Tokoh-tokoh Pewayangan (Mahabharata 2)


MAHABHARATA

Gandabayu
PRABU GANDABAYU adalah raja negara Pancala. Konon ia masih keturunan Resi Suksrana, murid Resi Boma, nama samaran Bathara Bayu ketika menjadi raja di negara Medanggora. Prabu Gandabayu menikah dengan Dewi Gandarini, dan berputra dua orang bernama Dewi Gandawati dan Arya Gandamana.

Prabu Gandabayu berwatak gagah berani, teguh sentosa, bersahaja, pendiam, dan sakti. Ia memunyai hubungan yang sangat karib dengan Prabu Pandudewanata, raja negara Astina, sehingga Dewi Gandawati dikawinkan dengan Arya Sucitra, punggawa dan murid kesayangan Prabu Pandu Dewanata.

Prabu Gandabayu memerintah negara Pancala sampai mangkatnya. Karena penggantinya, putra mahkota Arya Gandamana tidak bersedia memegang kedudukan raja dan lebih senang menjabat Patih di negara Astina.

Gandamana
ARYA GANDAMANA adalah putra mahkota negara Pancala. Putra Prabu Gandabayu dengan permaisuri Dewi Gandarini. Ia memunyai kakak kandung bernama Dewi Gandawati. Arya Gandamana adalah kesatria yang tiada tandingannya. Ia tampan, gagah, tegap, pendiam, pemberani, kuat dan sakti, serta memiliki ilmu andalan aji Bandung Bandawasa dan Glagah Pangantol-atol.

Arya Gandamana pernah menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Penyakit itu baru sembuh setelah ia berikrar, mengucapkan sumpah tidak akan menjadi raja sesuai wangsit Dewata. Gandamana kemudian pergi mengabdikan ke negara Astina ke hadapan Prabu Pandu, dan diangkat menjadi patih negara Astina.

Jabatan itu dipegangnya sampai ia harus meninggalkan negara Astina karena pengkhianatan Sakuni (Sangkuning). Ketika ayahnya, Prabu Gandabayu meninggal, Gandamana tetap teguh dengan sumpahnya. Ia relakan haknya menjadi raja kepada kakak iparnya, Arya Sucitra, menjadi raja Pancala bergelar Prabu Drupada.

Menurut Mahabharata, Gandamana tewas dalam peperangan melawan Bima saat terjadi penyerbuan anak-anak Kurawa dan Pandawa ke negara Pancala atas perintah Resi Drona. Sedangkan menurut pedalangan, Gandamana tewas dalam peperangan melawan Bima saat ia melakukan pasanggiri/sayembara tanding dalam upaya mencarikan jodoh untuk Dewi Drupadi.

Gandari
DEWI GANDARI adalah putra Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini. Ia memunyai tiga orang saudara kandung, bernama: Arya Sakuni, Arya Surabasata, dan Arya Gajaksa.

Dewi Gandari menikah dengan Prabu Drestarasta, raja negara Astina, putra Prabu Kresna Dwipayana atau Bagawan Abiyasa dengan permaisuri Dewi Ambika. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh 100 (seratus) orang anak, yang pada waktu dilahirkannya berwujud gumpalan darah kental, yang oleh Dewi Gandari dicerai beraikan menjadi seratus potongan, dan atas kehendak Dewata menjelma menjadi bayi normal.

Keseratus putra Dewi Gandari tersebut dikenal dengan nama Sata Kurawa. Di antara mereka yang terkenal dalam pedalangan adalah: Duryudana (Raja Astina). Bogadatta, (Raja Turilaya), Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (Raja Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (Raja Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (Raja Purantara), dan Dewi Dursilawati (satu-satunya perempuan).

Dewi Gandari bersifat iri hati. Ia selalu mementingkan diri sendiri dan pendendam. Dendamnya terhadap Pandu, karena ia tak jadi diperistri oleh Pandu malah oleh kakak Pandu yaitu Drestarasta yang buta, menjadi penyebab utama kebencian anak-anaknya, Kurawa terhadap Pandawa. Ia mati terjun ke dalam pancaka/api pembakaran jenazah bersama Dewi Kunti dan Prabu Drestarasta setelah berakhirnya Perang Bharatayuda.

Gandawati
DEWI GANDAWATI adalah putri sulung Prabu Gandabayu, raja negara Pancala atau Pancalaradya (Jawa) dengan permaisuri Dewi Gandarini. Ia memunyai seorang adik kandung bernama Arya Gandamana yang menjadi patih negara Astina pada zaman pemerintahan Prabu Pandu.

Dewi Gandawati seorang putri cantik jelita, luhur budinya, bijaksana, sabar, teliti, serta setia. Ia sangat berbakti terhadap suaminya. Dewi Gandawati menikah dengan Arya Sucitra, putra Arya Sangara dari Hargajambangan yang telah lama mengabdi dan berguru pada Prabu Pandu di negara Astina. Sepeninggal Prabu Gandabayu, Arya Sucitra, suaminya naik tahta kerajaan Pancala, bergelar Prabu Drupada. Hal ini karena Gandamana menolak untuk dinobatkan menjadi raja.

Dari perkawinan tersebut Dewi Gandawati memeroleh tiga orang putra, bernama: 1. Dewi Drupadi atau Pancali (Mahabharata) yang kemudian menjadi istri Prabu Yudhistira, raja negara Amarta. 2. Dewi Srikandi, yang kemudian menjadi istri Arjuna, 3. Dretadyumna/Trustajumena, yang dalam Perang Bharatayuda berhasil membunuh Resi Drona.

Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Gandawati ikut belapati, terjun ke dalam pancaka (api pembakaran jenasah) Prabu Drupada, suaminya yang gugur di medan Bharatayuda melawan Resi Drona.

Garbanata
PRABU GARBANATA adalah raja negara Garbaruci. Ia masih keturunan Prabu Kalaruci, raja negara Karanggubarja, yang tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu saat menyerang Suralaya, karena ingin memperistri bidadari Dewi Wersini. Prabu Garbanata menikah dengan Dewi Danawati, putri Prabu Kalayaksa, raja negara Garbasumanda. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh seorang putri bernama Dewi Garbarini.

Terdorong oleh rasa dendam terhadap keluarga Mandura, Prabu Garbanata ingin merebut kembali negara Karanggubarja yang kini telah dikuasai oleh Prabu Setyajid/Arya Ugrasena dan berganti nama menjadi negara Lesanpura. Penyerangan besar-besaran pun dilakukan terhadap negara Lesanpura. Dalam penyerangan tersebut Prabu Garbanata kalah dalam peperangan melawan Arya Setyaki, putra Prabu Setyajid dengan Dewi Wersini, yang memiliki senjata gada Wesikuning peninggalan Arya  Singamulangjaya, senapati perang negara Dwarawati.

Perdamaian pun akhirnya dilakukan antara negara Garbaruci dengan Lesanpura. Untuk mengukuhkan tali persaudraan, Dewi Garbarini, putri Prabu Garbasumanda kemudian dijodohkan dengan Arya Setyaki.

Gardapati
GARDAPATI adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Ia termasuk salaj satu Kurawa bersaudara.

Gardapati berwatak keras hati, congkak, cerdik dan licik. Ia pandai dalam mempergunakan senjata gada dan lembing. Dengan kesaktiannya, ia berhasil merebut negara Bukasapta, dan mengangkat dirinya menjadi raja bergelar Prabu Gardapati. Adik kesayangannya, Gardapura, diangkat menjadi raja muda bergelar Prabu Anom Gardapura.

Saat berlangsung Perang Bharatayuda, Gardapati diangkat menjadi senapati perang Kurawa dengan senapati pendamping Prabu Wresaya, raja negara Glagahtinalang. Gardapati tewas dalam peperangan melawan Bima. Tubuhnya hancur dihantam gada Rujakpala.

Gardapura
GARDAPURA adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Ia merupakan salah seorang dari Kurawa bersaudara.

Gardapura bersifat sombong, keras kepala, cerdik, dan licik. Ia pandai dalam mempergunakan senjata gada dan panah. Gardapura sangat dekat hubungannya dengan Gardapati, kakaknya. Ketika Gardapati menjadi raja di negara Bukasapta, ia diangkat sebagai raja pendamping dengan gelar Prabu Anom Gardapura.

Saat berlangsung Perang Bharatayuda, Gardapura diangkat sebagai senapati pendamping, mendampingi Resi Drona yang berkedudukan sebagai Senapati utama. Ia tewas dalam peperangan melawan Bima. Kepalanya hancur dihantam gada Rujakpala.

Gareng
GARENG lazim disebut sebagai anak Semar dan masuk dalam golongan panakawan. Aslinya, Gareng bernama Bambang Sukskati, putra Resi Sukskadi dari padepokan Bluluktiba. Bertahun-tahun Bambang Sukskati bertapa di bukit Candala untuk mendapatkan kesaktian. Setelah selesai tapanya, ia kemudian minta izin pada ayahnya untuk pergi menaklukkan raja-raja.

Di tengah perjalanan Bambang Sukskati bertemu dengan Bambang Panyukilan, putra Bagawan Salantara dari padepokan Kembangsore. Karena sama-sama congkaknya dan sama-sama mempertahankan pendiriannya, terjadilah peperangan antara keduanya. Mereka memunyai kesaktian yang seimbang, sehingga tiada yang kalah dan menang. Mereka juga tak mau berhenti berkelahi walau tubuh mereka telah saling cacad tak karuan.

Perkelahian baru berakhir setelah dilerai oleh Semar alias Sang Hyang Ismaya. Karena sabda Sang Hyang Ismaya, berubahlah wujud keduanya menjadi sangat jelek. Tubuh Bambang Sukskati menjadi cacad. Matanya juling, hidung bulat bundar, tak berleher, perut gendut, kaki pincang, tangannya bengkok/tekle/ceko (Jawa). Oleh Sang Hyang Ismaya namanya diganti menjadi Nala Gareng, sedangkan Bambang Panyukilan menjadi Petruk.

Nala Gareng menikah dengan Dewi Sariwati, putri Prabu Sarawasesa dengan permaisuri Dewi Saradewati dari negara Salarengka, yang diperolehnya atas bantuan Resi Tritusta dari negara Purwaduksina. Nala Gareng berumur sangat panjang, ia hidup sampai zaman Madya.

Gatotkaca
GATOTKACA terkenal sebagai kesatria perkasa berotot kawat bertulang besi. Ia adalah anak Bima, ibunya Dewi Arimbi. Dalam pewayangan, Gatotkaca adalah seorang raja muda di Pringgadani, yang rakyatnya hampir seluruhnya terdiri atas bangsa raksasa. Negeri ini diwarisinya dari ibunya. Sebelum itu, kakak ibunya yang bernama Arimba, menjadi raja di negeri itu. Sebagai raja muda di Pringgadani, Gatotkaca banyak dibantu oleh patihnya, Brajamusti, adik Arimbi.

Begitu lahir di dunia, Gatotkaca telah membuat huru-hara. Tali pusarnya tidak dapat diputus. Berbagai macam pisau dan senjata tak mampu memotong tali pusar itu. Akhirnya keluarga Pandawa sepakat menugasi Arjuna mencari senjata ampuh untuk keperluan itu. Sementara itu para dewa pun tahu peristiwa itu. Untuk menolongnya Bhatara Guru mengutus Bhatara Narada turun ke bumi membawa senjata pemotong tali pusar Gatotkaca. Namun Bhatara Narada membuat kekeliruan. Senjata, yang bernama Kunta Wijayandanu, itu bukan diserahkan pada Arjuna, melainkan pada Karna yang wajah dan penampilannya mirip Arjuna. Untuk memeroleh senjata pemberian dewa itu Arjuna terpaksa mencoba merebutnya dari tangan Karna. Usahanya ini tak berhasil. Arjuna hanya dapat merebut sarung (warangka) senjata sakti itu. Sedangkan bilah senjata Kunta tetap dilarikan Karna. Untunglah ternyata sarung Kunta itu pun dapat digunakan memotong tali pusar Gatotkaca. Namun, begitu tali pusar itu putus, warangka Kunta langsung melesat masuk ke dalam pusar bayi itu.

Setelah tali pusarnya putus, atas izin Bima dan keluarga Pandawa lainnya, Gatotkaca dibawa Bhatara Narada ke Kahyangan untuk menghadapi Kala Sakipu dan Kala Pracona yang mengamuk. Mula-mula Bima dan Dewi Arimbi tidak merelakan anaknya yang baru lahir itu dibawa Narada. Namun, setelah dewa itu menjelaskan bahwa menurut ramalan para dewa, Kala Sakipu dan Kala Pracona memang hanya dikalahkan oleh bayi yang dinamakan Tutuka itu, Bima dan Arimbi mengizinkan.

Di kahyangan, bayi Tutuka langsung ditaruh di hadapan kedua raksasa sakti itu. Kala Sakipu langsung memungut bayi itu dan mengunyahnya, tetapi ternyata Tutuka bukan bayi biasa. Tubuhnya tetap utuh, walau raksasa itu mengunyah kuat-kuat. Karena kesal, bayi itu dibantingnya sekuat tenaga ke tanah. Tutuka pingsan.
Setelah ditinggal pergi kedua raksasa itu, bayi Tutuka diambil oleh Batara Narada, dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka. Di sini Gatotkaca digembleng oleh Empu Bhatara Anggajali. Setelah penggemblengan selesai, begitu muncul kembali dari Kawah Candradimuka, bayi itu sudah berubah ujud menjadi kesatria muda yang perkasa. Ia mengenakan caping Basunanda, penutup kepala gaib yang menyebabkannya tidak akan kehujanan dan tidak pula kepanasan, serta terompah Padakacarma yang jika digunakan menendang, musuhnya akan mati.

Para dewa lalu menyuruhnya berkelahi melawan balatentara raksasa pimpinan Prabu Kala Pracona dan Patih Kala Sakipu lagi. Gatotkaca ternyata sanggup menunaikan tugas itu dengan baik. Kala Pracona dan Kala Sakipu dapat dibunuhnya.

Dalam pewayangan Gatotkaca memunyai tiga orang istri. Istri pertamanya Dewi Pregiwa, anak Arjuna. Istrinya yang kedua Dewi Sumpani, dan yang ketiga Dewi Suryawati, putri Bhatara Surya. Dari perkawinan dengan Pergiwa, Gatotkaca mendapat seorang anak bernama Sasikirana. Dengan Dewi Sumpani ia memunyai anak bernama Arya Jayasumpena. Sedangkan Suryakaca adalah anaknya dari Dewi Suryawati.

Dalam Bharatayuda Gatotkaca diangkat menjadi senapati dan gugur pada hari ke-15 oleh senjata Kunta yang dilemparkan Karna. Senjata Kunta Wijayandanu itu melesat menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam warangkanya.

Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah tahu akan bahaya yang mengancam jiwanya. Karena itu ketika Karna melemparkan senjata Kunta, ia terbang amat tinggi. Namun senjata sakti itu terus saja memburunya, sehingga akhirnya Gatotkaca gugur. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Kurawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga yang hancur hanyalah kereta perangnya. Sebenarnya, sewaktu berhadapan dengan Gatotkaca, Adipati Karna enggan menggunakan senjata Kunta. Ia merencanakan hanya akan menggunakan senjata sakti itu bila nanti berhadapan dengan Arjuna. Namun ketika Prabu Duryudana menyaksikan betapa Gatotkaca telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan di pihak Kurawa, ia mendesak agar Karna menggunakan senjata pamungkas itu.

Akibatnya, sesudah Gatotkaca gugur, sebenarnya Karna sudah tidak lagi memiliki senjata sakti yang benar-benar dapat diandalkan. Sebagai raja muda Pringgadani, Gatotkaca bergelar Prabu Anom Kacanagara. Namun, gelar ini hampir tidak pernah disebut dalam pergelaran wayang. Nama lain Gatotkaca yang lebih terkenal adalah Tutuka, Guritna, Gurubaya, Purbaya, Bimasiwi, Krincingwesi, Arimbiatmaja, dan Bimaputra. Pada Wayang Golek Purwa Sunda, ada lagi nama alias Gatotkaca, yakni Kalananata, Kancingjaya, Trincingwesi, dan Mladangtengah. Gatotkaca amat sayang pada sepupunya, Abimanyu. Sewaktu Abimanyu hendak menikah dengan Siti Sundari, Gatotkaca banyak memberikan bantuannya.

Pengangkatan Gatotkaca sebagai penguasa Pringgadani sebenarnya tidak disetujui pamannya, Brajadenta.  Adik Dewi Arimbi ini menganggap dirinya lebih pantas menduduki jabatan itu, karena ia lelaki dan anak kandung Prabu Trembaka–raja Pringgadani terdahulu. Untuk berhasilnya pemberontakan yang dilakukannya Brajadenta minta dukungan Bhatari Durga dan Kurawa. Namun pemberontakan ini gagal karena Brajadenta ditentang adik-adiknya, terutama Brajamusti. Brajadenta akhirnya mati bersama-sama dengan Brajamusti, ketika mereka berperang tanding. Arwah Brajadenta akhirnya menyusup ke telapak tangan kanan Gatotkaca, sedang arwah Brajamusti di tangan kirinya. Dengan demikian kesaktian Gatotkaca makin bertambah.

Gatotkaca pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Ia sampai hati membunuh Kalabendana, hanya karena pamannya itu mengatakan pada Dewi Utari bahwa Abimanyu akan menikah lagi dengan Dewi Utari. Padahal Kalabendana adalah pengasuhnya sejak bayi, dan amat menyayangi Gatotkaca. Menjelang ajalnya, Kalabendana mengatakan bahwa ia tidak mau masuk ke surga bilamana tidak bersama-sama dengan Gatotkaca. Karena itu, ketika Gatotkaca menghindari senjata Kunta Wijayandanu dengan cara terbang setinggi-tingginya, arwah Kalabendana mendorong senjata sakti itu sehingga dapat mencapai pusar putra kesayangan Bima itu.

Menjelang Bharatayuda, Gatotkaca pernah bertindak kurang bijaksana. Ia mengumpulkan saudara-saudaranya, para putra Pandawa, untuk mengadakan latihan perang di Tegal Kurusetra. Tindakannya ini dilakukan tanpa izin dan pemberitahuan kepada para Pandawa. Baru saja latihan perang itu dimulai, datanglah utusan dari Kerajaan Astina yang dipimpin oleh Dursala, putra Dursasana, yang menuntut agar latihan perang itu segera dihentikan. Gatotkaca dan saudara-saudaranya menolak tuntutan itu. Maka terjadilah perang tanding antara Gatotkaca dengan Dursala. Pada perang tanding itu Gatotkaca terkena pukulan Aji Gineng yang dimilliki oleh Dursala, sehingga pingsan. Ia segera diamankan oleh saudara-saudaranya, para putra Pandawa. Di tempat yang aman Antareja menyembuhkannya dengan Tirta Amerta yang dimilikinya. Gatotkaca langsung pulih seperti sedia kala. Namun, ia sadar, bahwa kesaktiannya belum bisa mengimbangi Dursala. Selain malu, Gatotkaca saat itu juga tergugah untuk menambah ilmu dan kesaktiannya.

Ia lalu berguru pada Resi Seta, putra Prabu Matswapati dari Wirata. Dari Resi Seta putra Bima itu mendapatkan Aji Narantaka. Setelah menguasai ilmu sakti itu Gatotkaca segera pergi mencari Dursala. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan Dewi Sumpani, yang menyatakan keinginannya untuk diperistri. Gatotkaca menjawab, jika mampu menerima hantaman aji Narantaka, maka ia bersedia memperistri wanita cantik itu. Dewi Sumpani ternyata mampu menahan aji Narantaka. Sesuai janjinya, Gatotkaca lalu memperistri Dewi Sumpani. Dari perkawinan itu mereka kelak mendapat anak yang diberi nama Jayasumpena. Ada pun keinginan Gatotkaca untuk bertemu kembali dengan Dursala akhirnya terlaksana. Dalam pertempuran yang kedua kalinya ini, dengan aji Narantaka itu Gatotkaca mengalahkan Dursala.

Berbagai lakon yang melibatkan Gatotkaca:
1. Gatotkaca Lahir;
2. Pregiwa – Pregiwati;
3. Gatotkaca Sungging;
4. Gatotkaca Sewu;
5. Gatotkaca Rebutan Kikis;
6. Wahyu Senapati;
7. Brajadenta – Brajamusti;
8. Kalabendana Lena;
9. Gatotkaca Rante;
10. Sumbadra Larung;
11. Aji Narantaka;
12. Gatotkaca Gugur.

Meskipun Gatotkaca selalu dilukiskan gagah perkasa, tetapi pecinta wayang pada umumnya tidak menganggapnya memiliki kesaktian yang hebat. Dalam pewayangan, lawan-lawan Gatotkaca biasanya hanyalah raksasa-raksasa biasa, yakni Butaprepat, yang seringkali dibunuhnya dengan cara memuntir kepalanya. Dalam perang melawan raksasa, Gatotkaca selalu bahu membahu dengan Abimanyu. Gatotkaca menyambar dari udara, Abimanyu di darat. Lawan-lawan Gatotkaca yang cukup sakti hanyalah Prabu Kala Pracona, Patih Kala Sakipu, Boma Narakasura, dan Dursala.

Karena Dewi Arimbi sesungguhnya seorang raseksi (raksasa perempuan), maka dulu Gatotkaca dalam Wayang Kulit Purwa digambarkan berujud raksasa, lengkap dengan taringnya. Namun sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura, penampilan peraga wayang Gatotkaca dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa diubah menjadi kesatria tampan dan gagah, dengan wajah mirip Bima. Yang diambil sebagai pola adalah bentuk seni rupa wayang peraga Antareja tetapi diberi praba.

Nama Gatotkaca berarti rambut gelung bundar. Gatot artinya “sesuatu yang berbentuk bundar”, sedangkan kaca artinya “rambut”. Nama itu diberikan karena waktu lahir, anak Bima itu telah bergelung rambut bundar di atas kepalanya.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, tokoh Gatotkaca ditampilkan dalam enam wanda, yakni wanda Kilat, Tatit, Guntur, Panglawung, Gelap, dan Dukun. Pada tahun 1960-an Ir. Sukarno, Presiden RI, menambah lagi dengan tiga wanda ciptaannya, yakni Gatotkaca wanda Guntur Geni, Guntur Prahara, dan Guntur Samodra. Pelaksanaan pembuatan wayang Gatotkaca untuk ketiga wanda itu dilakukan oleh Ki Cerma Saweda dari Surakarta.

Mengenai soal wanda ini, ada sedikit perbedaan antara seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dengan gagrak Yogyakarta. Di Surakarta, wanda-wanda Gatotkaca adalah wanda Tatit yang diciptakan oleh raja Kartasura, Paku Buwana II (1655 Saka atau 1733 Masehi). Bentuk badannya tegap, mukanya tidak terlalu tunduk, bahu belakang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan bahu depan.

Wanda Kilat diciptakan pada zaman pemerintahan Paku Buwana I, yakni pada tahun 1627 Saka (1705 M). Kedudukan bahu depan dan bahu belakang rata, mukanya agak tunduk tetapi tidak setunduk pada wanda Tatit, pinggangnya lebih ramping dan posisinya agak maju, sehingga menampilkan kesan gagah. Wanda Gelap berkesan bentuk badan yang lebih kekar dan tegap, bahu belakang lebih tinggi dibandingkan dengan bahu depan, sedangkan mukanya lebih tunduk ke bawah dibandingkan dengan wanda Tatit. Kapan dan oleh siapa wanda ini diciptakan, tidak diketahui dengan jelas.

Gatotkaca wanda Gelap merupakan ciptaan keraton terakhir, yakni pada zaman pemerintahan Paku Buwana IV (1788 – 1820) di Surakarta. Badannya kekar dan kokoh, bahu belakang lebih tinggi dibandingkan bahu depan, dengan muka agak datar. Pinggangnya langsing seperti pada wanda Kilat.

Wanda Guntur, yang diciptakan pada tahun 1578 Saka (1656 M) merupakan wanda Gatotkaca yang tertua dalam bentuknya yang kita kenal sekarang ini. Dulu, sebelum diciptakan peraga Gatotkaca wanda Guntur, Wayang Kulit Purwa menggambarkan bentuk Gatotkaca sebagai raksasa, dengan tubuh besar, wajah raksasa, lengkap dengan taringnya. Dengan pertimbangan bahwa wajah seorang anak tentu tidak jauh beda dengan orang tuanya, Sunan Amangkurat Seda Tegal Arum, Raja Mataram, memerintahkan para penatah dan penyungging keraton untuk menciptakan bentuk baru peraga Gatotkaca dengan meninggalkan bentuk raksasa sama sekali.

Tubuh dan wajahnya dipantaskan sebagai anak Bima. Maka terciptalah bentuk baru Gatotkaca yang disebut wanda Guntur itu. Bentuk badan Gatotkaca wanda Guntur menampilkan kesan kokoh, kuat, dengan bahu depan lebih rendah daripada bagu belakang, seolah mencerminkan sifat andap asor. Wajahnya juga memandang ke bawah, tunduk. Pinggangnya tidak seramping pinggang Gatotkaca wanda Kilat. Secara keseluruhan bentuk tubuh wanda Guntur seolah condong ke depan.

Sementara itu, seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, membagi Gatotkaca atas empat wanda, yakni wanda Kutis yang biasanya dimainkan untuk adegan perang ampyak; wanda Prabu yang menampilkan kesan berwibawa, khusus ditampilkan pada kedudukan Gatotkaca sebagai raja di Pringgadani; wanda Paseban dipakai kalau Gatotkaca sedang menghadap para Pandawa; dan wanda Dukun dipakai jika Ki Dalang menampilkan adegan Gatotkaca sedang bertapa. Bentuk bagian perut Gatotkaca wanda Dukun ini, agak gendut dibandingkan ukuran perut Gatotkaca pada wanda-wanda lainnya.

Hangyanawati
DEWI HANGYANAWATI atau YADNYANAWATI adalah putri Prabu Narakasura, raja negara Surateleng dengan permaisuri Dewi Yadnyagini. Ia berwajah sangat cantik dan memiliki sifat: lembut, sederhana, baik budi, penuh belas kasih, dan teguh dalam pendirian. Dewi Hagnyanawati adalah titisan Bhatari Dermi, istri Bhatara Derma, yang menitis pada Raden Samba/Wisnubrata, putra Prabu Kresna dengan permaisuri Dewi Jembawati.

Setelah Prabu Narakasura tewas dalam peperangan di negara Dwarawati melawan Bambang Sitija, putra Prasbu Kresna dengan Dewi Pertiwi dan negara Surateleng, dikuasai Bambang Sitija. Dewi Hagnyanawati sendiri diperistri oleh Bambang Sitija yang setelah menjadi raja negara Surateleng dan Prajatisa bergelar Prabu Bomanarakasuira. Dari perkawinan ini ia memeroleh seorang putra: Arya Watubaji. Sesuai dengan ketentuan dewata, karena tiba saatnya titis Bhatari Dermi harus bersatu kembali dengan titis Bhatara Derma, suaminya, dengan bantuan Dewi Wilutama, Dewi Hagnyanawati dipertemukan dengan Raden Samba, di keputrian negera Surateleng. Setelah ada kesepakatan, mereka kemudian meninggalkan keputrian Surateleng pergi ke negara Dwarawati.

Perbuatan Dewi Hangnyawati dan Raden Samba ini membangkitkan kemarahan Prabu  Bomanarakasura, yang segera menyerang negara Dwarawati untuk merebut kembali Dewi Hangnyanawati istrinya. Prabu Bomanarakasura tewas dalam peperangan melawan Prabu Kresna, ayahnya sendiri. Dewi Hagnyanawati kemudian menjadi istri Raden Samba, sesuai dengan takdir dewata.

Diceritakan, Dewi Hagnyanawati mati bunuh diri terjun ke dalam pancaka (api pembakaran jenazah) bela mati atas kematian Raden Samba yang tewas dalam peristiwa perang gada sesama Wangsa Yadawa

Irawan
BAMBANG IRAWAN adalah putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Ulupi, putri Bagawan Kanwa (Bagawan Jayawilapa: Jawa), dari pertapaan Yasarata. Ia memunyai 13 orang saudara lain ibu, yakni: Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabukusuma, Wijanarka, Antakadena, dan Bambang Sumbada.

Irawan lahir di pertapaan Yasarata dan sejak kecil tinggal di pertapaan bersama ibu dan kakeknya. Ia berwatak tenang, jatmika, tekun, dan wingit. Menurut kisah pedalangan Irawan tewas dalam peperangan melawan Ditya Kalasrenggi putra Prabu Jatagempol dengan Dewi Jatagini dari negara Gowabarong, menjelang pecah Bharatayuda. Menurut Mahabharata, Irawan gugur dalam awal Perang Bharatayuda melawan Ditya Kalaseringgi, raja negara Gowabarong yang berperang di pihak Kurawa/Astina.

Jahnawi
Dewi JAHNAWI atau Dewi GANGGA (Mahabharata) adalah seorang hapsari/bidadari yang turun ke Arcapada karena kutukan Bhatara Brahma. Ia ditetapkan akan bersuamikan Bhatara Mahabhima yang karena kutukan Bhatara Brahma akan menjelma menjadi putra Prabu Pratipa, raja negara Astina.

Dewi Jahnawi menikah dengan Prabu Santanu, putra Prabu Pratipa dari negara Astina dengan permaisuri Dewi Sumanda. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh delapan orang putra, tetapi hanya seorang yang ia kehendaki hidup dan diberi nama Dewabrata (kelak lebih dikenal sebagai Resi Bisma). Sedangkan tujuh putranya yang lain begitu lahir ia buang ke Sungai Gangga.

Sesuai perjanjiannya dengan Prabu Santanu, begitu kelahiran Dewabrata, Dewi Jahnawi kembali ke kahyangan hidup sebagai hapsari/bidadari. Bayi Dewabrata ia serahkan pada asuhan Prabu Santanu.

Jarameya dan Jurangmeya
JARAMEYA dan JURANGMEYA adalah makhluk siluman berwujud raksasa kembar di hutan Krendayana.  Mereka bertugas atas perintah Bhatari Durga, raja siluman yang bertakhta di Kahyangan Setragandamayit. Tugas yang utama Jarameya dan Jurangmeya adalah mengganggu para kesatria yang sedang bertapa.

Sebagi makhluk siluman Jarameya dan Jurangmeya sangat sakti. Sesuai dengan kodratnya, ia hanya bisa disakiti, dikalahkan, tetapi tidak bisa mati. Karena itu Jarameya dan Jurangmeya selalu saja muncul dan menganggu para pertapa.

Jarasanda
PRABU JARASANDA adalah raja negara Magada. Ia masih keturunan Prabu Darmawisesa, raja raksasa dari negara Widarba. Karenanya berbadan tinggi besar, gagah, perkasa dan berwajah setengah raksasa. Prabu Jarasanda berwatak angkara murka, ingin menang sendiri, penganiaya, bengis, keras hati, serta selalu menurutkan kata hati. Ia sangat sakti, dengan dukungan sahabat karibnya yang juga sekutunya, Prabu Supala raja negara Kadi, Prabu Jarasanda berkeinginan menjadi raja besar yang menguasai jagad raya.

Untuk memenuhi ambisinya, Prabu Jarasanda bermaksud menyelenggarakan persembahan darah seratus orang raja kepada Bhatari Durga. Karena niat jahatnya itu bertentangan dengan kodrat hidup dan dapat merusak ketenteraman jagad raya, maka ia harus berhadapan dengan Bhatara Wisnu. Prabu Jarasanda akhirnya tewas dalam pertempuran melawan Bima/Werkudara. Tubuhnya hancur terkena hantaman gada Rujakpala.

Jatagempol
PRABU JATAGEMPOL adalah raja raksasa di negara Guwabarong. Ia masih keturunan Prabu Kalasasradewa, raja raksasa di negara Guwamiring yang tewas dalam pertempuran melawan Prabu Pandu. Karena ia dan prajuritnya menyerang negara Mandura untuk merebut Dewi Arumbini, istri Arya Prabu Rukma.

Karena ketekunannya bertapa, Prabu Jatagempol menjadi sangat sakti, berwatak angkara murka, bengis dan selalu ingin menang sendiri. Prabu Jatagenpol menikah dengan Dewi Jatagini, dan memunyai seorang anak bernama Kalasrenggi.

Untuk membalas dendam kematian Prabu Kalasasradewa, ayahnya, Prabu Jatagempol menyerang negara Amarta. Ia ingin membinasakan keluarga Pandawa yang merupakan keturunan Prabu Pandu. Prabu Jatagempol tewas dalam pertempuran melawan Arjuna. Tubuhnya hancur terkena panah Kiai Sarotama.

Jayadrata
Arya JAYADRATA nama sesungguhnya adalah Arya Tirtanata atau Bambang Sagara. Ia putra angkat Resi Sapwani/Sempani dari padepokan Kalingga, yang tercipta dari bungkus Bima/Werkudara. Arya Tirtanata kemudian dinobatkan sebagai raja negara Sindu, dan bergelar Prabu Sinduraja.

Karena ingin memperdalam pengetahuannya dalam bidang tata pemerintahan dan tata kenegaraan, Prabu Sinduraja pergi ke negara Astina untuk berguru pada Prabu Pandu Dewanata. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri, ia menukar namanya dengan nama patihnya, Jayadrata. Di negara Astina Jayadrata bertemu dengan keluarga Kurawa, dan akhirnya diambil menantu Prabu Drestarasta, dikawinkan dengan Dewi Dursilawati (bungsu Kurawa) dan diangkat sebagai Adipati Buanakeling. Dari perkawinan tersebut ia memeroleh dua orang putra bernama Arya Wirata dan Arya Surata.

Jayadrata mempunyai sifat perwatakan berani, penuh kesungguhan, dan setia. Ia mahir mempergunakan panah dan sangat ahli bermain gada. Oleh Resi Sapwani ia diberi pusaka gada bernama Kiai Glinggang. Jayadrata tewas oleh Arjuna di medan Bharatayuda sebagai senapati perang Kurawa. Kepalanya terpangkas lepas dari badannya oleh panah sakti Pasopati.

Jayamurcita

PRABU JAYAMURCITA adalah raja negara Plangkawati. Ia memunyai adik kandung benrama Jayasemadi yang menjabat patih nagera Plangkawati. Mereka masih keturunan Prabu Kumbala, raja negara Madukara (lama).

Merasa sangat sakti, Prabu Jayamurcita, mengutus adiknya, Patih Jayasemedi pergi ke negara Madukara untuk melamar Dewi Sumbadra, istri Arjuna. Perbuatannya yang lancang tersebut menimbulkan kemarahan Abimanyu, putra tunggal Dewi Sumbadra dengan Arjuna. Dengan bantuan saudara sepupunya, Raden Gatotkaca, raja negara Pringgandani, Abimanyu menyerang negara Plangklawati. Patih Jayasemedi tewas dalam peperangan melawan Gatotkaca, sedangkan Prabu Jayamurcita tewas oleh Abimanyu oleh tusukan keris Pulanggeni.

Sebelum menemui ajalnya, Prabu Jayamurcita menyerahkan kekuasaan negara Plangkawati beserta gelar keprabuannya dan seluruh balatentaranya kepada Abimanyu. Prabu Jayamurcita kemudian mati moksa, sukmanya manunggal dalam tubuh Abimanyu.

Jayasupena
Arya JAYASUPENA atau JAYASUMPENA adalah putra Gatotkaca, raja negara Pringgandani dengan Dewi Sumpani, putri Prabu Sarawisesa dari negara Selarengka. Ia memunyai dua orang saudara seayah lain ibu, bernama: Bambang Sasikirana (putra Dewi Pregiwa) dan Arya Suryakaca (putra Dewi Suryawati, putri Bathara Surya dengan permaisuri Dewi Ngruni).

Arya Jayasupena tidak ikut terjun ke kancah Bharatayuda, karena ketika perang berlangsung ia masih kecil. Ia berperawakan mirip dengan ayahnya, Gatotkaca. Demikian pula dengan tabiat, kesetiaan, keberanian, dan kegagahannya tak berbeda dengan Gatotkaca: berani, teguh, tangguh, cerdik pandai, waspada, gesit, tangkas dan terampil, tabah, dan memunyai rasa tanggung jawab yang besar. Perbedaannya, Jayasupena tidak bisa terbang.

Setelah berakhir Perang Bharatayuda dan negara Astina kembali ke dalam kekuasaan Pandawa, Arya Jayasupena diangkat menjadi panglima perang negara Astina dalam masa pemerintahan Prabu Parikesit, anak Abimanyu.

Jembawati
DEWI JEMBAWATI adalah putri tunggal Resi Jembawan (berwujud kera/wanara) dari pertapaan Gadamadana, dengan Dewi Trijata, putri Gunawan Wibisana dengan Dewi Triwati (seorang hapsari/bidadari) dari negara Alengka/Singgela.

Sesuai janji dewata kepada Dewi Trijata, ibunya, Dewi Jembawati dapat bersuamikan Prabu Kresna, raja negara Dwarawati, titisan terakhir Sang Hyang Wisnu. Dari perkawinan tersebut, ia memeroleh dua orang putra bernama: Samba, yang berwajah sangat tampan, dan Gunadewa, berwujud sebagai kera, karena garis keturunan dari Resi Jembawan.

Dewi Jembawati berwatak jujur, setia, sabar, sangat berbakti, dan penuh belas kasih. Selama menjadi permaisuri Prabu Kresna, ia lebih sering tinggal di pertapaan Gadamadana mengasuh Gunadewa, daripada tinggal di istana Dwarawati. Ia meninggal dalam usia lanjut dan dimakamkan di pertapaan Gadamadana.

Jungkungmadeya
PRABU JUNGKUNGMADEYA adalah raja negara Awu-awulangit. Tokoh Jungkungmardeya hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa dan dimunculkan dalam lakon cocogan. Prabu Jungkungmardeya sangat sakti, selain memiliki aji Sirep juga dapat beralih rupa.

Prabu Jungkungmardeya bercita-cita ingin memperistri Dewi Srikandi, putri kedua Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari negara Pancala. Ketika lamarannya ditolak, dengan beralih rupa menjadi Arya Drestadyumna (adik Dewi Srikandi) palsu dan berhasil memasuki keputrian Pancala dan menculik Dewi Srikandi. Drestadyumna yang mengetahui perbuatannya, berusaha merebut Dewi Srikandi dari tangan Prabu Jungkungmardeya, tapi akhirnya tewas terbunuh dalam peperangan.

Untuk membebaskan Dewi Srikandi, Prabu Drupada kemudian meminta bantuan keluarga Pandawa. Karena mati sebelum takdir, Drestadyumna dapat dihidupkan kembali oleh Prabu Kresna, raja negara Dwarawati, berkat kesaktian bunga Wjayakusuma. Arjuna yang mengejar ke negara Awu-awulangit berhasil menemukan Dewi Srikandi. Prabu Jungkungmardeya akhirnya tewas dalam peperangan melawan Arjuna dengan panah Pasopati.

Kalabendana
ARYA KALABENDANA adalah putra bungsu Prabu Arimbaka raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia memunyai tujuh orang saudara kandung, bernama: Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Brajadenta, Prabkesa, Brajamusti, Brajalamatan, dan Brajawikalpa.

Kalabendana bersifat: jujur, setia, suka berterus terang dan tidak bisa menyimpan rahasia. Kalabendana meninggal karena pukulan/tamparan Gatotkaca yang tidak sengaja membunuhnya. Tamparan Gatotkaca ke kepala Kalabendana hanya bermaksud menghentikan teriakan Kalabendana yang membuka rahasia perkawinan Abimanyu dengan Siti Sundari (putri Prabu Kresna dengan Dewi Pratiwi) tatkala Abimanyu akan menikah dengan Dewi Utari (putri bungsu Prabu Matswapati dengan Dewi Ni Yutisnawati) dari Wirata.

Dendam Kalabendana terhadap Gatotkaca terlampiaskan saat berlangsung Perang Bharatayuda. Arwahnya mengantar/menuntun senjata Kunta yang dilepas Adipati Karna, Raja Awangga, tepat menghujam masuk ke dalam pusar Gatotkaca yang mengakibatkan kematiannya.

Kalakatung
KALAKATUNG atau sering pula disebut dengan BUTATERONG adalah raksasa hutan. Ia bertubuh gemuk pendek, kepala gundul, dan berhidung besar bulat seperti terong. Dalam cerita pedalangan, Kalakatung biasa ditampilkan sebagai anak buah Cakil atau Yayahgriwa.

Kalakatung biasanya berpenampilan lucu karerna suaranya yang bindeng (memiliki suara hidung yang setengah tersendat). Daya berpikirnya lambat, namun memiliki gerakan yang cekatan. Karena pembawaannya yang agak tolol ini, maka ia selalu menjadi bahan ejekan para panakawan. Dalam peperangan, Kalakatung biasanya mati oleh Gareng atau Petruk.

Kalaruci
PRABU KALARUCI adalah raja raksasa negara Karanggubarja. Ia masih keturnan Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala dengan Dewi Pramuni dari kahyangan Setragandamayit. Prabu Kalaruci mempunyai saudara kandung bernama Kalayaksadewa yang menjadi raja di negara Gowamiring.

Merasa sangat sakti, Pabu Kalaruci datang ke Suralaya untuk meminang Dewi Wersini, seorang bidadari keturunan Sang Hyang Pancaresi, yang waktu itu telah diperjodohkan dengan Arya Ugrasena, putra keempat Prabu Basukunti, dari negara Mandura. Arya Ugrasena yang didatangan ke Suralaya, ternyata tak mampu mengalahkan Prabu Kalaruci.

Bhatara Guru kemudian mengutus Bhatara Narada turun ke Arcapada untuk meminta bantuan Prabu Pandu, raka negara Astina, yang juga kakak ipar Ugrasena (Pandu menikah dengan Dewi Kunti, kakak Arya Ugrasena). Pandu kemudian pergi ke Suralaya dengan mengerahkan pasukan Astina di bawah pimpinan Patih Gandamana dan Arya Sucitra. Dalam peperangan tersebut, Prabu Kalaruci dapat dibinasakan oleh Pandu. Dewi Wersini dan negara Karanggubarja kemudian disertahkan kepada Arya Ugrasena.

Kalasasradewa
Prabu KALASASRADEWA adalah raja raksasa negara Guwamiring. Ia mamunyai dua saudara kandung, bernama; Prabu Kalarodra raja di negara Girikadasar dan Prabu Kalayaksa yang menjadi di negara Garbasumanda. Mereka masih keturunan Bhatara Kalagotama, putra Bhatara Kala dengan Dewi Pramuni dari Kahyangan Setragandamayit.

Sebagai keturunan Dewi Pramuni/Bhatari Durga, Prabu Kalasasradewa sangat sakti. Ia berwatak angkara murka, serakah, tinggi hati, dan mau menang sendiri. Ia pernah menyerang negara Kumbina untuk dapat memperistri Dewi Rumbini, putri Prabu Rumbaka, yang sudah dipertunangkan dengan Arya Prabu Rukma, putra ketiga Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Peperangan pun tidak dapat dihindarkan antara Mandura melawan Gowamiring. Dalam peperangan tersebut semua putra-putra Mandura, seperti Arya Prabu Rukma, Arya Ugrasena, juga Prabu Basudewa tidak dapat mengalahkan Prabu Kalasasradewa.

Prabu Basudewa kemudian meminta bantuan Prabu Pandu, raja negara Astina, suami dari Dewi Kunti (adik Prabu Basudewa). Prabu Kalasasradewa akhirnya tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu.

Kalayasa
PRABU KALAYAKSA adalah raja raksasa negara Garbasumanda. Ia mempunyai dua saudara kandung masing-masing bernama; Prabu Kalarodra raja nergara Girikadasar dan Prabu Kalasasradewa yang menjadi raja di negara Guwamiring. Mareka masih keturunan Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala dengan Dewi Pramuni/Bathari Durga dari Kahyangan Setragandamayit.

Prabu Kalayaksa memiliki watak: bengis, kejam, serakah, suka menurutkan kata hati, mau menang sendiri, pemberani, dan sangat sakti. Prabu Kalayaksa nenjadi seteru negara Mandura, sejak jaman pemerintahan Prabu Baskunti. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan angkatan perannya, Prabu Kalayaksa menyerang negara Mandura. Selain ingin merebut Dewi Badrahini, istri Prabu Basudewa, juga untuk membalas dendam atas kematian saudaranya, Prabu Kalasasradewa yang tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu di negara Mandura.

Prabu Kalayaksa berhasil menguasai sebagian wilayah negara Mandura, bahkan nyaris menguasai Kerajaan Mandura, karena tidak satupun putra-putra Mandura yang berthasil menandingi kesaktiannya. Tapi akhirnya Prabu Kalayaksa mengalami nasib yang sama seperti Prabu Kalasasradewa. Ia tewas dalam pertempuran melawan Prabu Pandu, raja negara Astina. Kematian Prabu Kalayaksa bertepatan dengan kelahiran Raden Arjuna atau Permadi, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti.

Kangsa
KANGSA, sering disebut KANGSADEWA sesungguhnya putra Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang beralih rupa menjadi Prabu Basudewa dan berhasil bermain asmara dengan Dewi Mahira/ (Jawa: Maerah), permaisuri Prabu Basudewa, raja Mandura. Ia lahir di negara Bombawirayang, dan sejak kecil hidup dalam asuhan Ditya Suratrimantra, adik Prabu Gorawangsa.

Setelah remaja, oleh Suratrimantra, Kangsa dibawa ke negara Mandura untuk menuntut haknya sebagai putra Prabu Basudewa. Karena sangat sakti, Prabu Basudewa akkhirnya bersedia mengakui Kangsa sebagi putranya dan diberi kedudukan adipati di Kesatrian Sengkapura. Kangsa berwatak angkara murka, ingin menang sendiri, pengkhianat, keras hati, dan selalu menurutkan kata hati.

Dengan dukungan Suratimantra, pamannya yang sakti, Kangsa berniat merebut takhta kekuasaan negara Mandura dari tangan Prabu Basudewa. Pemberontakan Kangsa gagal. Ia mati terbunuh dalam peperangan melawan Kakrasana dan Narayana, putra Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Mahendra. Sedangkan Suratimatra tewas melawan Bima/Werkudara, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti.

Referensi:

Rajagopalachari. 2008. Mahabharata: Sebuah Roman Epik Pencerahan Jiwa Manusia.Jogjakarta. IRCiSoD.

Komentar
  1. sumarso mengatakan:

    waduuh, bagus dan lugas cerita wayangnya. ceritanya sesuai pakem . BAGUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s