Penyair Geguritan Jawa Keturunan Tionghoa


Geguritan Koh Hwat di Punggung Kaus, Jika di Ranah Minang, Padang, Sumatera Barat, dikenal Christine Hakim yang menuangkan pantun di atas kaus (Kompas, 8/2), di Kota Gudeg, Yogyakarta, juga ditemukan sosok yang berbuat serupa. Dia adalah Koh Hwat. Keduanya sama-sama pengusaha sekaligus warga keturunan Tionghoa.

Yang membedakan hanyalah tulisan pada kaus. Christine Hakim menuliskan pantun, sedangkan Koh Hwat mencoretkan geguritan atau sajak dalam bahasa Jawa. Pinasthi/apa bener kagaris pinasthi/yen watuk iku bisa ditambani/ning nek watak digawa tekaning pati/ mulane ninggala karma sing sejati/uga ora methik gela ing panguripan iki/lan tetep sumeleh kalihan ajaraan gusti. Demikian tertulis dalam kaus warna merah hati dengan judul “Pinasthi” atau pinilih kang mesthi dengan terjemahan bebas ‘pilihan yang sudah pasti’.

Meski belum ditabalkan sebagai seorang penyair berkelas nasional, Koh Hwat yang tanggal 10 Februari lalu berulang tahun ke-58 menekuni geguritan sejak bulan April 1999. Terhitung sampai sekarang, ia telah menulis ratusan judul geguritan. Jika ditambah sajak dalam bahasa Indonesia dan Inggris, karya Koh Hwat lebih dari 1.800 judul. Sajak dalam bahasa Jawa yang dikenal dengan sebutan geguritan itulah yang kemudian ia abadikan lewat tulisan di atas kaus dan ditujukan untuk umum.

Oleh berbagai kalangan, kepiawaian Koh Hwat menulis geguritan cukup mencengangkan mengingat ia seorang keturunan Tionghoa yang terlahir di Yogyakarta dengan nama Oei Tjhian Hwat, kemudian berganti nama menjadi Handoyo Wibowo lewat proses naturalisasi. “Saya mampu berbahasa Jawa karena pergaulan saya dengan staf dan karyawan saya yang nyaris keseluruhan dari etnis Jawa,” tutur Koh Hwat. Tentang kelihaian menulis geguritan itu sendiri, bapak dua anak yang di kotanya, Yogyakarta, dikenal sebagai pemilik tiga toko fashion dan pengelola sebuah pabrik rokok tersebut, diperoleh secara otodidak.

Ponsel

Ketika ditemui, Koh Hwat tengah duduk di ruang tamu di rumahnya di bilangan Kampung Nitidipuran, sisi barat Jalan Malioboro, Yogyakarta. Tangan Koh Hwat terlihat memegang telepon seluler dengan bungkus warna perak. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak ke atas, kemudian jari-jemarinya menekan tuts ponsel. Setelah susunan kata demi kata di ponsel terlihat rapi, Koh Hwat pun langsung mengirim lewat sarana pesan pendek ke alamat stafnya yang berkantor di Jalan Jenderal A Yani, Yogyakarta, sekitar 2 kilometer dari Nitidipuran ke arah timur. Oleh anggota stafnya, pesan pendek itu kemudian diketik ulang di atas kertas dan didokumentasikan.

Itulah sekelumit proses kreatif Koh Hwat saat menyusun sajak atau geguritan. Begitu ia memperoleh ilham, secepat kilat ia meraih ponsel dan menuangkan idenya ke dalam ponsel. Jika tempat tak memungkinkan, karena masih di jalan atau ada kesibukan lain yang tak bisa ditunda, ia baru menyempurnakan susunan kalimat demi kalimat tersebut setiba di rumah. “Dengan merenung saat mencari inspirasi, di situlah Tuhan membisikkan muatan dalam bentuk sinyal-sinyal. Melalui latihan keterampilan serta bimbingan-Nya, terbitlah karya tersebut dalam bentuk sajak atau geguritan,” tutur Koh Hwat. Ia berkata lagi, “Sebagai bukti dan kejadian yang saya rasakan, yaitu waktu membaca sajak atau geguritan tersebut, dalam hati saya bertanya, apakah karangan ini adalah karangan saya. Di situlah timbul kesadaran bahwa keterbatasan ternyata muncul terealitas dengan kekurangan yang saya miliki.

” Tiga buku

Koh Hwat, seperti ditunjukkan oleh tiga buku yang telah diterbitkan, berturut-turut tahun 2000 berisi 99 judul sajak dan geguritan, kemudian 2002 berisi 333 judul sajak/geguritan, dan buku ketiga terbit tahun 2009 berisi 999 judul sajak/geguritan. Yang istimewa, semua sajak/geguritan dalam buku pertama ditulis tangan, bukan huruf ketik komputer. “Saya masih sanggup menulis tangan karena hanya berjumlah 99 judul. Ketika diminta menulis lagi untuk buku kedua dan ketiga, saya tak sanggup, mengingat jumlahnya sudah sedemikian banyak,” tutur Koh Hwat. Beruntung tulisan tangan Koh Hwat sangat bagus dan sangat rapi sehingga mudah dibaca. “Padahal, ketika duduk di bangku kuliah, saya jarang menulis kecuali menghitung, menghafal, dan mencoret-coret rumus kimia,” tutur Koh Hwat yang pernah duduk di Fakultas Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada. Latar belakang pendidikan eksakta ini menjadikan isi geguritan dan sajak karya Koh Hwat terlihat ringkas, padat, dan jelas. Buah karya Koh Hwat berupa sajak dan geguritan yang semula hanya untuk kalangan sendiri, sejak tahun 2000 bisa dinikmati oleh para pencinta sastra menyusul perkenalannya dengan Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Yogyakarta Bambang Widiatmoko.

Bambang melukiskan: “… di tengah keheningan malam di batas utara kota Yogyakarta, saya kedatangan seorang tamu yang mengesankan. Mengesankan, karena dia adalah seorang warga keturunan Tionghoa yang lebih Jawa dan Indonesia dibandingkan dengan saya sendiri”. Lebih jauh Bambang berkata, melalui beberapa kali pertemuan yang akrab, mereka mendiskusikan sajak-sajak yang ditulis Koh Hwat. Namun, belum pernah satu karya pun dipublikasikan di media massa. Yang lebih mengejutkan, Koh Hwat juga piawai dalam menulis geguritan, sebagai salah satu bentuk kecintaannya terhadap budaya Jawa.

Atas dorongan Bambang, kumpulan sajak dan geguritan karya Koh Hwat kemudian dimasyarakatkan KSI Yogyakarta lewat tiga buku yang sama-sama diberi judul Nurani Peduli. Pencinta sastra pun gempar sehubungan isi buku tersebut ditulis oleh seorang pengusaha yang notabene keturunan Tionghoa. “Di sela-sela hiruk-pikuk Malioboro yang terasa kian padat dan kehidupan yang bergegas, di sana saya menemukan mata air yang menyejukkan, yakni bertambahnya seorang penulis sajak dan geguritan,” tulis Bambang dalam kata pengantar buku Nurani Peduli edisi pertama (2000). Penuh ajaran dan nilai Kehadiran Koh Hwat di jagat sastra Jawa, khususnya geguritan, cukup menarik lantaran karya-karyanya mengandung nilai, ajaran, dan filosofi Jawa. Bahkan sejumlah pengamat sastra dan budaya Jawa menilai geguritan Koh Hwat merupakan ungkapan untuk mbabar rasa Jawa dan ndangir tresna. Maksudnya, geguritan karya Koh Hwat banyak menguraikan rasa yang nJawani dan menumbuhsuburkan katresnan. Namun, katresnan yang muncul lewat geguritan Koh Hwat tidak sekadar cinta asmara, tetapi lebih pada kasih sayang kepada sesama manusia dan penggugah kepedulian kepada pihak lain. “Kelebihan lain adalah penerapan konvensi persajakan yang sangat ketat, baik dalam sajak maupun geguritan,” tutur Joko Budiarto dalam KRjogja.com.

Doktor Damardjati Supadjar dari Fakultas Filsafat UGM berkata, membaca sajak dan geguritan Handoyo Wibowo seolah-olah orang tengah menatap gurat ungu mentari pagi: semua serba penuh harapan. Di sisi lainnya, pembaca dibawa ke nuansa tengah malam, ketika panorama di langit bertabur bintang dan samar-samar di celah-celahnya tampak perkasa bayangan lintang Bima Sakti. Sulamannya unik, bukannya dengan menambah benang. melainkan demi keindahan di baliknya, kain yang rapat dibuat transparan. “Nuraninya yang penuh peduli merupakan serat-serat baru bagi babad kesusastraan Indonesia,” katanya.

Geguritan Koh Hwat ternyata tak hanya berhenti ditulis di punggung kaus dan dibukukan, tetapi juga dilestarikan lewat “Tembang Jawa Pitutur” yang direkam ke dalam VCD.

Kamulyaning urip iku kudu dikebaki apike laku/Isih diangeti tutur kang tinemu/Dumunung sumelehe mlebu/Sumringah ing tentreme kalbu….

Terjemahan bebasnya kira-kira: kemuliaan hidup itu harus dipenuhi jalan baik, sekaligusdihangatkan dengan tutur bahasa yang runtut. Ini bisa membuat ketenteraman hati. (POM)

Sumber: http://www.mail-archive.com/budaya_tionghua@yahoogroups.com/msg36617.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s