Wayang Suket


Menyelamatkan Wayang Suket

  • Oleh Muhammad Aminudin

KREATIVITAS memang tak ada batasnya. Setidaknya hal ini dibuktikan oleh Mbah Gepuk, pencipta wayang suket (wayang rumput) asal Purbalingga. Kendati wayang mengenal pakem atau aturan baku, di tangan Mbah Gepuk ternyata ada wilayah lain yang bisa menjadi arena kreatif, yaitu wilayah materi (media).

Dalam penciptaan karya seni rupa, pemanfaatan materi apapun adalah sah. Tinggal bagaimana cara mengantarkan materi tersebut agar mewujud menjadi karya seni.  Mbah Gepuk memiliki kemampuan tersebut. Dia mampu mengantarkan rumput kasuran mewujud menjadi wayang. Tentu saja, proses kreatifnya ditunjang oleh pemahaman yang mendalam tentang dunia wayang.
Sesuai dengan nama penciptanya, wayang suket dinamai juga wayang gepuk. Kosakata wayang gepuk itu menjadi pembeda dengan wayang suket lainnya, yang jauh dari karakter wayang.

Adalah Masíut, pemerhati budaya asal Banyumas, yang pertama kali mengenalkan wayang suket kepada publik. Ketika itu, usia Mbah Gepuk sudah terlalu udzur. Beruntung Bodrianto (Bodri), salah seorang cucunya, muncul mewarisi keterampilannya. Lelaki kelahiran tahun 1982 ini termotivasi oleh mendiang kakeknya yang ulet.

Bagi Bodri, wayang suket menjadi berkah finansial. Sebilah wayang dihargai sekitar Rp 100.000 hingga Rp 400.000. Sah-sah saja jika ia menjual karyanya. Sebab, pada kenyataannya, karya seni pun bisa bernilai komersial.

Meskipun pemahaman Bodri tentang dunia wayang tidak sedalam kakeknya, setidaknya ada harapan untuk menyelamatkan wayang suket dari kepunahan. Dia menyadari akan kelangkaan generasi pewaris wayang suket. Oleh karena itu, ia senang jika ada yang mau belajar. Sayangnya, belum banyak yang serius mau belajar. Bodri berharap, kelak wayang suket tidak hanya menjadi milik personal, tetapi juga menjadi milik bersama, warisan budaya bangsa.

Terancam Punah

Ketika suatu budaya mengalami kelangkaan generasi pewaris, berarti budaya tersebut dalam ancaman kepunahan. Proses pewarisan atau inkulturasi merupakan faktor determinan bertahannya suatu kebudayaan. Maka kasus kelangkaan pewaris wayang suket jangan dianggap remeh. Harus ada langkah konkret untuk menyelamatkan eksistensi wayang suket.

Menurut penulis, ada tiga hal yang dapat dilakukan. Pertama, keterbukaan Bodri untuk berbagi ilmu merupakan peluang untuk menyelamatkan wayang suket dari ancaman kepunahan, melalui pelatihan-pelatihan yang terprogram.
 
Pelatihan ini menjadi wahana bagi para pecinta wayang suket untuk belajar dan berlatih menciptakan wayang suket. Tentu saja prinsip simbiosis mutualisme harus dipertimbangkan. Artinya, harus ada kompensasi yang layak untuk Bodri selaku pelatihnya.

Kedua, seperti halnya wayang kulit, wayang suket juga memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Pementasan tersebut dapat memanfaatkan momen-momen tertentu, misalnya peringatan HUT Kemerdekaan RI. Sebab pada saat-saat itulah di pusat kota maupun di kecamatan diselenggarakan tasyakuran dan hiburan, termasuk pementasan wayang. Melalui pementasan ini, eksistensi wayang suket dapat terus terjaga, seperti halnya wayang kulit yang masih bertahan.

Ketiga, pendidikan formal atau sekolah tidak kalah pentingnya. Institusi ini bertugas menyemai dan mengembangkan nilai-nilai budaya. Kurikulum KTSP yang berlaku di sekolah sangat fleksibel, sehingga sangat memungkinkan untuk mengakomodasi wayang suket sebagai materi kontekstual dalam pelajaran Seni Budaya. Upaya ini perlu didukung oleh semua pihak, terutama pihak sekolah.

Penulis selaku guru pelajaran Seni Budaya di sekolah terdekat, telah berupaya ke arah itu. Setidaknya mengajak siswa-siswi untuk mengobservasi, dan menyaksikan secara langsung proses pembuatan wayang suket. Para siswa juga mengakui, melalui kegiatan tersebut, mereka menemukan pengetahuan baru tentang dimensi wayang.

Upaya untuk membuatan dan mengembangkan wayang suket juga perlu dilakukan. Namun karena adanya keterbatasan, maka upaya tersebut masih jauh dari kenyataan. Tampaknya perlu perhatian, dukungan nyata, serta keikhlasan dan niat dari semua pihak untuk bersama-sama menyelamatkan wayang suket. Meminjam istilah Masíut, menjadi ‘’dosa kebudayaan’’ kalau kita membiarkan wayang suket lenyap ditelan waktu, atau mungkin diserobot oleh bengsa lain. Semoga tidak terjadi! (32)

– Muhammad Aminudin MPd, guru seni budaya SMA Negeri 1 Rembang, Kabupaten Purbalingga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s