Simbolisme Pekeliran


Simbolisme Pekeliran

WAYANGAN bukan sekadar untuk berkesenian. Di balik kreasi dan greget pertunjukan wayang, terdapat nilai-nilai sosial dan kepentingan, yang tak jarang berkaitan dengan tata hidup kosmis dan magis. Pada saat acara bersih desa, cenderung memilih lakon seperti Babad Alas Wanamarta, tentu akan beda dari tanggapan oleh partai atau petinggi politik, yang cenderung mengusung lakon Tumuruning Wahyu Cakraningrat atau Makutharama. Atau jika ingin ingin memperlihatkan paduan heroik dan romantis, untuk wayang golek dengan lakon Bedhah Medhayin atau Wong Agung Jayengrana.

Wayang sebagai seni etnik, pada dasarnya terkait dengan adat yang menjadi landasan eksistensi yang utama bagi pertunjukkannya. Karena itu, titik tolak masyarakat melihat wayang bukan sekadar dari masalah keindahan. Wayang dianggap memiliki fungsi yang lebih kompleks. Keindahan secara fungsional menjadi alat pelengkap upacara dalam putaran waktu atau tingkat hidup seseorang, peringatan-peringatan, serta tradisi magis yang dikaitkan rasa harmoni dan ideal-ideal piwulang Jawa. Juga penonjolan fungsi hiburan dan kepentingan untuk solidaritas sosial, pengaruh politik dan lain-lain. Kemasan lakon dan apresiasi estetiknya yang berkaitan dengan alur dramatik dan perwatakan citra tokoh (protagonis) dalam lakon, merupakan simbolisme pergelaran yang begitu penting, untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui tanggapan wayang.

Orang Jawa sejak kecil selalu ‘’dikepung’’ oleh wayang, demikian istilah Umar Kayam. Pada waktu panen, bersih desa, waktu kaulan, perkawinan, kelahiran, ngruwat atau pun momentum-momentum lain seperti peringatan hari besar tertentu, umumnya diadakan tanggapan wayang. Meski berkali-kali orang nonton wayang, namun selalu tertarik untuk secara terus-menerus mengulangi. Karena apa? Pada waktu itu masyarakat tidak pernah memiliki banyak pilihan dalam kesenian. Substansi dari seni wayang itu bukan dilihat dari lakon atau tema yang telah dikenal, melainkan terletak pada imajinasi serta prosesnya yang tercermin dalam cekaman rasa, keunikan, dan ketrampilan teknis dari dalang, sinden dan pengrawit. Bahasa syair (cakepan, sulukan, lagu gendhing dan tembang), bahasa liris prosa (mantra-mantra), bahasa prosa atau gancaran (janturan, pocapan atau ginem tokoh wayang) dan ketrampilan seperti sabet atau ketajaman dalam sindiran, menjadi daya tarik penonton untuk selalu mendatangi pertunjukkan. Perjalanan waktu menempatkan wayang sebagai kesenian yang monopolistik, menjadi semacam penjaga nilai-nilai sosial, serta menjadi acuan atau referensi dari masyarakat.

Pada saat sekarang, wayang menghadapi kenyataan harus bersaing dengan pelbagai bentuk kesenian yang beraneka ragam, terutama seni kontemporer dan pola-pola cepak seperti organ tunggal. Belum lagi, kemarakan tayangan hiburan melalui media elektronik. Adapun persoalan pelik lain yang harus dihadapi pagelaran wayang: (a) kemerosotan kemampuan ekonomi masyararat yang berpengaruh terhadap tanggapan wayang; (b) perubahan nilai-nilai dan sikap hidup masyarakat, yang semakin berorientasi pada gaya hidup modern kekotaan; (c) penguatan orientasi pasar menyebabkan pakeliran lebih cenderung berkembang ke pola hiburan dibanding pendidikan ideal-ideal piwulang Jawa.

Meski kadang masyarakat masih nanggap, namun akhirnya sponsor utama pentas wayang, umumnya lembaga-lembaga pemerintahan, tokoh-tokoh politik, perusahan pesponsor kesenian, atau seniman itu sendiri. Biasanya pertunjukan wayang oleh mereka, dimaksudkan untuk menunjukkan prestise, kemegahan, dan kebesaran. Juga menjadi alat untuk menyampaikan pesan-pesan dan pendirian-pendirian politik atau kepentingan-kepentingan politik jangka pendek mereka.

Kenyatan seperti ini memang absah, dalam arti kesenian wayang memang tergantung pada penanggap. Dalam kenyataannya, pada aras atas pakeliran memang sarat akan pesan-pesan kekuasaan dan politik, karena dahulunya ia tumbuh sebagai bentuk kesenian yang dijadikan alat sosial dalam struktur masyarakat agraris di bawah patronase keraton-keraton.

Pendekatan pragmatis seperti ini, pada saat itu masih mungkin berlangsung karena didukung the total situation of work of art, yakni adanya sistem nilai kosmologi kejawen yang memang membentuk lakon, gezag dalang dan ketaatan penonton terhadap penguasa dan nilai-nilai feodal. Namun itu telah berubah. Penonton sebagai cerminan dari masyarakat yang majemuk, mereka memiliki nilai-nilai, pandangan dan pilihan-pilihan yang lebih bebas dan lebih beragam. Pesan-pesan dan kepentingan politik, dapat saja disosialisasikan melalui pakeliran. Tetapi pengaruhnya rendah. Kecuali jika berupa isu-isu sosial dan politik yang menggelitik dan ekspresif, yang berkaitan situasi aktual, atau tokoh yang dekat, dikenal, dikagumi atau dibenci oleh masyarakat itu sendiri. (MT Arifin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s