirinya berkecambah rasa kumawula.

Tak pelak lagi, lewat cerita macam ini, ketoprak telah menjadi muara bagi mereka yang tergolong rakyat (kecil!) untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tentang ratu adil, ratu kumawula, sabda brahmana raja, dan narasi besar lainnya yang bertaut dengan sublimasi kekuasaan. Namun di sisi lain, di atas panggung, mereka juga senantiasa memainkan dan mempermainkan imaji-imaji yang tidak selalu pasti, stagnan, mandeg, dan ”pakem”.

Pantas saja jika berdasarkan penelitian sepanjang 1993-1999, Budi Susanto SJ dalam Imajinasi Penguasa dan Idetitas Postkolonial sampai pada salah satu simpulan bahwa panggung ketoprak adalah siasat jeli massa rakyat kecil untuk memanfaatkan media komunikasi massa(l) modern dengan segala kenyataan imajinatifnya yang diandaikan, untuk menghasilkan cemooh politik.

Namun tesis seperti itu kiranya pantas diberikan catatan tambahan tatkala kita menyaksikan beberapa sajian ketoprak yang melibatkan para elite (bukan massa rakyat kecil!) belakangan ini. Kehadiran tontonan semacam Ketoprak Guyonan Campur Tokoh yang melibatkan pemimpin lembaga negara, tokoh politik dan pengusaha bsear yang disiarkan secara rutin oleh stasiun televisi nasional dan ketoprak yang melibatkan tak kurang dari dua puluh profesor serta sejumlah tokoh nasional, tidaklah bisa secara tergesa-gesa disebut sebagai sebuah anomali. Apalagi jika makin hari sajian seperti itu makin jamak saja.

Tak sebatas manggung pada event sekelas sedekah bumi, pernikahan, tujuhbelasan, tonil di lapangan sepakbola, pentas di gedung kesenian, ataupun ditayangkan di televisi, tetapi pada satu kesempatan ketopak juga digelar di Pagelaran Keraton untuk menandai puncak peringatan HUT Ke-251 Kota Yogyakarta, Minggu (7/10/2007).

Mengangkat lakon Mangkubumi Hambangun Kutha Wana Asri, pentas tersebut memang memuat kisah untuk mengafirmasi masa lalu, tapi sekaligus juga mengabsahkan masa kini dalam koteks sejarah dan kuasa. Sementara pada kesempatan lain, seraya mengisahkan masa silam, ketoprak sekaligus menerawang ke depan membeberkan panggung kesejarahan dan kekuasaan dalam mengantisipasi sejarah dan kuasa yang menjelang dan hendak diregam.

Maka, tak perlulah terhenyak jika dalam pergelaran ketoprak ”De Profesor” dengan lakon Berdirinya Majapahit di Undip Semarang (27/10/2007) dengan pemain puluhan profesor, birokrat, dan tokoh nasional lainnnya, bahkan calon presiden, muncul aneka pernyataan ”ahistoris”. Diperankan oleh Bambang Soepeno, Dirut Bank BRI, Prabu Kertanegara menjelang kematiannya di ujung keris Jayakatwang masih sempat bilang, ”Ora apa-apa aku mati ing tanganmu. Nanging titenana, sangangatus taun kang bakal kelakon, bakal jumedhul satriya saka Gunungpati kang bakal ngratoni Nuswantara. Yaiku kang aran Sutiyoso utawa Bang Yos….

(Sucipto Hadi Purnom/35)

Komentar
  1. Plolveteavers mengatakan:

    sangat menarik, terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s