Pintu Surga Kumbakarna


Pintu Surga Kumbakarna

JIKA ingin mendapatkan dunia yang senantiasa tenang, janganlah membangunkan tidur indahku. Sebab, dalam tidur bertabur anggur dan keindahan sulur-sulur beringin yang menjulur di kolam biru, tidur pula segala keinginan busuk untuk membunuh, tidur juga kehausan untuk mereguk kenikmatan, dan padam pula berahi dan syahwat untuk bercumbu dengan keagungan.

Tidur, kau tahu, adalah mata air ketenteraman. Dalam bening mimpi, aku bisa menatap coreng-moreng wajahku yang penuh hawa nafsu. Bahkan dalam jernih igauan, aku bisa bercakap-cakap dengan jagad alit dan jagad ageng, serta jagad agung-ku.

Ya, ya, tidur juga bisa ibarat kuda sembrani yang membawaku kembali selaput sunyi rahim ibu yang hangat. Dan dalam tidur yang tak makan, tak berpikir, tak berkehendak, tak melihat, dan tak mendengar itu, telah kutemukan suwung yang sunya, nirwana yang arupa.

Apakah tidur juga merupakan samadi tak kunjung henti? O, mengertilah Wibisana, adikku, dalam tidur raksasa sebesar gunung, ada pasaning pasa. Ada penghentian kerakusan yang setiap hari melahirkan hasrat untuk menggelembungkan perut. Ada penghancuran ketamakan yang setiap saat membuncahkan syahwat untuk bersenang-senang di singgasana kekuasaan. Dan ada juga pemingsanan nafsu agar tak senantiasa tergoda kegemerlapan sihir keduniawian.

Apakah dalam tidur mimpi indah senantiasa bisa menjadi kenyataan? Mengapa kau masih mempersoalkan keindahan atau ketakindahan, adikkku? Mengapa masih ingin kaupercakapkan kenyataan dan ketidaknyataan? Dalam tidur yang diberkati para dewa, segala yang bertentangan melebur menjadi suwung. Dalam tidur yang diberkati para leluhur, siang bisa tampak sebagai malam, malam bisa hadir sebagai siang, matahari tak matahari, bulan tak bulan, aku bisa tampak sebagai aku, kau terlihat sebagai aku. Dalam tidur yang tak dikhianati para danyang, raksasa hilang keraksasaannya, manusia hilang kemanusiaannya, dan segala mengabur dalam hakikat, dalam asal, dalam kesucian. Jadi, mengapa harus kaupercakapkan keksatriaan Kumbakarna ketika ia telah muksa, ketika ia telah hilang menjadi sesuatu yang melampaui badan dan kefanaannya?

Hanya, sayang, wahai Wibisana, adikku, kata Rahwana, kakak kita, dalam hidup siapa pun tidak boleh terlena menari terus-menerus dalam sihir mimpi. Rahwana bilang, ‘’Siapa pun yang tak ingin berguna bagi kerajaan, sebaiknya tidur saja dan mati dalam pertapaan yang agung di Palebur Gangsa. Siapa pun yang lebih mencintai diri sendiri makanlah sepuas-puasnya dan setelah mengantuk tidurlah tanpa memikirkan nasib kerajaan yang teramat kucinta.’’

Oo, aku yang tak ingin melihat kehancuran Alengka, tentu tetap memilih tidur sebagai jalan keksatriaan. Tapi, kau tahu bukan, pada saat balatentara Alengka kewalahan menghadapi Prabu Ramawijaya, Rahwana, kakanda agung kita bermuka sepuluh itu, mengutus Indrajit agar membangunkan aku dari tidur indah, dari samadiku yang agung.

Sebenarnya aku tak ingin bangun, Wibisana. Tapi karena aku pernah berjanji kepada Paman Prahasta, agar membangunkan aku ketika Alengka hendak rubuh akibat amuk pasukan musuh, kutinggalkan kegaiban mimpi, kutinggalkan alam yang memerdekakan aku dari kejahatan dunia.

Aku dalam lapar yang menyiksa, kemudian aku pun menghadap Rahwana. O, inilah kutuk dunia, adikku. Pada saat terjaga, aku senantiasa lapar dan ingin memangsa apa pun yang menjadi hak untuk kumangsa. Aku jadi punya hasrat. Aku jadi punya syahwat. Aku jadi punya kehendak. Aku jadi makhluk rakus yang siap melahap apa saja.

‘’Aku tahu kau sangat lapar, adikku. Sekarang makanlah apa pun yang kuhidangkan untukmu?’’ kata Rahwana.

Dengan nafsu yang meluap-luap, aku pun melahap segala yang dihidangkan Rahwana. Tapi, ketahuilah Wibisana, aku makan untuk bertahan hidup. Aku tak ingin makan yang tak ditakdirkan untuk kumakan. Aku tak makan segala yang hendak dimakan oleh makhluk lain. Karena itu kuhindari belenggu kekenyangan. Kuhindari keinginan untuk misalnya seperti Togog untuk nguntal jagad.

‘’Setelah kenyang, berperanglah demi aku, adikku!’’ perintah Rahwana menggelegar, ‘’Jangan menasihati aku untuk mundur atau berdamai dengan Rama.

Apakah aku tersinggung? Sama sekali tidak, Wibisana. Sudah kukatakan kepadamu, aku makan bukan untuk hasrat yang lain. Karena itu, kumuntahkan seluruh makanan pemberian Rahwana. Kumuntahkan dalam bentuk asli, kumuntahkan dalam bentuk sebelum makanan-makanan lezat itu berpindah ke perutku.

‘’Baiklah, Kakang, aku pamit berperang. Tetapi, camkanlah, aku berperang bukan demi Kakang. Juga bukan demi Aswani Kumba dan Kumba Aswani yang telah dibunuh oleh Anoman dan balatentara kera. Juga bukan untuk membalas kematian Paman Prahasta yang dihantam dengan tugu batu oleh Anila. Aku berperang demi…,’’

Sudahlah, Wibisana, kau tahu, pada akhirnya panah Rama menghabisiku. Tubuhku terpotong-potong dan nyawaku melesat ke pintu surga. Ke pintu surga? Ya, hanya di pintu surga. Perbuatanku yang di mata manusia dianggap indah tak bisa mengantarku memasuki alam keindahan yang telah dihuni oleh Prahasta. Puasaku, tidur indahku, ketakjubanku pada kejujuran dan perbuatan baikku, hanyalah semacam ular jantan yang dikendarai oleh arwahku menuju keilahian.

Aku tidak kecewa, Wibisana. Aku masih menunggumu di pintu surga. Kita akan mengetuk pintu ampunan Sang Pemilik Surga bersama-sama hingga Ia membukanya, hingga Ia membukanya.

Oleh Triyanto Triwikromo

Komentar
  1. oky mengatakan:

    terbitkan dalam bahasa jawa.

  2. qrt mengatakan:

    beautiful

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s