Pasa


PUASA

KITA semua paham arti puasa, pengamalan, dan maksud tujuannya. Yang jelas, puasa terdapat dalam ajaran seluruh agama samawi. Dan bagi orang Jawa, puasa, tirakat, bertapa, sudah menjadi adat tradisi yang berlangsung  turun-temurun sejak nenek-moyang dulu.  Salah satu contoh, bagaimana puasa telah mengakar dalam kehidupan orang Jawa seperti tercantum dalam Serat Wulang Reh: Dadiyo lakunireku, cegah dhahar lawan guling, lan aja asukan-sukan, anganggowa sawatawis, ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin.

Orang Jawa sangat menjaga dan terus berusaha meningkatkan kualitas rohani. Seluruh nasihat dalam peribahasa Jawa yang ribuan itu pun, posisinya lebih sebagai ‘’fatwa rohani’’. Bukan rumus perhitungan untuk menyelesaikan persoalan praktis keduniawian, melainkan ajakan untuk menjalankan puasa dan tirakat setiap hari, sepanjang hayat. Jika direnungkan, makna dari cegah dhahar lawan guling, ana sethithik dipangan sethithik, ya jangane ya segane, adalah upaya untuk mengolah dan menata dunia batin manusia.

Puasa dan tirakat di Jawa memang berat, karena cenderung dilakukan setiap hari, setiap saat. Namun, seperti halnya orang yang telah terbiasa memikul beban berat, manakala benar-benar mendapat cobaan (beban kehidupan nyata) tentu akan lebih kokoh, tawakal, dan ikhlas menerimanya. Dengan demikian, beban hidup itu jadi terasa ringan.

Maka tidak mengherankan jika puasa yang dimaknai sebagai upaya pembersihan diri banyak diamalkan orang Jawa sebelum melakukan ‘’pekerjaan besar’’ yang memerlukan dukungan kekuatan lahir batin. Untuk sekadar contoh, setiap penggali sumur tradisional di Jawa pasti berpuasa lebih dulu sebelum ‘’membedah bumi’’ mencari sumber mata air di bawah sana. Bagi mereka yang menganggap menggali sumur sebagai pekerjaan kasar dan fisikal, tentu akan bertanya-tanya: ‘’Mengapa harus puasa? Untuk apa puasanya itu?’’

Nuwun sewu, menggali sumur bukan pekerjaan mudah, dan sederhana. Spirit menggali sumur itu sendiri nilainya sangat tinggi, meskipun dikerjakan oleh kalangan pidak pedarakan yang namanya tak pernah dikenal oleh sejarah kebudayaan. Menggali itu ‘’toh nyawa’’. Artinya, benar-benar membutuhkan dukungan kekuatan lahir batin. Karena si penggali bukan saja menghadapi kesulitan yang kasat mata, tetapi juga harus melawan dan menundukkan diri sendiri juga. Misalnya, selama menggali dia harus mengikuti unen-unen: 1) gremet-gremet waton slamet, alon-alon waton kelakon, 2) kebat kliwat, ngangsa marakake brahala. Soalnya, menggali sumur akan sangat berbahaya jika kesusu, grusa-grusu, tumindak waton, serta sengaja nrajang angger-anger dan wewaler yang bersumber pada perilaku bumi yang tengah digali. Sekali saja si penggali berbuat ceroboh, akibatnya sangat nggegirisi!

Melaksanakan dua peribahasa di atas bukannya mudah. Karena itulah dia perlu puasa lebih dulu. Artinya, menyiapkan kondisi batin agar selama menggali diparingi teguh tanggon, gangsar slamet oleh Gusti Kang Akarya Jagad. Menggali sumur tidak boleh kakehan polah, menjauhi kala menga, serta pikiran perasaan kotor, yang akan sangat berpengaruh terhadap hasil kerjanya. Selain itu, seluruh sikap perilaku si penggali sedikit banyak juga dipercaya akan ‘’menitis’’ pada baik buruknya sumur itu nanti.

Jadi, tidak mengherankan jika ada ritualisasi sujud syukur yang dilakukan penggali sumur ketika air berhasil memancar hingga mata kaki. Sujud syukur itu adalah rangkaian dari puasa yang dilakukan beberapa hari lalu. Kalau puasa sebelumnya bertujuan membersihkan diri lahir batin agar mampu melaksanakan tugas berat yang akan diemban, sujud syukur dalam sumur merupakan wujud rasa syukur bahwa pekerjaan tadi berhasil diselesaikan.

Dan lebih dari pada itu, adalah sebagai tata laku memohon kepada Tuhan YME agar sumur itu lestari (tidak pernah kering), airnya enak diminum, bermanfaat pada pemilik dan tetangga kanan kiri, tidak membawa malapetaka (misalnya untuk bunuh diri), serta tidak dikotori oleh banyak peristiwa keduniawian lain.

Demikianlah, puasa di Jawa benar-benar merupakan bagian nyata dari tata urip, tata krama, dan tata laku. Sebab, kebersihan batin dan perilaku sangat diperlukan untuk mengemban pekerjaan-pekerjaan besar yang bernilai tinggi bagi kemanusiaan. Karena itulah, dukun pengantin dan calon mempelai umumnya berpuasa lebih dulu sebelum tempuking gawe. Begitu juga sebelum orang mendirikan rumah, menanam padi, mendaki gunung, melamar pekerjaan, memulai usaha, dan sebagainya.

Puasa adalah bentuk pengolahan batin dan perilaku bagi orang Jawa untuk memerangi hawa nafsu, sehingga batin menjadi heneng (konsentrasi), hening (bening/terang), dan heling (ingat kepada Tuhan YME) sehingga pekerjaan dan cita-cita kita dapat terlaksana. (Oleh Iman Budi Santoso)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s