Paguyuban yang eksis di Yogyakarta


16 Paguyuban Kepercayaan Kejawen Masih Eksis di Yogya

DIY memiliki banyak paguyuban kebatinan. Sedikitnya diketahui 16 paguyuban penghayatan kejawen di Yogyakarta yang masih menjalankan nilai-nilai kejawen seperti mengucapkan mantra, semedi, larungan, sesaji. Salah satu di antaranya adalah paguyuban Sumarah Purbo, Paguyuban Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Paguyuban Tris Soka, Paguyuban Sumarah Purbo, dan Paguyuban Sapta Darma. 

Berdarakan hasil penelitian, beberapa alasan para pengikut kepercayaan kejawem masih mempertahankan keyakinannya karena ingin mengaktualisasikan budi luhur dan budi pekerti untuk menjadi manusia utama guna mencapai ketenteraman hidup.

Langkah yang ditempuh dengan cara membangun ruang dan suasana hidup kebatinan Jawa, meyakini dan mempertahankan pandangan hidup kejawen sebagai pedoman aktualisasi budi luhur.

“Budi lulur dipahami sebagai budaya ideal dan budi pekerti sebagai pedoman pekerti yang dipertahankan dan dikreasi menjadi doktrin,” kata Drs Suwardi MHum dalam ujian promosi untuk memperoleh gelar doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Suwardi yang kini menjadi staf pengajar pendidikan Bahasa Jawa UNY itu mengatakan, sebagian para pengikut kejawen tersebut mempertahankan budi luhur dan budi pekerti meski mereka telah memeluk agama tertentu.

Namun ada juga para penghayat kejawen yang tetap enggan memeluk agama. “Mereka merasa damai, nyaman dan tidak gelisah mengikuti kepercayaan kejawen ini,” ungkap pria kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta 1964 itu.

Dalam paguyuban kejawen, budi luhur dianggap lebih sakti untuk melawan kegelisahan batin, melawan agamaisasi dan menjanjikan keselamatan kosmologis hingga kelak dapat meraih manunggaling kawula-Gusti. Bahkan dalam hidup bermasyarakat diaktualisasikan dengan sikap toleransi, ”tepa selira”, ikhlas dan mengedepankan watak moral ”sepi ing pamrih.”

Suwardi menyampaikan, gerakan penghayat kepercayaan memang bukan aliran sesat melainkan sebuah tradisi budaya yang luhur yang dapat dijadikan tauladan dalam kehidupan bermasyarakat.

 “Ini adalah gerakan budaya spiritual, mau dinamakan agama atau bukan, itu terserah yang memberikan atribut. Yang jelas, mereka bukan atheis, tidak menyembah kayu dan ”watu”, melainkan menyembah Tuhan,” katanya. (P12)

(Bambang Unjianto/CN26)

Komentar
  1. agung mengatakan:

    pak mohon info alamat dan telpon paguyuban rebo wae,matur nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s